Semangat Kemanusiaan Tanpa Membedakan – Caritas Indonesia – KARINA

Semangat Kemanusiaan Tanpa Membedakan

22/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaPagi itu (13/1), sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Ternyata pesan dari seorang teman jurnalis The Jakarta Post biro Yogyakarta. Slamet Susanto, begitu namanya. Ia hanya mengkonfirmasi ulang undangan Caritas Indonesia (Karina) untuk site visit bersama-sama teman media di lereng barat Merapi. Hari itu memang rencananya saya akan menemani beberapa teman wartawan berjalan-jalan ke beberapa area yang sudah direspon Karina di lereng Merapi. Sekaligus mempertemukan teman-teman wartawan dengan orang-orang yang berperan sebagai narasumber. Mereka tidak hanya dari Karina, ada pula dari Paroki, organisasi kemanusiaan, dan komunitas lain.

Teman-teman jurnalis yang datang tidak hanya Slamet Susanto dan Bernada Rurit (Tempo) yang berasal dari Yogyakarta. Tiga lainnya berasal dari Magelang, diantaranya: Bagyo Harsono (Kedaulatan Rakyat), Hari Atmoko (Kantor Berita Antara), dan Rury (Kompas).

Ada banyak hal menarik mengenai Karina dan responnya terhadap penyintas Merapi kali ini. Dalam melakukan pekerjaannya, Karina tidak sendirian. Karina melakukan kerjasamanya dengan berbagai pihak, diantaranya: Nahdatul Ulama dan Komunitas Tlatah Bocah.

Hadir sebagai narasumber: Methodius Kusumahadi (direktur Karina KAS), Maryono, PR (Paroki Sumber), Harsoyo (Ketua PWNU DIY), Sihab (Pusat Studi Asia Pasifik), dan Gunawan Julianto (Komunitas Tlatah Bocah). Berbagai macam isu diperbicangkan oleh para narasumber di Pasturan Sanjaya, Sumber, Magelang. Mulai dari kerjasama psikososial pada anak-anak penyintas yang dilakukan Karina dengan Komunitas Tlatah Bocah hingga kerjasama kemanusiaan dengan NU. ‘Ini merupakan kerjasama lintas agama atas nama kemanusiaan,’ tutur Harsoyo.

Teman-teman media begitu bersemangat dengan aktivitas kemanusiaan yang dilakukan Karina tanpa memandang agama. ‘Gagasan kerjasama ini menjadi angin segar di tengah carut marutnya isu antar umat beragama,’ kata Rurit dengan antusias. Aktivitas kemanusiaan tanpa membedakan agama menjadi isu utama kunjungan teman-teman wartawan ke area yang telah direspon Karina. Teman-teman berharap apa yang telah dilakukan Karina akan menjadi contoh bagi banyak pihak.

Berbincang dengan Mereka Yang Tadinya Penyintas
Namun tidak hanya itu yang bisa mereka dapatkan. Sebelum sesi diskusi dengan narasumber, saya dan seorang teman dari Karina KAS, Galih, mengajak teman-teman media ke area-area yang telah direspon Karina. Karena keterbatasan waktu dan sulitnya medan hanya beberapa yang dikunjungi.

Di dusun Stabelan, Kecamatan Selo, Boyolali, teman-teman media bertemu langsung dan berbincang dengan kepala dusun dan warga yang tadinya menjadi penyintas. Berbagai kesan, suka, dan duka mereka ceritakan. Mereka begitu bersemangat bercerita tentang masa-masa erupsi dan selama berada di pengungsian.

Adapula Tegar, seorang teman dari Komunitas Tlatah Bocah. Pada masa erupsi, dia dan keluarganya termasuk dalam kategori penyintas. Namun dia memilih untuk menjadi relawan yang melakukan pendampingan aktivitas psikososial pada anak-anak yang dilakukan komunitasnya, Tlatah Bocah dengan Karina.

Ketika saya dan teman-teman media kembali ke Yogyakarta, kami masih terbayang senyum-senyum yang kembali mengembang di bibir para warga lereng. Mereka mulai bangkit dengan pengharapan baru. Semoga kerjasama yang tidak membedakan ini begitu banyak menolong mereka yang tadinya penyintas.(oleh Anneke Putri Purwidyantari, Communications Assistant Karina)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta