Petani Cabe Sukses dari Surinomo – Caritas Indonesia – KARINA

Petani Cabe Sukses dari Surinomo

22/03/2018
IMG_20180315_081019-1

Surinomo, sebuah kampung di pedalaman Kabupaten Dompu, Provinsi NTB, telah didampingi oleh Tim PSE Keuskupan Denpasar sejak tahun 2016. Sebanyak lima belas keluarga dari kampung kecil ini adalah para penerima manfaat langsung dari Program Payung “Memperkuat Komunitas Yang Tangguh di Regio Nusra dan Sintang.” Diperlukan waktu tempuh selama lima jam dari pusat Ibu Kota Kabupaten Dompu untuk bisa sampai ke kampung ini. Ruas jalan yang mulus dan pemandangan alam nan indah membuat waktu tempuh yang dilalui terasa tidak membosankan.

Perlahan namun pasti, laju kendaraan harus dikurangi karena ruas jalan yang berlubang dan belum beraspal harus dilalui sejak tiba di persimpangan menuju Kampung Surinomo. Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang, akhirnya Tim KARINA tiba di kampung kecil ini. Tanggal 14 Maret malam, kami menjejakkan kaki pertama kali di Surinomo. Semua rasa lelah dan letih selama lima jam perjalanan menjadi lenyap seketika ketika warga Surinomo menyambut kami dengan ramah dan senyum merekah. Hal itu tak kalah hangatnya dengan suguhan kopi khas Tambora dan jagung pulut lokal yang mengguyur lidah dan memenuhi rongga tenggorakan kami.

Kunjungan Tim KARINA dan PSE Keuskupan Denpasar ini adalah bagian dari monitoring enam bulanan yang dilakukan secara rutin. Turut hadir dalam kegiatan monitoring ini adalah Pastor RD. Evensius Dewantoro Boli Daton, Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar. “Dulu pendapatan utama keluarga saya adalah dari menjual biji mete, yang masa panennya hanya pada bulan September sampai Desember setiap tahunnya,” tutur Bapak Sion Jehadut (35) membuka perbincangan kami.

Bapak Sion di tengah-tengah kebun cabe yang siap untuk dipanen (Foto: KARINA).
Bapak Sion di tengah-tengah kebun cabe yang siap untuk dipanen (Foto: KARINA).

Dapat dipahami bahwa hasil panen biji mete yang musiman ini tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Maka dari itu, terkadang ia harus berhutang kepada pemilik kios yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini semakin parah ketika produktivitas tanaman mete terus menurun, sedangkan sumber pendapatan yang lain belum ada. Di tengah kondisi sulit seperti itu, pada tahun 2016, PSE Denpasar datang ke Surinomo membawa program pertanian organik dengan sistem multiple crops. Saat itu, ada 15 kepala keluarga yang mendaftar untuk ikut ke dalam program ini.

“Kami dilatih bagaimana membuat MOL, pupuk dan pestisida organik. Selain itu, di dalam program ini kami juga menerima pelatihan tentang bagaimana menanam berbagai jenis tanaman hortikultur dalam satu lahan melalui sistem multiple crops.” Lebih lanjut Bapak Sion, demikian ia disapa, mengisahkan bahwa ia sempat tidak melakukan apa-apa setelah mengikuti semua rangkaian pelatihan. Ia ragu untuk menerapkan semua pengetahuan yang didapat dan masih menyangsikan keampuhan pertanian organik dengan sistem multi crops ini.

Ketakutan yang ia pikirkan, terutama tentang kegagalan, terhenti pada tahun 2017. Kondisi pendapatan keluarga yang terus menurun, membuatnya untuk berani mencoba pertanian organik ini. Secara perlahan ia mulai mempraktikkan pengetahuannya tentang pertanian organik dengan sistem multiple crops. Setelah mendapatkan lahan dari tetangga yang dekat dengan sumber air, ia mulai menanam tanaman hortikultur berbagai jenis. “Saya menyadari bahwa mengubah cara berpikir itu sangat sulit. Itulah sebabnya, setelah mendapatkan bermacam-macam pelatihan itu, saya tidak segera menerapkannya. Dulu saya pernah mendapatkan pelatihan organik juga dan pernah gagal sewaktu diterapkan. Tapi, syukurlah bahwa pada akhirnya saya bisa menghadapi semua ketakutan itu,” ucapnya saat itu.

Bapak Sion di dalam gubuk yang dipakainya untuk membuat pupuk dan pestisida organik (Foto: KARINA).
Bapak Sion di dalam gubuk yang dipakainya untuk membuat pupuk dan pestisida organik (Foto: KARINA).

“Kini, saya mulai yakin, bahwa jalan keluar atas kesulitan ekonomi rumah tangga adalah pertanian organik dengan sistem multiple crops ini. Ini bukan soal teori lagi, sebab hasilnya sudah dapat saya nikmati bersama dengan keluarga saya. Dulu, akan sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan pemasukan jutaan rupiah dalam hitungan bulan hanya dari panen mete. Maka dari itu, pendapatan sebanyak 3-5 juta dalam setahun sudah sangat besar bagi kami. Namun saat ini, dalam hitungan bulan kami bisa mendapat pemasukan sebanyak 3 jutaan. Ini sangat luar biasa! Semua itu saya dapatkan dari penjualan kacang panjang, kacang tanah, cabe dan jagung. Saat ini kami sekeluarga sudah tidak punya hutang di kios!,” demikian Bapak Sion mengisahkan masa lalunya dengan mata berkaca-kaca.

Bapak Sion dan keluarga kini dikenal sebagai pemilik lahan cabe yang luas dan berkualitas. Tidaklah mengherankan apabila sebutan itu disematkan kepada mereka. Sebab ketika banyak orang sulit membudidayakan tanaman cabe di musim penghujanan, keluarga Bapak Sion mampu mengelola dengan baik kebun cabe yang luas, subur dan sehat. Hal ini yang membuat banyak orang membicarakan kesuksesan Bapak Sion. Informasi dari mulut ke mulut ini sampai kepada beberapa orang yang berpendidikan cukup tinggi untuk melihat sendiri lahan cabe yang dimaksud.

Mendapati perawakan Bapak Sion yang kurus dan lusuh, mereka sempat tidak yakin jika petani inilah yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menaklukan musim penghujan yang menjadi momok bagi para petani pengembang tananam hortikultur. “Saya tidak pernah mempromosikan tentang keberadaan kebun saya kepada banyak orang. Namun, mereka yang datang untuk membeli langsung ke kebun memberitahukan hal ini kepada orang-orang lain. Sehingga lama kelamaan banyak yang datang juga ke kebun saya. Pada suatu saat, ada beberapa mahasiswa datang ke tempat saya. Setelah mereka melihat lahan dan tanaman yang ada, mereka bertanya kepada saya, “apakah saya pernah kuliah di bidang pertanian?” Saya katakan kepada mereka, bahwa saya buta dalam hal ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Saya jelaskan bahwa semua ini saya dapatkan dari orang-orang yang melatih saya tentang pertanian organik. Mungkin mereka tidak percaya bila melihat kondisi saya yang seperti ini,” kenangnya.

Tim KARINA dan PSE Keuskupan Denpasar ketika mengunjungi lahan pertanian Bapak Sion (Foto: KARINA).
Tim KARINA dan PSE Keuskupan Denpasar ketika mengunjungi lahan pertanian Bapak Sion (Foto: KARINA).

Saat ini, waktu, pikiran dan tenaga Bapak Sion difokuskan pada pertanian organik. Dia dan keluarganya telah merasa yakin bahwa pertanian organik ini sungguh dapat membawa perubagan untuk kondisi rumah tangga mereka dan mungkin juga orang-orang lain yang bernasib sama dengannya. Atas keyakinannya ini, Bapak Sion pernah sampai kelupaan untuk beristirahat karena sudah membuat pupuk organik dari jam 8 malam hingga jam 8 pagi. “Kerja pada malam hari itu lebih fokus karena tidak ada gangguan,” katanya sambil terkekeh.

Supaya ada stok pupuk dan obat-obatan organik yang selalu siap pakai, maka ia membuat gubuk penyimpanan pupuk dan obat-obatan organik di tengah lahannya. Kini, ia merasa bahwa waktu 24 jam sehari tidaklah cukup baginya untuk bisa merawat semua tanaman di lahannya. Selain cabe, lahannya juga ditanami kacang panjang, terong, padi dan kacang lebui. Semuanya tumbuh subur dan sehat. Namun, yang menjadi primadona saat ini tetaplah cabe. Harga cabe saat ini bisa mencapai 50 ribu rupiah per kilogram.

Sejak ditanam pada bulan Januari 2018, mereka sukses mengumpulkan uang dari hasil penjualan cabe dan tanaman lainnya sebanyak Rp 3.052.000. “Dulu, saat masih bergantung pada tanaman mete, banyak waktu terbuang begitu saja. Kegiatan produktif hanya bisa dilakukan pada bulan September hingga Desember saat memanen biji mete. Sedangkan bulan-bulan lain berlalu tanpa ada kegiatan yang berarti. Periode itu menjadi masa yang sulit bagi keluarga karena tidak ada pendapatan,” kenangnya.

“Saat ini, ibarat kata mendapat tebu rebah. Dengan pengeluaran yang sedikit setiap minggu, kami sekeluarga selalu dapat untung. Murah, karena kami tidak perlu lagi membeli pupuk dan obat-obatan kimia. Semuanya sudah tersedia di sekitar rumah dan kebun. Kami bisa menghasilkan sendiri pupuk dan pestisida organik. Kami cukup menyiapkan tenaga untuk membuat pupuk dan pestisida. Sungguh, saat ini kami mulai menikmati hasil kerja keras kami. Kami senang karena panen bulan berikutnya bisa tembus sampai puluhan kilogram!” kata Bapak Sion menutup obrolan kami di lahan cabenya. ● DA

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta