Pelatihan Kepemimpinan untuk Pekerja Kemanusiaan – Caritas Indonesia – KARINA

Pelatihan Kepemimpinan untuk Pekerja Kemanusiaan

17/05/2016

Pertengahan bulan Maret lalu, Caritas Asia bekerjasama dengan CRS Regional Asia mengadakan pelatihan kepemimpinan untuk para direktur dan pimpinan lembaga Caritas Nasional di wilayah Asia. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 10-13 Maret 2016 di Kota Bangkok dan berlangsung dalam beberapa bagian.

Pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dikoordinir oleh Caritas Asia, baik dalam bentuk penguatan kapasitas lembaga Caritas nasional, maupun kegiatan atau program yang dikerjakan bersama. Selain itu, para peserta juga diajak untuk melihat kembali apa motivasi yang menggerakkan mereka untuk terlibat dalam pelayanan Caritas, mengambil pembelajaran dan praktik baik dari implementasi kegiatan selama ini, serta mengembangkan aspek advokasi dalam bidang-bidang yang akan dikerjakan di lingkup Caritas Asia.

Pengenalan Bentuk-bentuk Respon Tanggap Darurat

Pada sesi respon tanggap darurat yang difasilitasi oleh Elizabeth Tromans, CRS’ Emergency Preparedness and Response Coordinator for East and South Asia Region, para peserta diperkenalkan beberapa bentuk bantuan darurat, seperti: pemberian barang-barang kebutuhan secara langsung (in-kind transfers), pemberian uang kepada para warga terdampak dengan atau tanpa syarat (cash transfers), dan pemberian kartu yang dapat ditukar dengan sejumlah barang kebutuhan atau pelayanan darurat (vouchers).

Selain membahas berbagai macam bentuk pemberian bantuan pada kondisi emergency, para peserta juga diajak untuk melakukan studi kasus demi melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model tersebut. Dari ketiga model pemberian bantuan di atas, para peserta dapat mengembangkan sendiri jenis-jenisnya sesuai dengan konteks dan kebutuhannya masing-masing.

Ilustrasi: Kenyamanan di tempat kerja dapat terwujud apabila ada gabungan pengalaman kebahagiaan dan pemaknaan hidup (Foto: Y. Baskoro).
Ilustrasi: Kenyamanan di tempat kerja dapat terwujud apabila ada gabungan pengalaman kebahagiaan dan pemaknaan hidup (Foto: Y. Baskoro).

 

Membangun Iklim Kerja Tim yang Baik

Dalam pelatihan ini, para direktur dan pimpinan juga diajak untuk memahami tentang pentingnya situasi yang nyaman dalam bekerja, khususnya dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sesi ini difasilitasi oleh Matt Bloom, seorang profesor dari Universitas Notre Dame, Amerika. Beliau memaparkan hasil risetnya tentang ‘wellbeing at work‘ yang dilakukan pada LSM internasional yang bekerja di bidang pelayanan kemanusiaan, termasuk beberapa anggota Caritas. Riset ini dibuat untuk mengetahui tingkatwellbeing lembaga-lembaga sosial-kemanusiaan di wilayah konflik, dalam menghadapi suasana kerja yang penuh tekanan.

Menurut Bloom, ada beberapa temuan penting dan relevan terkait dengan tingkat kesejahteraan atau kenyamanan pada jenis pekerjaan pelayanan kemanusiaan. Kenyamanan di tempat kerja ini dapat terwujud apabila ada gabungan pengalaman kebahagiaan (happiness) dan pemaknaan hidup (thriving) di tengah-tengah situasi yang merusak/tidak ideal/penuh tekanan/konflik. Wellbeing itu sendiri ditentukan oleh beberapa faktor, mulai dari karakter pribadi dan latar belakang personil, hingga posisi tanggung jawab pekerjaan dan budaya organisasi yang ada.

Wellbeing akan terwujud nyata apabila semua orang dapat menemukan makna hidup atau makna bekerja (thriving). Adapun makna hidup yang dimaksud adalah yang terkait dengan relasi yang baik dengan diri sendiri, relasi dengan orang lain (tim kerja) dan relasi dengan Tuhan. Kebalikan dari ‘thriving‘ adalah ‘languishing‘, yaitu tidak mempunyai makna hidup, kurang ada harapan, tidak mempunyai keinginan yang akan dicapai, tidak autentik terhadap diri sendiri, dsb.

Ilustrasi: Romo Adrianus Suyadi, SJ sebagai Direktur Eksekutif Caritas Indonesia-KARINA hadir dalam kegiatan 'Leadership Training Caritas Asia' tersebut (Foto: Y. Baskoro).
Ilustrasi: Romo Adrianus Suyadi, SJ sebagai Direktur Eksekutif Caritas Indonesia-KARINA hadir dalam kegiatan ‘Leadership Training Caritas Asia’ tersebut (Foto: Y. Baskoro).

 

Wellbeing selalu bersifat sosial, artinya mempengaruhi pada kehidupan orang lain. Dalam konteks kerja di Caritas wellbeing akan mempengaruhi pada kehidupan tim kerja, rekan kerja dan masyarakat yang dibantu/didampingi. Wellbeing akan terwujud apabila seluruh personil di tempat kerja terlibat aktif mengembangkan dan membagikan kebahagiaan dan makna hidup kepada semua orang. Dengan melakukan refleksi, maka makna bekerja akan muncul.

Sehingga para pekerja kemanusiaan semakin sadar bahwa mereka tidak hanya bekerja untuk mendapatkan upah/imbalan dan karir, namun juga berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai moral, spiritual dan kemanusiaan, serta komitmen/idelalisme pribadi.

Penulis: Adrianus Suyadi, SJ

Editor: Y. Baskoro

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta