Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan dan Pengurangan Risiko Bencana – Caritas Indonesia – KARINA

Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan dan Pengurangan Risiko Bencana

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaKemiskinan merupakan permasalahan sejak zaman purbakala yang terus menerus berkembang dan mendesak untuk dipecahkan. Perkembangan pemahaman dan cara pandang mengenai kemiskinan berimplikasi pada cara untuk mengatasinya. Dalam ranah pemberdayaan masyarakat, konsep kemiskinan telah mengalami evolusi di tengah pergumulan mencari jawaban yang tepat atas masalah tersebut. Sebelum tahun 1970-an, kemiskinan dijabarkan dalam perspektif ekonomi saja, yakni ketiadaan penghasilan (untuk dapat membeli kebutuhan pokok) atau secara makro ditinjau dari GNP per kapita.

Karina - Caritas Indonesia

Pada dasawarsa 1970, konsep mengenai kebutuhan dasar mengalami perkembangan. Yang juga termasuk dalam kebutuhan dasar antara lain akses untuk barang-barang kebutuhan pokok lainnya seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta unsur-unsur lain yang menunjang kehidupan sehari-hari. Pada tahun 1980an, pendekatan kebutuhan hidup mulai ditinggalkan. Orang mulai melihat kemiskinan sebagai dampak yang dirasakan oleh orang miskin karena kerentanannya dalam hal ekologis, ekonomi, dan politik. Kemiskinan dipandang sebagai sebuah konsep relatif dimana aspek-aspek sosial, politik, moral, dan budaya juga terlibat didalamnya. Pada tahun 1990an, kemiskinan beserta proses yang menyebabkan terjadinya kemiskinan dipandang sebagai masalah multidimensi (polsosbudek – politik, sosial, budaya, ekonomi, ekologi) dan sangat kontekstual.

Cara pandang terhadap kemiskinan ini jugalah yang mendorong munculnya pendekatan-pendekatan baru untuk mengatasi masalah kemiskinan. Salah satu pendekatan yang gencar dipromosikan di kalangan pegiat pemberdayaan masyarakat ialah ‘Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan’ (Sustainable Livelihood Approach atau SLA). Pendekatan ini mengedepankan kerangka kerja analitis yang mengkaji proses dan akar kemiskinan. Sebagai sebuah kerangka kerja, pendekatan penghidupan berkelanjutan memberikan penghargaan atas definisi lokal mengenai kemiskinan dan mempertimbangkannya dalam proses mengkaji akar kemiskinan itu sendiri.

Karina - Caritas Indonesia

Sebagaimana tampak dalam bagan Kerangka Kerja Penghidupan Berkelanjutan (Sustainable Livelihood Framework) di atas, kerentanan masyarakat miskin dikaji dengan Segi Lima Aset (Pentagon Asset) yang memasukkan 5 jenis modal (capital) dalam masyarakat, yaitu modal manusia (human capital), modal alam (natural capital), modal fisik (physical capital), modal finansial (financial capital), dan modal sosial (social capital). Beberapa ahli menambahkan 1 jenis modal lagi, yakni modal politik (political capital) yang tak jarang juga digabungkan ke dalam modal sosial.

Mengkaji modal manusia berarti mengeksplorasi bagaimana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sumberdaya manusia di masyarakat itu sendiri serta potensi apa yang masih dapat dikembangkan untuk mengurangi kerentanan masyarakat, misalkan dengan melihat komposisi kelompok rentan, jumlah difabel, pola perilaku sehari-hari, dan lain-lain. Apa dukungan yang diberikan alam sekitar dan bahaya apa yang mungkin dibawanya dikaji dalam aspek modal alam, sedangkan kesiapan dan kekurangan infrastruktur dikaji melalui aspek modal fisik. Aspek modal finansial dikaji dengan melihat kekuatan dan kelemahan masyarakat dalam hal keuangan, apakah memiliki ketahanan yang cukup ketika dilanda masalah. Sementara aspek modal sosial dikaji dengan melihat sejauh mana ikatan-ikatan sosial menjadi kekuatan atau justru kelemahan di masyarakat. Sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masyarakat atas kelima jenis capital ini. Aspek-aspek tersebut akan menjadi latar belakang bagi masyarakat atau para pembuat kebijakan didalamnya untuk merumuskan strategi dan kebijakan apa yang dapat diambil dalam rangka melakukan intervensi untuk mereduksi permasalahan kemiskinan di masyarakat. Hasil akhir yang idealnya harus dicapai ialah penghasilan yang layak, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, menurunnya kerentanan masyarakat, menguatnya ketahanan pangan masyarakat, dan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan.

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pendekatan penghidupan berkelanjutan antara lain perlunya intervensi program yang berfokus pada kaum miskin dimana itu juga mengedepankan partisipasi mereka dan mendorong kemitraan dengan pelaku pemberdayaan masyarakat lain. Berdasarkan kajian yang dilakukan secara partisipatif, program-program penghidupan yang dirancang mesti bertumpu pada kearifan lokal dan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri sehingga dapat pula memperkuat aspek subsidiaritas masyarakat. Satu hal yang perlu juga dilihat adalah perlunya pendekatan holistik dengan melihat keterhubungan antara sektor penghidupan dengan sektor lain di masyarakat, seperti sektor kesehatan dan pendidikan. Dalam konteks pelayanan kemanusiaan, dimanakah posisi pengembangan program-program penghidupan dalam arus besar pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction atau DRR), mengingat masyarakat miskin merupakan kelompok yang rentan ketika terjadi bencana?

Konsep dasar pengurangan risiko bencana yang menjadi ikhtiar untuk mengurangi ancaman risiko (risk) dengan memperkuat kapasitas masyarakat (capacity) untuk bisa mengurangi kerentanan (vulnerability) yang dimilikinya dan menghadapi bahaya (hazard) yang datang digambarkan dalam analogi persamaan sebagai berikut:

Konsep kerentanan sebagaimana dimunculkan dalam persamaan diatas juga menjadi perhatian dari pendekatan penghidupan berkelanjutan. Dalam pendekatan penghidupan berkelanjutan, kerentanan mencakup beberapa aspek, yaitu guncangan(shocks), musiman (seasonality), kecenderungan (trends), dan perubahan (changes). Guncangan dapat diterjemahkan sebagai kondisi-kondisi yang mendadak muncul dan menggoyahkan kondisi stabil yang terjadi, seperti wabah penyakit menular, bahaya alam, resesi ekonomi, dan lain-lain. Hal-hal yang bisa terjadi secara musiman antara lain inflasi (biasa terjadi menjelang Lebaran), musim pesta, atau musim pesta perkawinan. Sementara kecenderungan dan perubahan dapat berupa perubahan sistem politik, perubahan sistem produksi pertanian, dan lain-lain. Mengacu pada uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa pendekatan penghidupan berkelanjutan telah menaruh perhatian pada aspek pengurangan risiko bencana dalam implementasinya. Pendapat ini pertama kali diangkat oleh DFID melalui dokumen The White Paper (1997) yang memasukkan unsur sosial ekonomi sebagai salah satu faktor penting dalam kerentanan masyarakat terhadap bencana. Ditekankan pula bahwa melindungi dan membangun sumber penghidupan masyarakat, terutama kaum miskin, akan dapat mengurangi kerentanannya terhadap bencana.

Dalam konteks lapangan, kajian atas risiko, bahaya, kerentanan, dan kapasitas yang bertolak dari persamaan bencana relevan untuk diterapkan secara spesifik untuk bidang penghidupan. Secara umum teknik yang digunakan bertumpu dari teknik-teknik Kajian Pedesaan Partisipatif (Participatory Rural Appraisal atau PRA) yang dikembangkan dengan perspektif kebencanaan menjadi Kajian Risiko Bencana Partisipatif (Participatory Disaster Risk Assesment atau PDRA). Lima jenis modal dalam Segi Lima Aset sebagaimana tampak pada bagan Kerangka Kerja Penghidupan Berkelanjutan menjadi pintu masuk untuk mengkaji kerentanan dan kapasitas masyarakat secara mendalam.

Bertolak dari pemahaman mengenai bagan Kerangka Kerja Penghidupan Berkelanjutan dan persamaan bencana dapat ditarik benang merah bahwa keduanya saling terkait erat. Bahkan secara umum, kerja-kerja pemberdayaan masyarakat juga seharusnya mencakup unsur melindungi dan menguatkan penghidupan masyarakat sebagai upaya untuk menjadikan masyarakat semakin tangguh (resilient) dalam menghadapi bencana. Ketika bencana terjadi, yang menjadi penting dalam menanggapinya ialah memastikan bahwa dalam kondisi tanggap darurat (relief) maupun pemulihan (recovery) perlu memperhatikan aspek penghidupan. Dalam konteks pengembangan program pelayanan kemanusiaan, pengkombinasian antara program penghidupan berkelanjutan dan pengurangan risiko bencana merupakan kesempatan berharga untuk memperkuat pelayanan bagi masyarakat miskin, tanpa perlu memperselisihkan mana yang jauh lebih penting.

Penulis adalah Capacity Building Officer Karina KWI (Caritas Indonesia)

Saran untuk bacaan lebih lanjut:

  1. Andy Norton and Mike Foster. 2001. Working Paper 148: The Potential of Using Sustainable Livelihoods Approaches in Poverty Reduction Strategy Papers. London: Overseas Development Insititute.
  2. David Sanderson. (tanpa tahun). Livelihoods & Disaster Mitigation: Cities, Disaster, and Livelihood. London: Care UK.
  3. DFID. (tanpa tahun). The Sustainable Livelihood Glossary. London: DFID.
  4. DFID. (tanpa tahun). Key Sheet for Sustainable Livelihood: Overview. London: DFID.
  5. Provention Consortium Secretariat. 2007. Tools for Mainstreaming Disaster Risk Reduction: Guidance Notes for Development Organisations. Geneva: ProVention Consortium Secretariat
  6. Terry Cannon dkk. (tanpa tahun). Social Vulnerability, Sustainable Livelihood, and Disaster. Greenwich: University of Greenwich.
  7. Tom Franks dkk. 2004. Good bye to Projects?  The Institutional Impact of Sustainable Livelihoods Approaches on Development Interventions. (tanpa kota): (tanpa penerbit)
Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta