Menyiasati Bencana, Memanfaatkan Jaringan – Caritas Indonesia – KARINA

Menyiasati Bencana, Memanfaatkan Jaringan

23/10/2012
Karina - Caritaas Indonesia

Karina - Caritaas IndonesiaPengalaman Komisi PSE Keuskupan Manado menghadapi Gempa Kabaruan & Melonguane,Empat bulan lalu, gempa dahsyat berkekuatan 7,4 SR yang terjadi di wilayah Kepulauan Talaud. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di bagian utara Propinsi Sulawesi Utara. Wilayah paling utara Indonesia ini, bisa dicapai dengan penerbangan dan pelayaran dengan kapal ukuran sedang.

Setelah tiga kali peluit berbunyi, Kapal Vallerine yang kami tumpangi bergerak pelan meninggalkan Pelabuhan Manado menuju Pelabuhan Lirung di Kab. Kepulauan Talaud. Bersama penumpang lain, kami akan melewati malam dengan berlayar ke laut lepas menuju daerah terluar Indonesia. Dan panorama Gunung Manado Tua dan Pulau Bunaken yang terhampar di depan anjungan kapal beringsut hilang bersama tenggalamnya matahari.

Gempa pada 12 Februari 2009 yang lalu masih menyisakan kecemasan dan kesusahan bagi warga di seputaran Kepulauan Talaud. Gesekan dan patahan lempeng bumi terjadi tengah malam ketika warga di Kabaruan dan Melonguane sedang beristirahat. ‘Getaran gempa membuat banyak warga langsung terbangun dan bergegas menuju area terbuka,’ cerita Yangko Allo Pr, Pastor Paroki St. Familia, Mangaran. Di saat yang sama, ada sebagian warga menuju kebun-kebun yang berada di dataran yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami.

Karina - Caritas IndonesiaYangko Allo, Pr baru bertugas selama 9 bulan sebagai Pastor Paroki di St. Familia, Mangaran saat berhadapan dengan gempa bumi dahsyat pada Februari 2009

Warga di Mangaran sangat panik, gempa di tengah malam itu merupakan gempa hebat yang pertama kali terjadi di Kepulauan Talaud. Dan sesudah gempa itu, gempa-gempa kecil masih terjadi setiap lima menit. Secara alamiah warga dapat mengenali adanya gempa dari bunyi getaran yang terjadi pada seng yang menjadi bahan utama untuk atap rumah di Kabaruan. Desa terdampak yang paling parah adalah Desa Pangeran dan Desa Peret yang berada di sebelah pantai timur Pulau Kabaruan. Keadaan tersebut hingga kini masih dijumpai. Banyak tenda pengungsian masih berdiri di halaman-halaman rumah warga di Desa Pangeran.

Menyadari adanya situasi darurat tersebut, sehari setelah bencana dewan paroki dengan bantuan seluruh umat paroki langsung bergerak dengan membentuk posko bantuan bagi warga yang terkena dampak gempa. Bantuan tidak hanya datang dari warga setempat. PSE Keuskupan Manado juga dengan cepat berusaha mengerahkan segala daya untuk segera membantu. ‘Komitmen dari kami adalah ketika ada bencana, meskipun ada tugas lain yang sedang dikerjakan, tugas itu kami tinggalkan dan kami turun ke daerah bencana,’ ujar Ketua Komisi PSE Keuskupan Manado, Benny Salombre, Pr.

Bagi Pastor Benny, kecepatan dalam merespon merupakan kunci penanganan situasi darurat. ‘Di sini, banyak orang muda yang bersedia membantu, tetapi masalahnya banyak dari mereka yang tidak punya ketrampilan. Jika mereka pergi, lalu tidak tahu harus berbuat apa, karena minim keahlian untuk apa? Karena itu, tenggang waktu 24 – 36 jam sangat kritis untuk mengambil keputusan apa yang harus dibuat atas situasi yang terjadi,’ lanjut Pastor yang pernah bertugas di Paroki Malalayang, Manado. Untuk itu, sejak enam bulan lalu, Komisi PSE Keuskupan Manado secara khusus membentuk satu tim tanggap darurat.

Kerja Sama Dengan Semua Pihak
Melayani umat di wilayah yang amat luas, Keuskupan Manado yang mencakup tiga propinsi di utara Pulau Sulawesi (Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah) menyadari bahwa kerja kemanusiaan bukanlah kerja yang sederhana. Karena itu, selain satu tim tanggap bencana di tingkat keuskupan, umat di paroki-paroki di seluruh keuskupan adalah kekuatan tersendiri. ‘Di Keuskupan Manado ini, umat menjadi satu kekuatan dalam masa darurat, contohnya laporan dari Pak Devi, Sekretaris Paroki dan sekaligus katekis yang berada di Mangaran, demikian cepat. Demikian juga dalam hal koordinasi barang bantuan umat sangat membantu dalam karya ini,’ jelas Pastor Benny lagi.

Lewat informasi dari umat paroki, PSE Keuskupan mendapatkan laporan situasi dari Mangaran segera setelah gempa terjadi. Dalam waktu singkat, tim tanggap darurat PSE langsung memiliki keputusan untuk membantu warga terdampak. Informasi tersebut yang menjadi dasar bagi PSE untuk segera berkoordinasi untuk memulai pelayanan kemanusiaan dengan melakukan kajian cepat kebutuhan dan kerusakan bersama umat di Mangaran.

Karina - Caritas IndonesiaDengan sumber – sumber daya yang dimiliki oleh Keuskupan Manado saat ini, Benny Salombre, Pr berharap segera terbentuk lembaga Karitas di Keuskupan Manado.

Dengan bantuan umat di paroki-paroki, PSE Keuskupan Manado dapat segera memberikan bantuan untuk warga terdampak. Paket bantuan yang datang pertama kali di Mangaran merupakan wujud solidaritas umat di Keuskupan Manado. Bantuan yang terdiri dari beras, mie instan, ikan kaleng, susu, dan gula dapat segera membantu warga terdampak.

Bantuan yang diberikan oleh PSE pada warga terdampak di Mangaran tidak hanya terbatas pada logistik pangan semata. PSE bekerja sama dengan Perdhaki Sulut juga memberikan pelayanan medis bagi warga terdampak. Dalam dua kali pelayanan medis, PSE bersama Perdhaki dapat melayani lebih dari lima ratus warga yang ada di wilayah terdampak.

Koordinasi yang dijalankan oleh PSE tidak hanya dengan umat dan pihak intern Gereja Katolik semata. Untuk kesiapsiagaan, PSE memiliki sistem stok beras. Dengan sejumlah penyalur beras di Kotamobagu, PSE memiliki stok minimal 1 ton beras. Relasi dengan toko penyedia jasa dan barang juga dijalin, sehingga ketika bencana terjadi kebutuhan dapat segera dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PSE memiliki dana taktis yang dapat digunakan segera di masa darurat.

Dengan keadaan geografis yang demikian berat, PSE terbuka untuk bekerja sama dengan pihak lain. Ketika gempa besar terjadi, cuaca yang buruk membuat PSE bekerja cepat dengan menghubungi kepolisian dan administrator pelabuhan agar kapal dapat langsung bersandar di Pelabuhan Kabaruan. Hal itu harus dilakukan untuk mempersingkat jalur distribusi barang bantuan karena, kapal yang melayani wilayah Kab. Kepulauan Talaud hanya memiliki izin sandar di Melonguane dan Lirung. ‘Untuk urusan bencana ini, ternyata jaringan memang penting,’ kata Pastor Benny.

Dalam tingkat yang lebih teknis lagi, PSE juga menjalin hubungan baik dengan banyak pekerja informal yang ada di Pelabuhan Manado. Hubungan baik tersebut tidak semata-mata terjadi ketika PSE membutuhkan bantuan tetapi juga di masa normal. ‘Hubungan baik dengan orang-orang di pelabuhan sangat membantu kita waktu menyalurkan bantuan logistik ke Melonguane,’ ujar Ibu Jeanette Mandagi. Dengan jalinan kerja sama tersebut, PSE mampu menyalurkan barang bantuan dalam waktu kurang dari satu minggu.

Kecepatan, kesiapsiagaan, dan jaringan kerja menurut Pastor Benny adalah kunci keberhasilan kerja. Ketika gempa kuat mengguncang wilayah Talaud, cuaca yang tidak bersahabat menyebabkan kapal tidak bisa berlayar karena gelombang tinggi. Dua anggota tim PSE yang siap menuju lokasi terhalang untuk mencapai lokasi, akhirnya bisa segera menuju Kabaruan dengan bantuan angkutan dari brimob. ‘Sementara itu kami mengontak Pak Devy yang ada di lokasi untuk bersiap. Jadi ketika Billy dan Lucky (relawan PSE Keuskupan Manado-red) sampai di sana, mereka sudah paham mau buat apa. Kita mendampingi orang di sana untuk pembagian tugas,’ terang Rm. Benny lagi.

Tantangan di Masa Depan
Karina - Caritas IndonesiaKondisi kebanyakan rumah di Desa Pangeran, Mangaran yang terkena Gempa

Wilayah pelayanan yang amat luas dengan keadaan geografis yang beragam sangat dipahami oleh PSE Keuskupan Manado. Pastor Benny melihat situasi tersebut sebagai tantangan tersendiri bagi Keuskupan Manado. Karena dari pengalaman selama ini, PSE telah memiliki pengalaman atas dua bencana yang berbeda. Tidak hanya di lokasi berbeda, tetapi juga kondisi geografis yang jauh berbeda.

Sadar akan hal tersebut, PSE saat ini sedang membuat pemetaan daerah rawan bencana di Keuskupan Manado. Pemetaan tersebut tidak hanya dilakukan di Propinsi Sulawesi Utara, tetapi juga di Propinsi Gorontalo dan di Sulawesi Tengah.

Pemetaan itu dilakukan dengan bantuan oleh umat yang menjadi relawan di Paroki. ‘Pemetaan ini sebetulnya lebih ke penelusuran daerah-daerah rawan bencana, apalagi yang sudah sering kena bencana. Jika semua data sudah dapat maka pastoral kita tidak hanya soal emergency saja, tapi juga mempersiapkan masyarakat untuk menangani bencana (preparedness). Itu yang sementara dilakukan selama satu tahun ini. Sehingga pada akhirnya terbentuk karina di Keuskupan Manado yang khusus menangani bencana,’ jelas Pastor Benny di ruang kerjanya yang kecil.

Penelusuran tersebut juga diharapkan dapat mendukung profesionalisme dalam pelayanan kebencanaan yang dituju oleh PSE Keuskupan Manado. Karena selama ini, pengelolaan pelayanan di bidang bencana belum sampai di tingkat paroki-paroki. ‘Dalam pelayanan di bidang ini, PSE tidak dapat bekerja tanpa bantuan paroki karena jumlah paroki yang banyak dan jarak yang saling berjauhan. Adanya tim relawan di paroki-paroki akan mempercepat respon di masa darurat. Sedang tim yang terdiri dari Billy dan Lucky hanya bertugas mendampingi mereka,’ jelas Rm. Benny.

Hal itu didasari oleh pengalaman PSE sebelumnya. Ketika melakukan respon banjir beberapa waktu yang lalu, banyak bantuan logistik pangan yang disalurkan tapi masyarakat tetap tidak dapat makan karena tidak ada alat masak. Bantuan tersebut akhirnya menumpuk. ‘Waktu itu, kami belum berpikir untuk membuat gudang. Sekarang kami tahu bahwa kebutuhan pada waktu banjir dan gempa itu berbeda,’ ujar Pastor yang tidak hanya bekerja di Komisi PSE itu lagi.

Dengan pengalaman tersebut, PSE Keuskupan Manado merasa perlu semakin membekali diri dengan pengetahuan tentang penanganan bencana dan pengurangan resiko bencana yang disebarkan sampai ke tingkat paroki agar pelayanan kemanusiaan tidak hanya menjadi tanggung jawab PSE semata tetapi juga umat di seluruh keuskupan. ‘Sebelumnya, kami di PSE Keuskupan Manado kalau ada bencana baru kemudian bekerja, setelah itu duduk-duduk saja tunggu bencana terjadi,’ ungkap Pastor Benny lagi sambil tertawa kecil.

Melayani Semua
Melayani warga terdampak akibat bencana alam adalah pengalaman kerja yang amat berharga bagi PSE Keuskupan Manado. Bantuan untuk warga terdampak tidak hanya diberikan bagi warga yang berada di lokasi terdampak. Bantuan yang difokuskan tidak hanya untuk Desa Pangeran, tetapi juga untuk desa lain dan sedikit bantuan sampai ke melonguane. ‘Ketika kita berfokus pada daerah gempa, semua kapal-kapal itu memuat barang-barang bantuan membuat persediaan barang di pasar kosong. Mereka juga menjadi korban bencana dalam arti tidak ada bahan pangan yang beredar di pasar,’ jelas Rm. Benny.

Untuk itu, PSE memutuskan untuk membantu sebanyak mungkin warga yang berada di daerah terdampak. Penyaluran barang bantuan yang demikian banyak dibagi menjadi empat tahap. Banyaknya barang bantuan, serta merta menggerakan hampir semua komponen paroki untuk membantu proses distribusi bantuan, mulai saat paket datang, pengepakan, sampai penyalurannya ke warga terdampak. ‘Banyak sekali para penduduk yang ingin membantu tapi akhirnya harus dibagi secara bergantian supaya pekerjaan tidak tumpang tindih,’ cerita Rm. Yangko Allo, Pr di tempat terpisah.

Karina - Caritas IndonesiaSalah seorang penduduk di Desa Pangeran, Mangaran sedang mengkilas balik kronologis gempa dan barang bantuan yang diterima kepada Tim KARINA KWI dan PSE Keuskupan Manado. Desa Pangeran adalah desa yang paling parah mengalami bencana

Bantuan tersebut pada akhirnya dapat sampai ke warga di daerah terdampak. Sebanyak 1331 paket bantuan disalurkan untuk warga di Kabaruan melalui Paroki St. Familia, Mangaran. Dalam beberapa kesempatan, beberapa warga menyampaikan terima kasihnya pada Gereja Katolik yang dengan tulus membantu warga. ‘Iya, kami juga terima bantuan dari Gereja Katolik setelah gempa kemarin,’ ujar seorang ibu yang tinggal di Kordakel, sebuah wilayah yang tidak kena dampak langsung gempa.

Kalimat singkat tersebut seperti sebuah pengakuan terhadap kerja PSE Keuskupan Manado. Karena kecepatan dan kesediaan dalam merespon kebutuhan tanpa memandang latar belakang warga terdampak. Meski warga terdampak masih mengharapkan adanya bantuan lain, PSE bersama Paroki St. Familia Mangaran memutuskan untuk menghentikan bantuan karena mata pencaharian warga dari berkebun sama sekali tidak terganggu akibat gempa. Dan warga di Kabaruan masih terus memproduksi Halua Kenari yang ditawarkan dari kamar ke kamar di dek atas Kapal Ratu Maria yang membawa kami kembali ke Manado pagi ini. Bagitu Jo! [Kedua penulis bekerja di Unit ERP (Emergency Response & Preparedness) KARINA KWI]

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta