Mereka Yang Menggandakan Talenta – Caritas Indonesia – KARINA

Mereka Yang Menggandakan Talenta

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas Indonesia‘Putaran kedua’ begitu kami menyebutnya, sudah berakhir. Pembekalan memampukan para pekerja pastoral untuk dapat melaksanakan kegiatan di paroki masing-masing sudah terlaksana di tiga area.Menyusun rencana kegiatan, anggaran, persiapan pelaksanaan hingga membuat laporannya dilahap seluruh peserta. Berbekal rencana kegiatan yang disusun dalam pelatihan, para pekerja mulai menjalankan mandatnya. Melapor pada pastor, mencari orang-orang yang bisa diajak diskusi, menggali potensi yang ada di paroki. Tanpa upah atas jerih payah, mereka bekerja. Bekerja di ladang Tuhan, berharap dapat bekal menghadapNya sebagai ‘ganjaran’.

Seleksi alam mulai terjadi. Tidak semua paroki dan peserta, setia dan sanggup menjalaninya. Atas nama banyak kendala, pelatihan tahap kedua hanya 12 dari 17 paroki yang hadir. Dari 54 pekerja semula, tinggal 30 yang ada. Memang ini hal yang biasa terjadi dimana-mana.

Belum genap dua bulan berselang dari akhir pelatihan, satu paroki sudah siap beraksi. Paroki Idanogawo pada tanggal 10 Februari 2011, menyelenggarakan Seminar Sehari: Kesetaraan laki-laki dan perempuan. Fangaboto Bad?d? ba Fag?l?sa Mbosinia Ndamatua ba Ira Alawe, begitu judul seminar itu dalam bahasa Nias.

Ditilik dari personilnya, alumni peserta disini berpendidikan rata-rata menengah kebawah dibanding alumni dari 11 paroki yang lain. Ditengok dari parokinya, paroki ini masih jauh dari mandiri.

Namun dilihat dari keinginan belajar, semangat dan daya juangnya, mereka sangat mempesona.

‘Modul itu pernah berceceran dan kotor. Kantong kreseknya robek dan jatuh ditempat yang berlumpur waktu kami berada dijalanan yang licin dan berbatu menuju stasi,’ begitu penuturan Pak Asazatul? Zai menceritakan pengalamannya mengimplementasikan rencana tindak lanjut dari pelatihan tahap pertama.

Kekompakan dan pelayanan pastor paroki dan pastor pembantu, di paroki Idanogawo ini, sungguh layak ditiru. Mereka bahu membahu memajukan umat, sungguh hati dalam mendampingi dan mendorong umat yang berpotensi. Maka tidak mengherankan kalau paroki ini cepat bergerak, mengimplementasikan hasil pelatihan tahap kedua.

Biji yang ditanam mulai dituai. Virus yang disebar, sudah menjalar. Bak kanker yang cepat menjalar, kesadaran kesetaraan itu menggugah minat. Dua puluh empat stasi diundang, hanya dua yang tidak datang. Dari semula hanya 30an yang diharapkan datang, 90 yang hadir menjadi peserta.

Sungguh mencengangkan antusiasme mereka. Ini bisa dirasakan dari peserta yang mengatakan ‘Kami terlambat karena tadi harus berganti baju dulu. Baju kami basah terkena air laut yang sepanjang perjalanan masuk ke perahu kecil kami’.

Bukan hanya menyeberang sungai. Tetapi laut harus mereka lewati untuk sampai di lokasi, aula paroki.

Dua setengah jam menempuh perjalanan dengan jalan kaki, naik perahu dan menumpang becak motor, empat ibu muda dari stasi Lawalo senang dapat mengikuti seminar. ‘Sebenarnya dari kami hanya dua yang diminta untuk mewakili. Tapi kami semua pengin ikut’ begitu pernyataan salah satu ibu itu.

Selain mereka berempat, puluhan peserta yang berasal dari stasi Sisobahili, Soewali dan Lasara Idanohili harus menghabiskan tiga jam jalan kaki untuk pergi. Enam jam mereka relakan untuk menempuh jalan pergi pulang, menyusuri jalan sungai.

Kepercayaan diri dan penguasaan materi para alumni, tak perlu diragukan lagi.

Tidak ada kilatan grogi, tetapi jusru berapi-api dihadapan puluhan pasang mata para peserta. Berbagai materi tertutur dengan rapi penuh isi, menuntaskan pagi hingga siang.

Diawali dengan materi pemahaman kesetaraan laki-laki dan diakhiri pengenalan UU No. 23 tahun 2004 tentang tentang Perlindungan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dimana yang biasa menjadi korbannya adalah perempuan, menjadi materi-materi yang dipersiapkan semua tersampaikan.

Merasa tidak cukup hanya mereka yang bicara, dan untuk menjawab pertanyaan atas penyelesaian kasus-kasus yang biasa ada, satu orang didatangkan. Bapak Faigiasa Bawamenewi, SH. Seorang sarjana hukum yang pernah menjadi polisi, tidak hanya menyampaikan teori tetapi fakta yang terjadi sehari-hari.

Meskipun seminar, tetapi suasana sharing pengalaman kuat terasa auranya. Kesempatan perjumpaan ini seolah menjadi ruang untuk mencurahkan isi hati, menceriterakan kondisi yang dihadapi sehari-hari. Ada keluhan, ada tanggapan, ada nasehat, muncul harapan dan tak luput gugatan.

‘Dalam hal ini saya menyalahkan perempuan’ begitu kata pembuka seorang ibu setengah baya. ‘Makanya, perempuan itu harus berani bicara. Bilang apa maunya, dan ungkapkan kalau tidak suka. Jangan diam saja’ begitu imbuhnya ketika menanggapi banyaknya kekerasan terhadap kaumnya.

Selain menggugat kaumnya, ibu ini juga memberi usulan, agar diadakan sosialisasi tentang UU Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, khusus untuk kaum laki-laki. Ketika ditanya mengapa beliua merekamondasikan itu, ‘Karena laki-laki yang biasanya menjadi pelakunya’ begitu alasannya.

Divisi Gender Caritas Keuskupan Sibolga, patut berbangga hati. Apa yang telah ditebar sudah ada yang mulai tumbuh dan berbuah. Dua kali pelatihan yang diselengarakan tak sia-sia. Meski tidak boleh berhenti terus mendampingi dan memberi isi, keberhasilan alumni di paroki-paroki layak untuk disyukuri.

Dua putaran cukup memberi bekal, meskipun dapat dikatakan hanya minimal. Tetapi untuk yang sungguh mau belajar, bekerja keras dan tidak ragu mencoba, semua bisa terjadi.

Dari lima, terbukti mampu menjadi sembilan puluh. Memang butuh usaha dan kerja nyata agar talenta dapat berlipat ganda.(Veronica Purwaningsih-Caritas Keuskupan Sibolga)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta