Rapat Tahunan KARINA KWI – Caritas Indonesia – KARINA

Rapat Tahunan KARINA KWI

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaSebuah Pertemuan Tahunan yang lebih tepatnya disebut dengan Rapat Tahunan antara KARINA KWI dengan Keuskupan telah berlangsung pada akhir Mei 2009. Sekitar 93 peserta hadir dari seluruh wilayah Indonesia untuk berkumpul dan duduk bersama mendengarkan, bertanya, dan menyimpulkan masing – masing topik pembicaraan. Selayaknya sebuah rapat, maka perdebatan merupakan hal yang sangat mungkin terjadi dan tak perlu dielakkan. Demikian juga halnya dengan Rapat Tahunan ini. Dibuka oleh Pastor P. Sigit Pramudji, Pr sebagai Direktur Eksekutif KARINA KWI, presentasi mengenai perkembangan KARINA KWI selama 1 tahun terakhir langsung menarik para peserta yang tadinya masih tampak santai dan saling meledek terbawa suasana sesi perkenalan.

Mimik dan bahasa tubuh yang serius mengikuti presentasi pembuka. Keseriusan ini  tertuang dalam beberapa pertanyaan yang muncul setelahnya. Mulai dari pertanyaan seputar mandat dari Caritas Internasionalis sampai sumber dana KARINA KWI. Beberapa pertanyaan memang sudah pernah diajukan pada rapat tahunan tahun sebelumnya, namun mengingat keberadaan KARINA KWI yang terbilang masih muda, yaitu 3 tahun, maka hal penyebaran informasi lengkap mengenai gerakan Karitas tentu saja masih perlu diperkuat.

Karina - Caritas IndonesiaSelanjutnya, proses rapat meminta para staf program yang selama ini menjadi eksekutor konsep Karitas menyampaikan hasil temuannya selama satu tahun terakhir di lapangan. Untuk ini, Puspa Kartika sebagai Program Coordinator, mengajak para peserta yang terdiri dari Pastor, Suster, Uskup dan pekerja Karitas Keuskupan serta staf Komisi – Komisi Keuskupan untuk melihat secara global ke-4 program KARINA KWI sebelum masuk ke detail laporan yang dibawakan secara berurutan. Dimulai dari program PRB (Pengurangan Resiko Bencana yang sering disebut dengan DRR, singkatan dari Disaster Risk Reduction ) dibawakan oleh Robert Soelistyo , ERP (Emergency Response Preparedness / Tanggap Darurat & Kesiapsiagaan) oleh Aribowo & F. Sundoko, Pengembangan Kapasitas oleh Ditto Santoso & Lyta Perangin-angin sampai presentasi program Komunikasi oleh Betti Siagian yang juga menutup rapat hari pertama.

Model-model Karitas Keuskupan
Topik Model – model Karitas Keuskupan dibahas selama 4,5 jam dalam rapat hari ke-2. Dilihat dari awal hadirnya Karitas di Indonesia, maka wajar saja proses menghadirkan sebuah gerakan Karitas di Keuskupan membutuhkan diskusi yang panjang. Sebab dengan hadirnya sebuah Karitas dalam Keuskupan, ada hal – hal baru yang terpaut didalamnya dan disepakati bersama. Hal – hal baru berarti membutuhkan kultur yang baru atau kebiasaan baru.

Karina - Caritas IndonesiaAlbertus Deby dari Karina KAS (Keuskupan Agung Semarang), Mamik Sudarmono dari KARINA KAPal (Keuskupan Agung Palembang) serta Matheus Merah dari CAKAP (Caritas Keuskupan Agung Pontianak) mempresentasikan pengalaman ber-Karitas mereka dan organisasi mereka selama ini. KAS berdiri sejak Gempa Yogya terjadi, tepatnya 3 minggu setelah 27 Mei 2009. Ada 2 fokus organisasi ini yaitu dalam soal Rekonstruksi Bangunan (seperti rumah atau sekolah) yang hancur akibat gempa serta Pembangunan dimana masyarakat sebagai subjeknya, seperti program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat yang mendampingi masyarakat yang menjadi lumpuh akibat tertimpa bangunan saat gempa. Program PRB juga masuk dalam focus pembangunan manusia ini. Bantul dan Klaten adalah wilayah dampingannya. Dari presentasi Deby, ditunjukkan bahwa Karina KAS tidak berada dibawah Komisi PSE atau komisi lainnya dalam Keuskupan. Jadi, PSE & Karina KAS merupakan 2 lembaga yang berdiri sendiri. Itu model pertama.

Mamik Sudarmono yang mewakili Karina KAPal menyampaikan pengalaman ber-Karitas dengan model yang ke-2 : Karitas yang berada didalam Komisi PSE Keuskupan Palembang. Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo merupakan badan yang ditunjuk langsung oleh Uskup untuk menjalankan fungsi dan peran PSE. Dengan demikian Komisi PSE bersinergi dengan baik dengan Pansos dan bahkan staf PSE menjadi staf Pansos. Mirip dengan peristiwa lahirnya Karina KAS, maka Karina KAPal pun lahir dari bencana alam yang mengguncang Bengkulu dan sekitar Mentawai. Bengkulu sendiri masih merupakan bagian dari Keuskupan Agung Palembang. Walau tidak ada bentukan organisasi baru dibawah Keuskupan ini, namun tidak dapat dipungkiri adanya kesulitan yang tetap harus dihadapi oleh Karina KAPal ketika membuka dirinya untuk berpartisipasi dalam progam – program Karitas. ‘Perbedaan pola pikir dan sistem kerja pasti terjadi, namun sudah dapat diatasi melalui pelatihan – pelatihan’, ucap laki – laki yang sering disapa dengan Pak Mamik ini dalam presentasinya.

Model terakhir dipresentasikan oleh Matheus Merah yang mewakili CaKAP, Keuskupan Agung Pontianak. Disebutkannya, ada 2 alasan utama mengapa Uskup KAP (Keuskupan Agung Pontianak) menunjuk Komisi PSE merangkap Karitas Keuskupan yaitu : karena sesuai dengan spiritualitas, visi dan misi Komisi PSE : karya amal, emergency dan karitatif dan yang terakhir karena Komisi PSE merupakan satu-satunya komisi di KAP yang mempunyai tenaga staf yang cukup disbanding komisi lainnya. Apakah hal ini menjadi tumpang tindih ? Ternyata tidak, karena CaKAP berada dalam misi yang sama dengan misi PSE. CaKAP tinggal hanya menajamkan bidang pelayanan kemanusiaannya, dalam hal ini yang dimaksud adalah bidang PRB. Secara sekilas memang seperti tidak ada beda antara Karina KAPal dengan CaKAP, namun sebenarnya perbedaan mendasar adalah demikian : di dalam Karina KAPal, Komisi PSE – nya berbentuk Yayasan Sosial, sementara tidak demikian dengan CaKAP.

Dalam membahas kekuatan dan kelemahan Model – model Karitas Keuskupan diatas, para peserta dibagi menjadi 6 regio yaitu regio Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusra (Nusa Tenggara), MAM (Manado Ambon Makasar), dan Papua kemudian diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi regionya di kelas besar. Secara umum, hal yang paling banyak disoroti adalah soal pendelegasian tugas atau SDM yang tersedia, pendanaan yang stabil dan strateginya jika suatu Karitas Keuskupan berdiri sendiri, tidak dibawah suatu Komisi plus penyadaran mengenai Karitas itu sendiri.

Ketangkasan Moderator
Pastor Ismartono yang bertindak sebagai moderator sesi Kebijakan dan Prosedur Keuangan dan Pastor Eddy Purwanto yang memoderatori sesi Model – model Karitas Keuskupan merupakan model moderator yang ideal pada rapat tahunan kali ini.

Karina - Caritas IndonesiaDengan tangkas, Pastor Ismartono membagi 3 tahap babak tanya jawab ketika melihat kebingungan yang tergambar di wajah para peserta ketika Agus Kurnia menyampaikan presentasinya mengenai sistem keuangan yang termasuk masih baru di kalangan Keuskupan. Pembagian babak tanya jawab ini bukan hanya untuk mengatur jumlah pertanyaan namun untuk membuat pertanyaan dan jawaban menjadi lebih terstruktur. Oleh karena itu, pada babak pertama, pastor yang akrab disapa dengan ‘Romo Is’ ini meminta para peserta hanya mempertanyakan hal – hal yang berkenaan dengan persiapan atau pra, sebelum proses kegiatan yang menggunakan uang atau pembelian terjadi. Seperti format nota yang bagaimanakah yang perlu dipersiapkan dan siapa saja yang harus mengetahui dan menyetujui nota tersebut.

Selanjutnya, pada 2 babak berikutnya, secara berturut – turut para peserta dipersilakan untuk menanyakan hal yang terkait dengan proses pembelian semisal apa saja yang harus diminta dari penjual dan bagaiman prosedur pembelian secara internal serta pihak mana saja yang sepatutnya perlu mengetahui  atau menyetujui terjadinya pembelian tersebut. Yang terakhir adalah proses pasca pembelian, yang terjadi setelah uang dikeluarkan atau pembelajaan dilakukan, misalnya bentuk pelaporan dan bukti – bukti pendukungnya.

Karina - Caritas IndonesiaDi kesempatan yang berbeda, Pastor Edy dengan kreatif mengajak para peserta untuk tetap bersemangat dan focus ketika membahas Model – model Karitas Keuskupan karena sessi ini mengambil jadwal ‘genting’ yaitu sejak pukul 14.00 – 18.30. Sesi ini panjang karena diwarnai oleh 6 diskusi kelompok yang dibagi per regio yaitu regio Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusra (Nusa Tenggara), Papua dan MAM (Makasar, Ambon, Manado).  Rasa lelah dan turunnya tingkat focus seseorang menjadikan peran Pastor Edy sebagai moderator sangat krusial. Dengan menggunakan istilah – istilah dalam bahasa Latin yang tidak diketahui oleh seluruh peserta dan mencoba menghubungkannya dengan topic diskusi, ternyata merupakan ide kreatif yang manjur dalam mengajak para peserta untuk kembali berdiskusi dan menyerap pembahasan demi pembahasan. Walhasil, seluruh peserta bertahan sampai akhir sesi.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta