Perempuan-perempuan Tangguh dari Timur – Caritas Indonesia – KARINA

Perempuan-perempuan Tangguh dari Timur

06/03/2017
Kelompok Perempuan Keluarga Migran Lengor, Manggarai
Kelompok Perempuan Keluarga Migran Lengor, Manggarai

Perempuan-perempuan yang ditinggalkan para suaminya bekerja di luar negeri seringkali dicap sebagai “janda-janda bersuami” oleh masyarakat sekitar.  Ini lantaran mereka sudah lama ditinggal suami mereka merantau untuk mengadu nasib di luar negeri atau luar daerah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Sayang bahwa tidak jarang, mereka ditinggalkan suami mereka begitu lama tanpa ada kabar dan kiriman nafkah untuk menghidupi keluarganya yang tinggal di kampung.

Disamping mendapatkan cap negatif, mereka juga harus menanggung kehidupan keluarga dan anak-anaknya di kampung, terutama bagi mereka yang suaminya lama tidak ada kabar dan bahkan tidak  mengirimkan uang untuk kehidupan sehari-hari mereka. Sementara anak-anak mereka yang masih usia sekolah, setiap hari membutuhkan biaya. Belum juga kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sosial yang harus mereka tanggung.

Kelompok memelihara kambing untuk mendapatkan kotoran bahan pupuk organik
Kelompok memelihara kambing untuk mendapatkan kotoran bahan pupuk organik. Foto dok. KARINA

Perempuan-perempuan keluarga migran ini tinggal tersebar di wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur, wilayah Keuskupan Ruteng. Mata pencaharian utama mereka adalah petani dengan pekerjaan sambilan membuat kain tenun. Untuk hasil pertanian, mereka banyak mengandalkan buah kemiri, kopi dan cengkih dari lahan yang tidak begitu luas. Sebagian ada juga yang menanam padi dan sayur untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Hasil pertanian dan kerajinan tenun mereka tidak menentu. Ini disebabkan harga tenun murah di pasar lokal. Perubahan iklim, serangan hama tanaman, dan kekurangan tenaga untuk bekerja menyebabkan gagal panen sayur di awal tahun ini (2017). Lagipula, tanaman andalan buah kemiri hanya panen sekali setahun. Oleh karenanya banyak diantara mereka yang tidak bersemangat lagi untuk bertani karena mahalnya benih dan pupuk kimia yang harus mereka beli. Mereka membeli pupuk kimia dari hutang yang bunganya sepuluh persen sebulan. Maka kalau diperhitungkan, biaya produksi lebih besar daripada hasil panen mereka. Ini sungguh menjerat hidup mereka. Maria Suel, kader dan ketua Kelompok Dusun Keba, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, menuturkan demikian.

“Saya malas bekerja kebun karena tidak bisa membeli pupuk (kimia). Coba bayangkan satu pasang (paket) pupuk (kimia) harganya lima ratus ribu, ibu! Mana untuk beli beras, mana untuk ongkos sekolah, mana untuk (kebutuhan) yang lain-lain”, kata Maria Suel kepada Theresia Kushardini (Dini), staf KARINA, dalam kesempatan berbagi pengalaman dalam kegiatan monitoring pada tanggal 23 Februari 2017 yang lalu. “Kami beli. Beli sih beli, (dari) pinjam uang dengan bunga, Romo. Bunganya sepuluh persen (sebulan), coba bayangkan!”, ungkap Maria di hadapan Romo Yuvensius Rugi, koordinator pendamping kelompok keluarga migran dari Caritas Ruteng.

Maria Suel memfasilitasi pertemuan kelompok (paling kanan)
Maria Suel memfasilitasi pertemuan kelompok (paling kanan) Foto dok. KARINA

Menghadapi realitas kehidupan seperti ini, Maria dan teman-teman perempuan di sekitarnya merasa frustasi. Ia hanya dapat mengandalkan usaha kerajinan tenun yang tidak menentu dan tidak sepeberapa hasilnya. Sebelum didampingai Caritas Ruteng, ia dan teman-temannya meninggalkan usaha pertanian karena tidak dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Untuk mengusir rasa frustasinya, mereka sering menghabiskan waktu luang mereka untuk nyanyi-nyayi dan nongkrong di pinggir jalan. Mereka berbuat demikian bukan karena malas, namun karena prospek kerja yang tidak menghasilkan. Bahkan Maria mengungkapkan bahwa ia juga mengalami tidak peduli dengan kegiatan di Gereja.

Penemanan Caritas Ruteng Mengubah Hidup Mereka

Kehadiran Caritas Ruteng di tengah-tengah “janda bersuami” keluarga migran telah mengubah hidup mereka. Secercah asa terpancar dalam wajah-wajah ceria mereka. Ketika dikunjungi tim Caritas Ruteng dan KARINA-Caritas Indonesia, Maria Suel memberikan kesaksian manfaat pendampingan yang diberikan oleh Caritas Ruteng.

“Begitu pulang dari pelatihan Caritas, ini Pak Heri ini, (pikiran) saya berubah, karena (diajari membuat pupuk dengan) tidak memakai uang. (Bahan) pupuk cair dari (bahan-bahan) lokal. Saya tidak takut baunya itu. Saya tidak takut panasnya itu. Saya coba. Saya jalani. Begitu menariknya itu, Ibu. (Maka) saya ajak semua teman-teman. Mari kita ikut sama-sama! Roh kekuatan dalam hidup kami sudah ada Ibu. Bahkan sudah buang semua  pikiran yang jelek-jelek, yang hepi-hepi di jalan sore-sore tidak ada lagi”, papar Maria Suel kepada Dini, dengan semangat dan wajah berbinar.

Sinode Keuskupan Ruteng tahun 2014 memberi perhatian pada masalah para pekerja migran dan masalah migrasi penduduk dari dan keluar Flores. “Karya pastoral Keuskupan Ruteng fokus pada para keluarga migran,” kata Bapak Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng kepada Romo Adrianus Suyadi, SJ, Direktur KARINA ketika menerima laporan perkembangan dampingan Kelompok Tani Keluarga Migran yang didampingi Caritas Ruteng dan Komisi-Komisi di keuskupannya. Perhatian keuskupan itu diterjemahkan oleh Romo Martin Chen, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan sekaligus Direktur Caritas Ruteng, dalam program pelayanan “Keamanan dan Kedaulatan Pangan bagi Keluarga Migran”. Kelompok sasaran adalah keluarga-keluarga (yang mayoritas para isteri) yang ditinggalkan oleh suaminya bekerja mencari penghidupan di luar negeri atau luar daerah Flores.  Bentuk program yang dikembangkan adalah pemberdayaan petanian organik bagi 16 kelompok perempuan dari 4 Paroki, yakni Paroki Todo, Beanio, Beokina, dan Ponggeok, semuanya terletak di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Total anggota kelompok 380 orang, 306 diantaranya adalah perempuan.

Desain program yang dikembangkan bersifat integral. Ini adalah  pemberdayaan pertanian organik yang diintegrasikan dengan kegiatan-kegiatan lainnya seperti katekese, perayaan ibadat (Ekaristi), pendidikan penyadaran di sekolah-sekolah dan anggota kelompok, pendampingan spiritual, refleksi Kitab Suci atau Ajaran Sosial Gereja, komunikasi-advokasi, dan lain-lain. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan ini melibatkan semua Komisi Keuskupan di bawah Dewan Pusat Pastoral Keuskupan.

Romo Martin Chen, menjelaskan, “Dalam program Caritas ini, kami memakai pendekatan pola integral. Yaitu sebuah pola, yang pertama, situasi dari masyarakat dampingan kita lihat secara menyeluruh. Jadi tidak hanya dimensi ekonomis yang dilihat, tetapi juga dimensi sosial, dimensi budaya juga dimensi spiritualitas. Lalu yang kedua, dimensi ini dalam arti yang mendampingi. Yang mendampingi kelompok migran kami adalah komisi-komisi, yang bekerjasama sesuai dengan bidangnya, untuk menjawabi persoalan yang ada dalam kelompok migran tersebut”.

Rm. Yuvensius mendampingi kegiatan kelompok pembuatan pupuk organik
Rm. Yuvensius (kaos merah) mendampingi kegiatan kelompok pembuatan pupuk organik. Foto dok. KARINA

Buah pendekatan pendampingan yang integral ini sungguh dirasakan manfaatnya oleh kelompok dampingan. “Begitu menariknya, Ibu. Saya terharu sekali. Mungkin ini jalan yang tepat. Ada katekese, ada Misa bersama, membuat dukung(an) roh kekuatan dalam hidup kami sudah ada”, Maria menceriterakan manfaatnya yang besar dari penemanan dan pendampingan yang integral ini.

Maria Suel, perempuan berusia 43 tahun yang sudah menjanda 10 tahun ini begitu bersemangat dalam mengikuti kegiatan pendampingan Caritas Ruteng untuk pengembangan pertanian organik. Dikala usia masih muda dan masih harus menanggung 3 anaknya yang masih kecil, ia ditinggal suaminya menghadap Tuhan untuk selamanya. Namun ia tidak patah semangat untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Perempuan yang tinggal di Dusun Keba, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese, Manggarai ini begitu aktif menggerakkan kaum senasibnya di Desa sekitarnya. Ia tidak hanya sebagai ketua kelompok Perempuan Keluarga Migran di Keba, tetapi sekaligus sebagai motivator dan fasilitator bagi kelompok-kelompok lain yang membutuhkan pelayanannya. Banyak kelompok yang meminta bantuannya untuk mengajari dan membagikan pengalamannya membuat pupuk organik. Bahkan ia secara sukarela sering diundang untuk memfasilitasi  kelompok-kelompok serupa di Kabupaten lain, di Manggarai Timur.

Sebagai kader pendamping petani dampingan Caritas Ruteng, ia juga pernah dikirim untuk mewakili KARINA – Caritas Indonesia mengikuti pertemuan petani Asia dampingan Caritas Asia yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22-24 April 2016 yang lalu. Dalam pertemuan itu, Maria berbagi pengalaman dengan peserta lain dengan mendemonstrasikan secara praktis bagaimana mengetahui kadar kandungan tananam yang diperlukan untuk pembuatan pupuk organik. Sebaliknya, ia juga mendapatkan pembelajaran bagaimana membuat pestisida alami dari petani peserta asal Kamboja, yang kemudian berhasil ia praktikkan di kelompoknya. Terbakar oleh semangat dan keinginannya untuk bangkit dan berbagi, ia juga menangkarkan setengah gelas benih padi unggul dari Srilanka yang ia dapatkan dari sesama petani dari Srilanka. Kini benih yang semula hanya setengah gelas itu, sudah memenuhi sekitar 1 hektar sawah di depan rumahnya. Ia juga telah berhasil menggandakan benih padi itu. Disamping untuk kebutuhan benih sendiri, ia juga membagikan secara cuma-cuma kepada anggota kelompoknya untuk ditanan. Bahkan bibit yang sama juga telah dibagikan dengan sesama petani di luar kelompoknya. Dengan cara ini, ia telah membebaskan diri dari keterpaksaan untuk membeli benih padi dari luar.

Tanaman padi unggul dari Srilanka
Tanaman padi unggul dari Srilanka. Foto dok. KARINA

Perempuan beranak 3 orang dan seorang cucu ini juga aktif membentuk kelompok dampingan baru, yang anggotanya adalah para isteri dari keluarga migran di kampungnya. Karena banyaknya perempuan lain yang ingin bergabung dengan kelompoknya, maka ia membentuk kelompok baru dan ia sendiri mendampinginya dengan tekun dan penuh semangat.

Pengalaman sukses yang disampaikan dengan berbinar-binar itu, terbukti dari pemandangan di lingkungan sekitarnya. Di sekitar rumahnya, terhampar luas tanaman padi unggul Srilanka yang siap berbuah. Di sudut lain, terlihat juga tempat pembuatan pupuk organik lengkap dengan tampungan pupuk organik padat, cair dan pestisida alami yang sudah dikemas dalam paket-paket dan karung. Terlihat di gudang demplot tumpukan pupuk organik padat dalam karung dan pupuk serta pestisida organik dalam botol dan dirigen yang siap dijual. Tidak jauh dari demplot, terlihat pula kandang kambing kelompok berisi 6 ekor. Kambing tersebut milik kelompok yang dipelihara bersama-sama dan hasil kotorannya dipakai untuk campuran pembuatan pupuk organik.

Maria dan kelompoknya juga telah berhasil membuat demplot tanaman sayuran untuk konsumsi rumah tangga sendiri dan sisanya dijual. Dari hasil penjualannya, kelompok Petani Organik Kebai telah terkumpul uang sebesar lima juta rupiah. Sayang musim panen sayur awal tahun ini tidak berhasil karena curah hujan yang tinggi. Uang hasil penjualan sayur itu dipakai sebagai modal kelompok untuk usaha simpan pinjam bersama dalam kelompok. Disamping harus membayar angsuran bulanan dengan bunga dua persen, setiap anggota kelompok harus membayar iuran wajib sebesar lima ribu rupiah per bulan untuk tambahan modal.

Maria Suel adalah sosok perempuan-perempuan tangguh dari 16 kelompok lainnya yang didampingi Caritas Ruteng. Mereka merasakan penemanan dan pendampingan Caritas Ruteng sebagai sesuatu yang membebaskan diri mereka. Mereka terbebas dari cap sosial yang negatif, keterasingan spritual, ketidakadilan struktural dan ketergantungan kepada orang lain. Mereka mengalami tidak hanya mendapatkan keuntungan secara ekonomis, tetapi juga secara sosial, psikologis dan spiritual. Para “perempuan janda bersuami” ini kini telah menjadi perempuan-perempuan tangguh yang merdeka. Kini mereka tidak perlu lagi meminjam uang untuk membeli pupuk kimia. Sebaliknya mereka dapat menjual pupuk organik dan hasil pertanian mereka. Lewat pengalaman pemerdekaan ini, mereka menggambarkan pengalaman hidupnya dalam tema kelompoknya “Menemukan kasih Allah lewat pertanian organik”. Tema ini dijabarkan dalam 4 kata yang menggerakkan, sebagaimana diungkapkan oleh Maria, “Ada kekuatan, kerajinan, ketabahan dan kesuksesan”. Sebuah pengalaman peziarahan panjang dalam suka duka lewat menyadari dirinya kuat, mau rajin dan tabah dalam beriktiar untuk mencapai kesuksesan.

Ekaristi menjadi dasar kekuatan batin mereka
Ekaristi menjadi dasar kekuatan batin mereka. Foto google.com

Upaya-upaya tak kenal lelah kelompok perempuan keluarga migran ini telah sampai pada telinga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai, berkat upaya lobi dan advokasi Caritas Ruteng. Dinas Pertanian bersepakat untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok dampingan Caritas Ruteng ini dalam bentuk penjualan produksi pupuk kelompok. Produksi pupuk organik mereka akan dibeli oleh Dinas Pertanian dan pupuk tersebut akan dikembalikan kepada kelompok untuk digunakan lagi. Target pertama perjanjian ini adalah Dinas Pertanian akan membeli 16 ton produksi pupuk organik dari 16 kelompok dampingan. Harga per kilogram adalah Rp. 1.500 (seribu lima ratus rupiah).

Pendampingan integral Caritas Ruteng bagi kelompok perempuan keluarga migran telah berjalan satu setengah tahun. Buah-buah pendampingan bagi mereka telah dinikmati manfaatnya oleh kelompok dampingan. Berangkat dari dermaga pendampingan pertanian organik, melampaui samudera luas dan berlabuh di dermaga pembebasan. Mewakili anggota kelompok, Maria Suel mengungkapkan pengalamannya demikian.

“Sekarang kami sudah didampingi dan sudah terlatih dari dampingan Caritas. Kami merasa bangga dan senang sekali, karena kami tidak pernah (lagi) mengeluarkan uang untuk beli pupuk (kimia). Kami sudah bisa buat pupuk sendiri, buat mol, cara penggunaanya. Kami sudah tahu semua”.

Pengalaman senada juga disampaikan oleh kelompok-kelompok dampingan di Lengor, Beokina, yang mengekspresikannya dengan menciptakan lagu mars “Caritas Ruteng” sebagai berikut:

“Caritas Keuskupan Ruteng,

Siap untuk melayani,

Wujudkan masyarakat sejahtera,

Membangun Kerajaan Allah.”

Untuk melihat video profil, silahkan unduh dalam link berikut:

https://youtu.be/b4zpCOwxZ98

#KARINA – Caritas Indonesia (ditulis oleh AS)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta