Sapa Kasih untuk Papua – Caritas Indonesia – KARINA

Sapa Kasih untuk Papua

22/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaHati saya taputus – hati saya terputus. Demikian perasaan Romelus Wainaribaba (60 tahun) saat bercerita tentang gempa 16 Juni di Kepulauan Yapen, Papua. Siang itu, Opa Romelus sedang melaut. ‘Tiba-tiba, air naik macam mendidih!’ tuturnya. Itulah saat getaran pertama terjadi. Tak lama, getaran yang lebih kuat menyusul. Muncul cairan hitam dari laut. Air laut siap menggulung siapa saja. Entah bagaimana, Opa Romelus dapat menepi di kampungnya – Kampung Wanampompi – dengan selamat.

Menurut catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, pada 16 Juni 2010 sekitar pukul 12.00 WIT, Kabupaten Kepulauan Yapen – Papua dihentak gempa berkekuatan 6.2 SR. Gempa susulan terjadi dengan kekuatan 7.1 SR, berlanjut dengan beberapa getaran sekitar 5 SR – 6 SR. Melalui media, Palang Merah Indonesia menyampaikan 19 orang meninggal dunia, 3584 rumah rusak berat, 1429 rumah rusak sedang dan 1058 rumah rusak ringan. Tidak ada data resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Kabupaten Kepulauan Yapen terletak di Teluk Cendrawasih yang tenang, bersebelahan dengan bagian kepala burung Papua. Kabupaten dengan ibukota Serui tersebut memiliki populasi lebih dari 90.000 orang, sebagian adalah pendatang. Dari lima distrik di Kabupaten Kepulauan Yapen, Distrik Angkaisera merupakan distrik yang mengalami dampak gempa terparah. Kampung Wawuti, Kampung Wadapi dan Kampung Wanampompi merupakan tiga kampung yang paling sulit dijangkau dalam distrik tersebut. Kita harus melewati perbukitan yang longsor dan jembatan terputus untuk mencapainya. Alternatif lain adalah melalui laut.

Tergerak oleh kondisi tersebut, Pastor Dwi Anton Raharjo SCJ dan umat Paroki Bunda Maria di Serui membentuk tim relawan. Banyak orang muda Katolik bergabung dalam tim relawan ini, dengan didampingi beberapa orang tua. Pengalaman membantu korban gempa merupakan pengalaman pertama para anggota tim dalam merespons bencana. Oleh karena itu, Karina KWI memberikan pendampingan kepada tim relawan dalam menjalankan tugasnya.

Syukur Atas Keselamatan Jiwa
Pada Kamis, 8 Juli 2010, saya mendapat kesempatan mengunjungi Kampung Wawuti, Wadapi dan Wanampompi bersama dengan tim relawan paroki. Kami melakukan pengecekan ulang data warga di tiga kampung (verifikasi), sekaligus mendengarkan cerita pengalaman warga.

Serupa dengan pengalaman Opa Remulus, Opa Andreas dari Kampung Wadapi juga tengah melaut saat terjadi gempa. Menurut Opa Andreas, buuumm suara getaran gempa pertama bagaikan suara meriam. Gempa susulan terdengar lebih hebat. ‘Suara bulat sekali!’ tuturnya. Di tengah gulungan ombak, Opa Andreas yakin dirinya tidak selamat. Tuhan, saya pulang sudah dalam damai, doanya saat itu. Tuhan menentukan lain. Opa Andreas selamat. Meskipun kampungnya rata dengan tanah, Opa Andreas bersyukur karena dirinya, keluarga dan tetangga-tetangga selamat.

Rasa syukur juga diungkapkan oleh Nenek Martina Arebo dari Kampung Wawuti. Saat gempa terjadi, Nenek Martina sedang mengunjungi anaknya di Kampung Kainui. Ia lalu bersikeras pulang ke Kampung Wawuti untuk mencek kondisi putri dan cucunya. Meskipun harus berjalan kaki selama 5 jam, Nenek Martina tidak menyerah. Rasa sedih dan kecewa menghampirinya saat melihat rumahnya rata dengan tanah. Meski begitu, ia bersyukur anak dan cucunya selamat.

Kesulitan Pasca Gempa
Selain penuh syukur, sebetulnya warga ketiga kampung masih diliputi kekhawatiran. Hingga awal Juli, mereka masih khawatir adanya gempa susulan. Melaut dan berkebun hanya dilakukan sebentar agar mereka cepat berada dekat keluarganya. Bahkan, saat saya berada di Kampung Wawuti, para ibu panik berlari ketika terjadi getaran gempa ringan. Setelah getaran berhenti, para ibu memiliki cara tersendiri untuk menghibur diri. Mereka saling bercerita pengalaman saat gempa dan mentertawakan perilaku masing-masing.

Kesulitan yang juga dialami adalah tidak adanya peralatan untuk membangun rumah kembali. Mereka memiliki bahan kayu bekas rumah lama ataupun kayu dari hutan, tapi tidak ada paku, palu, gergaji dan alat-alat lainnya. Warga akhirnya mencari tempat perlindungan seadanya.

Warga juga kehilangan peralatan dapurnya, terutama yang pecah belah. Selain itu, warga hidup dalam kegelapan karena tidak ada listrik ataupun minyak tanah. Jalan-jalan pun tertutup longsor. Tidak ada akses transportasi darat. Untuk transportasi laut, mereka tidak memiliki bahan bakarnya.  

Kesulitan-kesulitan tersebut berhasil diidentifikasi oleh tim relawan paroki. Tim relawan juga berkoordinasi dengan Posko Induk Kabupaten Kepulauan Yapen. Kepala Logistik Posko memberikan apresiasi kepada tim relawan karena sebelumnya tidak ada lembaga non-pemerintah yang berkoordinasi dengan Posko Induk. Dari koordinasi tersebut, tim relawan menemukan bahwa masih ada kesenjangan bantuan bagi ketiga kampung tersebut. Setelah beberapa pertemuan dan pengecekan ulang ke kampung, tim relawan memutuskan untuk memberikan bantuan paket alat pertukangan, alat dapur, alat mandi dan minyak goreng. Tim relawan kemudian melakukan proses pembelian, menyiapkan gudang dan merapikan paket bantuan.

Sapaan Gereja Katolik
Pada hari Sabtu, 10 Juli 2010, paket bantuan dihantarkan kepada warga Kampung Wanampompi melalui jalur laut. Pagi-pagi sekitar pukul 06.00 WIT, tim relawan mengeluarkan paket bantuan dari gudang dan memasukkanya ke perahu. Rasa mengantuk dan lapar diabaikan dulu.

Proses distribusi berjalan cukup lancar. Baru kali ini saya melihat proses distribusi yang didahului doa dan bernyanyi lagu rohani bersama. Bagi warga, doa dan lagu penting untuk menguatkan batin mereka. Selesai berdoa, bantuan diberikan satu-persatu langsung ke setiap perwakilan keluarga. Tim relawan memanggil nama mereka, mencocokkan kupon distribusi dengan nama mereka dan mencatatnya.

Kerja tim relawan tak tanggung-tanggung. Ada relawan yang menghibur anak-anak dengan bermain dan bersenda gurau. Ada relawan yang membawakan paket bantuan seorang kakek hingga ke rumahnya. Ada pula yang membawakan paket bantuan seorang ibu yang rumahnya jauh. Ibu tersebut, Reni, tak henti-henti mengucapkan terima kasih. ‘Sa (saya – red) senang sekali. Tidak ada yang mengunjungi sampai ke rumah. Bantuan bensin kemarin tong tara (kami tidak – red) dapat. Bantuan Gereja Katolik ini bukan hanya sampai ke tong, malahan sampai dibawakan ke rumah,’ ujar Reni. Rumah Ibu Reni memang terletak di perbatasan desa dan belum pernah mendapat bantuan apapun.   

Saat tim relawan berkeliling, saya melihat senyum di wajah warga. Mereka langsung memeriksa isi paket, bahkan ada yang langsung menggunakannya. Seorang bapak langsung menggunakan paku-paku dari paket bantuan. Sedangkan beberapa ibu langsung merapikan piring-piring plastik dari paket bantuan. Beberapa warga lain menyapa tim relawan dan menyampaikan bahwa paket tersebut sesuai dengan yang mereka butuhkan. Sebagai ungkapan terima kasih, tim relawan diberi suguhan pisang goreng dan air kelapa muda. Wah, senyum mengembang di wajah anggota tim relawan. Kelelahan mereka terbayar dengan kebahagiaan di wajah warga, ditambah air kelapa yang segar itu..

Penulis adalah staf Karina, Unit Tanggap Darurat & Kesiapsiagaan

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta