Paus Fransiskus Menegaskan Kembali Keberpihakan Gereja Kepada Orang Miskin – Caritas Indonesia – KARINA

Paus Fransiskus Menegaskan Kembali Keberpihakan Gereja Kepada Orang Miskin

18/11/2016

Jadilah arsitek perdamaian dan rekonsiliasi diantara orang-orang, diantara komunitas dan umat beriman. Berikan seluruh energimu, komitmenmu di bidang karya ini, untuk bekerjasama dengan komunitas agama lain, seperti yang telah kamu lakukan, tempatkan martabat pribadi (manusia) sebagai pusat perhatianmu, kata Paus Fransikus kepada para delegasi Caritas Internationalis di Vatican, Roma, 17 November 2016.

Pada tanggal 17 November 2016 kemarin, Bapa Suci Fransiskus menerima sejumlah pimpinan dan delegasi Dewan Perwakilan Caritas seluruh dunia yang berkumpul di Roma. Bapa Suci menyampaikan wejangan, agar keluarga Caritas di seluruh dunia gigih berjuang mengatasi kemiskinan dan belajar dari orang miskin, dan melawan eksploitasi serta perendahan martabat manusia. Berikut teks wejangan Bapa Suci kepada delegasi Caritas sedunia, yang relevan juga untuk kita.

Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tagle pada pertemuan audiensi delegasi Caritas dengan Paus Fransiskus, Photo oleh Nicholson/Caritas
Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tagle pada pertemuan audiensi delegasi Caritas dengan Paus Fransiskus, Photo oleh Nicholson/Caritas

“Saudari-saudara yang terkasih, saya ucapkan selamat datang, anggota Dewan Perwakilan Caritas Internationalis dan staf Caritas Internationalis. Saya senang menerima kamu di akhir pertemuan lembaga (konfederasi Caritas Internationalis) dan bertemu, melalui kamu, seluruh keluarga Caritas nasional dan mereka yang berada di Negara mereka masing-masing, yang berkomitmen untuk pelayanan kasih Gereja. Saya ucapkan terima kasih kepada Kardinal Antonio Tagle, Presidenmu, atas sambutan pengantarnya untuk pertemuan ini.

Gereja “ada untuk penginjilan”, namun penginjilan perlu disesuaikan dengan situasi yang berbeda-beda, dengan memperhitungkan kehidupan sosial dan keluarga, serta kehidupan internasional yang memberi perhatian khusus pada perdamaian, keadilan dan pembangunan (cf. Evangelii Nuntiandi, 29).  Pada saat pembukaan Sinode Penginjilan Baru, Paus Benediktus XVI mengingatkan kembali bahwa dua pilar penginjilan: “Confessio et Caritas” (Pujian dan Kasih); dan saya sendiri memusatkan perhatian pada sebuah bab dalam Anjuran Apostolis Evangelii Gaudium tentang dimensi sosial penginjilan, dengan menegaskan kembali keberpihakan Gereja pada orang miskin. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk berjuang melawan penelantaran sosial bagi mereka yang lemah dan berkarya untuk merangkul mereka. Pada kenyataanya, masyarakat kita seringkali didominasi oleh “budaya memanfaatkan”; mereka perlu mengatasi sikap acuh tak acuh dan pemusatan pada diri sendiri untuk belajar seni bersolidaritas. Karena, “kita, yang kuat, kata Santo Paulus, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri” (roma 15:1).

Kardinal Tagle mengunjungi dan memberkati para tahanan di Filipina (photo google)
Kardinal Tagle mengunjungi dan memberkati para tahanan di Filipina (photo google)

Hal ini membuat kita paham betapa penting misi berbagai Caritas nasional dan peran khusus mereka di dalam Gereja. Pada kenyataannya, mereka bukanlah lembaga sosial tetapi organisme gerejawi yang ambil bagian dalam misi Gereja. Sebagai mana tertulis dalam Anggaran Dasar kamu, kamu dipanggil untuk membantu Paus dan para Uskup dalam pelayanan kasih mereka (Bab 1.4). Urgensi sosial pada jaman ini memerlukan bahwa apa yang Santo Yohanes Paulus II rumuskan sebagai “imaginasi baru kasih” diwujudnyatakan (Novo Millenio Ineunte, 50): ini diwujudnyatakan tidak hanya dalam manfaat bantuan yang diberikan, tetapi secara khusus kemampuan diri untuk dekat, menemani mereka yang tidak beruntung dengan sikap berbagi penuh persaudaraan. Ini tentang berbuat amal kasih dan keadilan bersinar di dunia dalam terang Injil dan ajaran Gereja, dengan melibatkan orang miskin sendiri, sehingga mereka menjadi tokoh utama sebenarnya dalam perkembangan mereka.

Atas nama Gereja, saya mengucapkan terima kasih banyak atas apa yang kamu lakukan untuk orang kecil. Saya memberi semangat kepadamu untuk meneruskan misi ini, yang membuat Gereja merasakan sebagai sesama peziarah sejati, dekat dengan hati dan harapan umat manusia di dunia ini. Teruskan mengabarkan sukacita injili kepada segenap dunia, khususnya mereka yang ditelantarkan, tetapi juga kepada mereka yang mempunyai kekuatan untuk mengubah segala sesuatu, karena itu mungkin untuk berubah. Kemiskinan, kelaparan, sakit, penindasan bukan sesuatu yang fatal dan bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Percaya pada kekuatan Injil, kita benar-benar dapat berkontribusi untuk perubahan atau sekurang-kurangnya memperbaikinya. Kita dapat menegaskan kembali martabat mereka yang menantikan tanda kasih kita dan melindungi serta membangun bersama-sama “rumah kita bersama”.

Dunia adalah rumah kita bersama, ilustrasi photo google
Dunia adalah rumah kita bersama, ilustrasi photo google

Saya mengajak kamu untuk selalu memiliki keberanian profetis, untuk menolak segala sesuatu yang merendahkan manusia dan berbagai bentuk eksploitasi yang merendahkan martabat. Teruslah memberikan tanda-tanda kecil dan besar tentang hospitalitas dan solidaritas yang dapat menerangi kehidupan anak-anak, orang lanjut usia, para perantau (migran) dan pengungsi dalam mencari perdamaian. Saya sangat senang belajar bahwa Caritas Internationalis akan berkampanye tentang masalah migran. Saya berharap bahwa inisiatif yang indah ini akan membuka hati banyak orang untuk menerima pengungsi dan migran, sehingga mereka dapat benar-benar merasa krasan di komunitas kita. Inilah keterlibatanmu untuk membantu, dengan pembaharuan komitmen, proses perkembangan dan jalan-jalan perdamaian di negara-negara, dari mana saudari-saudara kita lari meninggalkan negaranya untuk mencari kehidupan masa depan yang lebih baik.

Jadilah arsitek perdamaian dan rekonsiliasi diantara orang-orang, diantara komunitas dan umat beriman. Berikan seluruh energimu, komitmenmu di bidang karya ini dengan mensinergikan dengan komunitas agama lain, seperti yang kamu lakukan, tempatkan martabat pribadi (manusia) sebagai pusat perhatianmu. Berjuang melawan kemiskinan dan pada saat yang sama, belajarlah dari orang-orang miskin. Biarkan dirimu mendapatkan inspirasi dan dibimbing oleh kesederhanaan hidup mereka, nilai-nilai mereka, dengan semangat solidaritas dan kesediaan berbagi mereka, dengan kemampuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan khususnya dengan pengalaman hidup mereka seperti Kristus yang menderita, Dia yang adalah Tuhan dan Penyelamat. Oleh karena itu belajarlah juga dari hidup doa dan kepercayaan mereka pada Tuhan.

Saya berharap bahwa dengan dukungan dan perhatian pastoral para Uskup, kamu dapat terus menerus memberikan kesaksian tentang pelayanan kasih secara cuma-cuma, membantu komunitas umat beriman menjadi tempat pewartaan Injil, perayaan Ekaristi dan pelayanan penuh bahagia bagi orang miskin.

Saya memohon dengan bantuan Maria, bunda sorgawi kita, sambil meminta kamu untuk mendoakan saya, saya dengan senang hati memohon berkat Tuhan atas mu dan atas mereka yang membantu dalam karya pelayananmu”.***

(terjemahan bebas dari L’OSSERVATORE ROMANO, 17 November 2016, versi bahasa Inggris, oleh Adrianus Suyadi, SJ. Kredit foto #Caritas Internationalis)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta