Pupuk Organik, Gairah Baru Para Petani – Caritas Indonesia – KARINA

Pupuk Organik, Gairah Baru Para Petani

15/12/2017
(Ilustrasi: KARINA).
(Ilustrasi: KARINA).

“Saya ini sudah berumur 71 tahun. Sepanjang umur hidup saya, setiap hari makan sayur daun ubi kayu (singkong). Jika ingin makan sayur jenis lain, maka harus pergi ke Kota Ruteng dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp 50.000. Itu hanya untuk beli sayur seharga Rp 15.000! Sekarang, baru kali ini saya rasakan enaknya makan sayur, yang oleh anak-anak saya disebut sayur organik. Setiap hari saya makan sayur yang saya rasa enak dan sehat. Itulah sebabnya saya mendukung anak-anak di kelompok Terep ini untuk terus bekerja dalam kelompok tani organik. Saya punya lahan luas dan saya serahkan kepada mereka untuk diolah untuk menanam sayur sebanyak-banyaknya. Saya dorong mereka agar memanfaatkan bantuan ini dengan baik. Agar ke depan, mereka akan menghasilkan banyak jenis sayuran yang tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tetapi juga untuk dijual agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya masing-masing,” demikian Bapak Kletus Dorus, seorang tokoh adat di Kampung Terep, mengakui betapa besar manfaatnya program pendampingan pertanian organik yang dijalankan Caritas Keuskupan Ruteng di kampungnya.

Anggota kelompok dampingan Caritas Keuskupan Ruteng di Kampung Terep, memberi nama kelompoknya “Usaha Bersama”. Kelompok ini ada di Desa Golo Ncuang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. Nama itu bukan sekedar nama yang disematkan agar merdu terdengar, tetapi  lahir dari cita-cita yang luar biasa dari para anggota kelompoknya, yang mana suatu saat mereka ingin menjadi penghasil sayur organik dan memiliki armada penjualan yang bisa menjangkau banyak wilayah. Semangat ini lahir dari keyakinan mereka setelah mendapatkan sosialisasi dari Caritas Keuskupan Ruteng pada tanggal 13 September 2017 tentang prospek ekonomis pertanian organik. Kesaksian verbal, mungkin belum cukup untuk meyakinkan mereka, namun kesaksian para penerima manfaat dari kelompok-kelompok dampingan Caritas Keuskupan Ruteng sebelumnya yang disajikan dalam bentuk audio visual telah mencuri hati dan perhatian mereka.

Snapseed
Bapak Kletus Dorus (71) yang memberikan lahannya untuk ditanami dengan sayuran organik oleh kelompok tani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng (Foto: KARINA).

Seusai mendapatkan sosialisasi tersebut, mereka kembali dan membentuk kelompok dengan nama Usaha Bersama. Adapun pertimbangan mereka untuk segera menanggapi ajakan Caritas Keuskupan Ruteng adalah bahwa mereka sedang menghadapi permasalahan lahan. Lahan pertanian mereka tidak subur, karena itu selalu butuh pupuk. Membeli pupuk mereka tidak sanggup. Selain karena harganya mahal, juga karena pupuk sulit didapat. Sementara itu, mereka juga tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang membuat pupuk sendiri. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi malas untuk bertani dan mendorong banyak orang harus merantau ke daerah lain, seperti ke Papua dan Kalimantan untuk mencari uang. Kehadiran Caritas Keuskupan Ruteng dengan program pendampingan pertanian organik sangat relevan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Untuk itu, mereka memutuskan untuk membentuk kelompok dan meminta Caritas Ruteng mendampingi mereka.

Kini, lima bulan sudah mereka didampingi oleh Caritas Keuskupan Ruteng dalam program pertanian organik. Lima bulan, memang bukan waktu yang lama untuk bisa meraih sukses. Namun, semangat awal yang terpatri dalam sanubari para anggota kelompok dampingan, membuat periode awal pendampingan memberi dampak dan manfaat nyata. Mereka menguraikan satu persatu manfaat nyata yang mereka rasakan selama lima bulan pendampingan Caritas Keuskupan Ruteng.

Yang pertama adalah manfaat pengetahuan dan keterampilan. Pada awalnya anggota kelompok tidak pernah memiliki pengetahuan tentang pertanian organik, apa lagi tentang pembuatan MOL dan pupuk organik. Pendampingan Caritas Keuskupan Ruteng telah memberikan pengetahuan baru kepada semua anggota kelompok dalam hal pembuatan MOL dan pupuk organik serta bagaimana menggunakannya untuk tanaman. Saat ini, semua anggota telah sanggup memproduksi sendiri MOL dan pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan kelompok dan kebutuhan masing-masing anggota.

Snapseed (1)
Lahan sayuran organik milik Kelompok Usaha Bersama yang tumbuh subur (Foto: KARINA).

Yang kedua adalah manfaat ekonomis. Sebelum adanya pendampingan dari Caritas Keuskupan Ruteng, masyarakat membeli sayur di Kota Ruteng atau di tempat para pedagang keliling. Setiap hari harus mengeluarkan uang sebesar Rp 15.000 untuk membeli sayur. Jika tidak ada uang, maka hanya mengonsumsi daun ubi kayu (singkong). Saat ini, semua anggota kelompok tidak lagi membeli sayur, sebab sudah mampu menghasilkan sayur sendiri, baik dari kebun kelompok maupun dari kebun pribadi masing-masing. Selain itu, tidak lagi membeli pupuk kimia karena sudah mampu memproduksi sendiri pupuk organik. Penanaman sayur-sayuran organik telah menghemat 2 pos anggaran keluarga, yakni kebutuhan sayur dan pupuk.

Yang ketiga adalah adanya perubahan prilaku. Sebelum adanya pendampingan dari Caritas Keuskupan Ruteng, masyarakat khususnya anggota kelompok tidak ada yang semangat untuk bertani, sebab kondisi tanah yang tidak bisa menghasilkan jika tidak menggunakan pupuk. Masyarakat menjadi malas untuk bertani karena tidak sanggup untuk terus menerus membeli pupuk. Karena itu, masyarakat akhirnya menjadi malas untuk bekerja. Sekarang ini, semua lahan anggota kelompok yang selama ini dibiarkan terlantar digarap dan ditanami sayuran daun dan buah. Hasilnya memuaskan, walaupun masih sebatas untuk memenuhi konsumsi sendiri. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam hal produksi pupuk organik telah memacu semangat dan gairah untuk kembali bertani. Bahkan lahan pekarangan yang sebelumnya hanya ditubuhi rumput sekarang menjadi lahan subur untuk tanaman sayur.

Yang keempat adalah manfaat sosial. Sebelumnya tidak ada kerja sama dalam kelompok. Masing-masing orang sibuk degan pekerjaannya masing-masing. Kerja kelompok yang didorong oleh Caritas Keuskupan Ruteng telah mampu menghadirkan rasa nyaman, percaya diri, kebersamaan, persaudaraan, saling mendukung, saling menguatkan, saling membantu, dan saling menghibur di antara sesama anggota kelompok.

Yang terakhir adalah manfaat lingkungan dan kesehatan. Semua anggota kelompok sekarang menjadi sadar bahwa pupuk organik telah menyelamatkan mereka dari kesulitan keuangan. Sebab pupuk organik yang dihasilkan tidak membutuhkan biaya dalam memproduksi. Selain itu, pupuk organik tidak merusak tanah dan tidak membahayakan kesehatan manusia, sebagaimana bila menggunakan pupuk kimia. Untuk itu, semua anggota kelompok berkomitmen, sampai kapanpun akan terus meproduksi pupuk organik dan tidak akan lagi menggunakan pupuk kimia. ● Doni Akur

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta