Rasanya seperti perjalanan tanpa ujung – Caritas Indonesia – KARINA

Rasanya seperti perjalanan tanpa ujung

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaIni adalah hari keempat keberadaan kami di India. Saat ini kami sedang menempuh perjalanan empat jam menuju Pondicherry dari Chennai.  Berbagai situasi jalan kami temui selama perjalanan. Jalan kota yang kacau, jalan tol yang bersih, jalan sepi di tengah kegelapan malam, keramaian pasar yang memacetkan jalan. Kesemuanya kami jumpai berkali-kali. Rasanya seperti perjalanan tanpa ujung.

Karena  kelelahan kamipun memutuskan untuk berhenti di satu pasar. Setelah mencicipi satu teh manis yang terasa pahit dan kue bawang merah goreng, perjalanan dilanjutkan menuju Pondicherry.

Hampir tengah malam kami tiba di Pondicherry. Tetapi karena perut belum terisi, kami memutuskan untuk berkeliling kota dan mencari makanan yang pas di lidah untuk malam ini. Setelah berjalan menyusur jalan dekat tempat kami menginap akhirnya kami menemukan makanan yang mirip dengan nasi goreng di Indonesia.

Di Pondicherry, kami bertamu ke kantor Pondicherry Multipurpose Social Services Society (PMSSS) yang ada di pusat kota. Di kantor PMSSS, Pastor direktur PMSSS beserta seluruh staff menyambut seluruh rombongan. Dalam pertemuan tersebut, PMSSS mempresentasikan beberapa kegiatan yang dilakukan di wilayah pelayanannya. Salah satu yang menarik dari kegiatan PMSSS adalah penggunaan internet dalam banyak kegiatan penyadaran.

Kegiatan yang dijalankan oleh PMSSS diolah dengan cara mobilisasi komunitas. Di setiap komunitas yang dilayani PMSSS menggalang kekuatan warga komunitas berdasarkan kesamaan kelompok; perempuan, anak, remaja, dan laki-laki. Dalam kelompok warga tersebut, setiap anggota kelompok diberi hak untuk bicara untuk kepentingan bersama. Salah satu pokok bahasan adalah kesiapsiagaan.

Selain melalui presentasi, PMSSS juga mengajak seluruh peserta ke sebuah desa nelayan. Warga desa dengan dorongan PMSSS membentuk satuan tugas yang selalu siaga jika terjadi ancaman tsunami. Di desa yang berada di tepi pantai teluk benggala, peserta diperlihatkan upaya warga setempat untuk menyelamatkan diri.

Kegiatan kami di Pondicherry diakhiri dengan kunjungan ke pertemuan kelompok perempuan di perumahan yang dibangun khusus bagi warga terdampak tsunami 2004. Dalam kelompok itu, 30 perempuan bergabung dan membahas masalah yang dihadapi oleh warga komunitas. Secara swadaya, kelompok membangun kemandirian lewat kegiatan koperasi kredit. Salah satu hasil bentuk nyata keberhasilan kelompok adalah dibangunnya fasilitas peringatan dini secara swadaya.

Semangat di Thanjavur
Menjelang malam kami sudah berada di Nagapatinnam, kota ini masuk dalam wilayah pelayanan Keuskupan Thanjavur.  Nagapatinnam, kota yang terkenal dengan peziarahan Velannkani berjarak lima  jam perjalanan dari Pondicherry.

Seperti hari sebelumnya, pagi hari kami disambut dengan ‘thika’ di Kantor Thanjavur Multipurpose Social Services (TMSS). Di Kantor TMSS  rombongan diterima dengan kehangatan khas India. Direktur TMSS memaparkan kegiatan TMSS yang berkarya langsung di desa-desa yang cukup jauh dari pusat kota Nagapatinnam. Dalam presentasinya, Direktur TSMSS menjelaskan keberhasilan mengangkat kelompok perempuan yang selama ini menjadi warga kelas dua menjadi kelompok yang berdaya dalam komunitas.
Begitu banyak keberhasilan yang dicapai oleh TMSS sehingga, hari ini kami bermarathon mengunjungi tiga komunitas yang dampingan TMSS. Salah satu komunitas yang didampingi adalah kelompok perempuan yang dapat mengantar seorang perempuan menjadi pemimpin panchayat. Namun, keberhasilan itu harus dibayar mahal oleh komunitas karena tidak sedikit program pemerintah yang ditujukan bagi desa itu dengan tujuan untuk menguji pemimpin komunitas mereka.

Setelah dua pertemuan yang panjang, kami mengakhiri hari ini dengan mengunjungi satu komunitas yang berhasil dalam program Community Based Disaster Preparedness (CBDP). Di komunitas ini, TMSS mengajak komunitas yang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir dan ancaman tsunami. TMSS bersama warga mengadakan pertemuan setiap seminggu sekali untuk belajar dan berlatih bersama. Dari pertemuan tersebut, warga sepakat untuk membentuk kelompok kerja.

Dalam pertemuan yang kami hadiri, kelompok kerja memeragakan cara-cara penyelamatan yang sederhana tetapi mampu menolong warga yang terkena dampak langsung dari bencana. Dengan sarung, warga membantu menggotong warga yang tidak mampu berjalan. Warga juga memperlihatkan alat penyelamat sederhana seperti kaleng bekas minyak goreng, tempayan plastic, atau bahkan buah kelapa tua digunakan warga sebagai ganti pelampung yang harganya amat mahal.

Setelah takjub dengan upaya sederhana yang dilakukan warga, kami kembali ke penginapan untuk menghabiskan hari terakhir kami di India. Karena besok kami harus menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke negara asal kami masing-masing.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta