Merajut Kebahagiaan di Waikabubak, Pengalaman Mahasiswi Magang dari Binus University – Caritas Indonesia – KARINA

Merajut Kebahagiaan di Waikabubak, Pengalaman Mahasiswi Magang dari Binus University

02/11/2016
waikabubak26-1

“NTT? Kenapa jauh sekali?” Mungkin itu kalimat pertama yang keluar dari kebanyakan orang ketika mendengar bahwa penulis akan melakukan magang di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penulis adalah seorang mahasiswi aktif semester VII di Bina Nusantara (Binus) University, Jakarta dari angkatan 2013. Keberadaan penulis di Waikabubak adalah sebagai Guru Bahasa Mandarin di SMA Katolik Sint Pieter selama lima bulan (September 2016 s/d Februari 2017). Kegiatan magang ini adalah salah satu bagian dari jalur Program Community Development 3+1 dari Binus University yang wajib diikuti oleh mahasiswa/i semester V dan VII. Sejujurnya, penulis tidak mempunyai pemikiran sama sekali untuk mengambil jalur “comdev”. Akan tetapi, atas saran seorang teman maka kemudian jalur ini dipilih. Melalui pihak universitas, maka penulis mendapatkan ijin untuk melakukan comdev di daerah NTT. Pilihan untuk mengajar di NTT dapat terwujud atas kerjasama Binus University dengan Yayasan Caritas Indonesia (KARINA). Dengan segala perjuangan dan penantian, akhirnya penulis berangkat ke Kota Waikabubak pada 12 September 2016. Rasa takut, sedih, bersemangat, penasaran, dan khawatir menyelimuti penulis yang akan memulai sebuah langkah baru. Ketakutan penulis muncul karena tak seorangpun yang dikenal di kota ini. Kesedihan menghampiri pada saat harus berpisah dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman di Jakarta. Rasa khawatirpun sempat menyeruak ketika mulai ragu untuk bisa beradaptasi di tempat yang baru. Namun, penulis juga bersemangat untuk segera mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Yaitu, sebuah petualangan baru selama 5 bulan ke depan! 15 menit sebelum mendarat di Bandara Tambolaka, Waikabubak, penulis melihat ke bawah. Pemandangan dari pesawat nampak sebuah wilayah yang kering dan sepi. Tidak banyak rumah yang terlihat dari atas, hanya wilayah gersang berwarna kecoklatan yang menghiasi kota ini. Hawa panas dan lembab terasa pada saat mendarat hingga masuk ke pintu kedatangan di bandara. Di sana, Bapak Laurensius Juang atau biasa disapa Pak Lorens, yang bekerja di Keuskupan Weetebula, sudah menunggu dan siap untuk menjemput.

Tiba di Bandar Udara Tambolaka. Untuk pertama kalinya Rani menginjakkan kakinya di wilayah NTT (Foto: Rahani K. Arbianti).
Tiba di Bandar Udara Tambolaka. Untuk pertama kalinya Rani menginjakkan kakinya di wilayah NTT (Foto: Rahani K. Arbianti).

Setelah mengambil  bagasi, akhirnya penulis dan Pak Lorens naik ke mobil untuk menuju ke kos-kosan yang akan ditempati selama tugas magang ini. Selama perjalanan Pak Lorens menceritakan banyak hal tentang daerah ini. Bandara Tombolaka ini memang terletak di wilayah Sumba Barat Daya yang cukup kering dan gersang daerahnya. Sehingga tidak heran cuacanya cukup panas pada siang hari. Hal ini cukup berbeda dengan wilayah Sumba Barat yang lebih sejuk dan hijau daerahnya. Di tengah perjalanan, kami mampir ke rumah seorang kawan dari Pak Lorens yang sedang melaksanakan acara pemotongan hewan kurban. Tuan rumah menjamu kami dengan sop dan sate kambing yang baru saja matang. Mereka berkenalan dengan penulis dan cukup senang karena mengetahui niat penulis untuk mengajar dan tinggal selama lima bulan di Waikabubak. Mereka juga sangat antusias untuk mengobrol karena cukup jarang kedatangan seorang tamu dari jauh. Setelah singgah untuk beberapa saat, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tempat kos yang jaraknya hanya 200 meter dari SMA Katolik Sint Pieter. Tiba di sana, kami disambut oleh Papa dan Mama Fritz, pemilik rumah kos tersebut. Mereka menyambut penulis dengan suka cita, lalu mengajak berbincang-bincang di teras rumah. Tiba-tiba, Pak Lorens muncul dengan membawa segelas air dan memercikkan air dengan jari-jarinya ke tubuh penulis. “Selamat datang Nona Rani di rumah baru nona sampai lima bulan nanti. Inilah kebiasaan orang Sumba untuk memberkati tamu yang akan tinggal di rumah baru. Silahkan masuk,” kata Pak Lorens. Keesokan harinya, penulis berangkat ke sekolah untuk melaporkan diri ke Kepala Sekolah. Perasaan gugup dan bersemangat bercampur menjadi satu saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sekolah ini. Pun demikian dengan siswa dan siswinya. Mereka menatap penasaran dan tidak sedikit yang berbisik dan tersenyum-senyum kepada penulis. Beberapa di antara mereka ada yang langsung buru-buru memanggil temannya untuk melihat penulis. Kemudian semua siswa berkumpul di lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Kepala Sekolah SMA Katolik Sint Pieter, Bapak Laurensius Dairo Riti, langsung memperkenalkan penulis kepada seluruh warga sekolah dan menjelaskan maksud dan tujuan penulis ada di sekolah ini. Setelah selesai memperkenalkan diri pada apel pagi, kemudian penulis masuk ke ruang guru dan berbincang dengan para guru. Kemudian kepala sekolah mengajak penulis untuk melihat lingkungan sekolah sambil menceritakan riwayat sekolah yang baru berusia lima tahun.

Suasana SMA Sint Pieter yang masih asri oleh pepohonan (Foto: Rahani K. Arbianti).
Suasana SMA Katolik Sint Pieter yang masih asri oleh pepohonan (Foto: Rahani K. Arbianti).

Sekolah ini sangat sederhana, namun asri sekali. Masih banyak pohon yang membuat suasana sekolahnya menjadi sejuk. Kompleks bangunan ini tidak berpagar dan jalan penghubung antar bangunan di dalam sekolah masih bebatuan. Terdapat enam ruang kelas, sebuah ruang guru, ruang kepala sekolah, kantin darurat dan enam kamar mandi di sini. Para siswa yang ada di sini sangat sederhana dan tidak berlebihan gayanya. Meskipun masih banyak yang malu-malu, mereka sangat bersemangat untuk bertanya dan mengenal penulis pada pertemuan berikutnya. Semua kelas, semua siswa, ingin tahu lebih banyak tentang penulis. Senang rasanya mengetahui bahwa kedatangan penulis telah ditunggu-tunggu oleh mereka. Rasa penasaran para siswa kepada guru Bahasa Mandarin terjawab sudah. Benar saja, mereka saling berebutan agar penulis mengajar di semua kelas mereka. Walaupun pada awalnya susah untuk melafalkan aksara China, tetapi mereka tetap semangat untuk mencoba. Mereka juga tidak segan untuk bertanya jika mereka tidak mengerti. Ini semua melebihi ekspektasi penulis sebelum memutuskan untuk berangkat ke Waikabubak. Para siswa sangat antusias dalam belajar Bahasa Mandarin. Mereka selalu berkata “yesss!!!” apabila ada materi baru yang akan diajarkan. Ada beberapa siswa yang cukup menonjol di setiap kelas. Mereka dapat lebih cepat memahami materi. Bahkan, dalam waktu empat kali pertemuan saja, mereka sudah dapat menyebutkan beberapa sapaan dan kalimat pendek dalam bahasa Mandarin dengan benar. Hal ini tentu saja memberikan semangat tambahan bagi penulis untuk mengajar di sekolah ini.

Suasana ruang kelas yang dipakai Rani untuk mengajar Bahasa Mandarin (Foto: Rahani K. Arbianti).
Suasana ruang kelas yang dipakai Rani untuk mengajar Bahasa Mandarin (Foto: Rahani K. Arbianti).

Selain melakukan kegiatan belajar mengajar, penulis juga mengikuti kegiatan lain bersama paguyuban setempat. Papa & Mama Fritz mengajak penulis untuk mengikuti latihan tari khas daerah Sumba yang rencananya akan ditampilkan dalam sebuah karnaval pada tanggal 15 September. Selama tiga malam latihan tari, penulis sudah bisa menguasai setiap gerakannya. Tarian tradisional ini sangat unik karena para penari lebih mengandalkan gerakan kaki yang mengikuti alunan musik dengan irama dan nada yang bersemangat.

***

Berbeda seperti di Jakarta, suasana Waikabubak sangat menenangkan. Suhu udara di siang hari berkisar antara 23-25°C, dan malam hari berkisar antara 18-20°C. Kota ini sepi, sejuk dan waktu berjalan tanpa buru-buru. Tidak banyak kendaraan bermotor yang lewat di depan rumah. Beberapa warga masih menggunakan kuda untuk pergi ke kios. Bahkan pemilik kerbau membiarkan kerbau-kerbaunya bergerombol di jalan raya tanpa harus khawatir akan membuat macet. Setiap keluarga memiliki anjing penjaga dan memelihara babi di belakang rumahnya. Penduduk di sini masih banyak yang makan sirih pinang. Mereka rukun dan mengenal satu sama lain. Jika ada berita duka atau peristiwa besar yang terjadi di suatu tempat, maka berita itu akan dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut ke seluruh daerah di Waikabubak. Walaupun di sini sudah ada pasar darurat, namun banyak warga yang menjual hasil kebun mereka, seperti kangkung, bayam, daun singkong, dll., di depan rumahnya.

Suasana malam hari di salah satu sudut kota (Foto: Rahani K. Arbianti).

Dibutuhkan waktu sekitar 10 menit dari rumah kos ke kota dengan menggunakan sepeda motor dan sekitar 15-20 menit dengan menggunakan otto/bemo (angkutan umum). Ongkos untuk naik otto adalah Rp. 4.000, sedangkan ongkos untuk naik ojek adalah Rp. 5.000, asal masih di dalam kota. Terdapat pasar tradisional dan kios-kios yang lebih besar yang menjual peralatan dan perlengkapan rumah tangga di kota. Namun, semua tempat berbelanja akan tutup pada pukul 19.00 WIT untuk menghindari ganguan ancaman keamanan. Jadi bisa dipastikan pada malam hari daerah kota sudah sepi.

***

Tanggal 15 September, penulis mendampingi siswa-siswi SMA Katolik Sint Pieter untuk mengikuti karnaval. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Barat dalam rangka hari ulang tahun Republik Indonesia ke-71. Karnaval dimulai dari depan SMA Kristen Waikabubak dan finis di Lapangan Gelora Padaeweta. Semua peserta karnaval memakai kain dan sarung khas Sumba. Acara semacam ini menjadi hiburan tersendiri bagi warga Sumba. Masyarakat menonton jalannya karnaval di pinggir jalan sepanjang 2 kilometer.

Karnaval yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Barat (Foto: Rahani K. Arbianti).
Karnaval yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Barat (Foto: Rahani K. Arbianti).

Selain mengikuti karnaval, penulis juga berkesempatan untuk mengikuti upacara pernikahan. Berbeda dengan kebiasaan memberi ucapan selamat kepada mempelai pada upacara pernikahan di Jakarta, tamu-tamu yang hadir memberikan cium hidung (hidung bertemu hidung) sebagai tanda ucapan selamat. Lali-laki, perempuan, tua, maupun muda melakukan cium hidung. Walaupun tidak terbiasa, penulis akhirnya juga melakukan cium hidung untuk memeriahkan acara tsb. Pesta pernikahan diselenggarakan dengan jamuan makan malam dan menari bersama-sama. Selama di sini, penulis berkesempatan untuk mengunjungi Kampung Adat Prai Injing dan Tarung. Jaraknya sekitar 30 menit dari Waikabubak dengan menggunakan sepeda motor. Rumah-rumah di Kampung Prai Injing masih menggunakan daun ilalang kering sebagai atapnya. Walaupun tidak banyak aktivitas penduduk yang terlihat, namun pemandangan di kampung ini masih sangat alami dan bagus. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Kampung Tarung. Rumah tradisional di kampung ini terdiri dari tiga tingkat: atas untuk menyimpan persediaan makanan, tengah untuk tempat tinggal dan bawah untuk kandang ternak. Aktivitas penduduk di sini jauh lebih kelihatan, ada yang sedang menenun, serta menumbuk dan membersihkan beras.

***

Rani bersama teman-teman di sana saat mengunjungi Kampung Adat Praijing & Tarung (Foto: Rahani K. Arbianti).
Rani (tengah) bersama teman-teman di sana saat mengunjungi Kampung Adat Prai Injing & Tarung (Foto: Rahani K. Arbianti).

Setelah beberapa minggu di Waikabubak, penulis merasa mendapat banyak pengalaman baru. Keputusan untuk melakukan comdev di NTT tidak salah dan patut untuk disyukuri. Kehidupan masyarakat yang sederhana membuat penulis merasa bersyukur atas semua yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Kehidupan yang jauh dari gemerlap Kota Jakarta serta jauh dari keluarga dan teman-teman membuat penulis untuk dapat merasakan kebahagian bersama keluarga baru di Waikabubak. Penulis percaya bahwa sebagai manusia kita harus berani mengambil resiko untuk menjalani semua tantangan kehidupan yang ada. Karena pada akhirnya apa yang sudah kita kerjakan tidak akan pernah berakhir sia-sia. ▪   Penulis adalah Rahani Kusuma Arbianti (Rani), mahasiswi magang semester VII dari Fakultas Sastra China Bina Nusantara University Jakarta, yang mengajar Bahasa Mandarin di SMA Katolik Sint Pieter, Waikabubak. Program magang ini berlangsung atas kerjasama Bina Nusantara University Jakarta dengan Yayasan KARINA dan Keuskupan Weetebula. Editor: NAC KARINA.

Share

Send your donations to :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Bank Account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta