Menjadi Saksi dan Pewarta Kasih di Zaman Modern – Caritas Indonesia – KARINA

Menjadi Saksi dan Pewarta Kasih di Zaman Modern

08/12/2016

“Kerahiman Ilahi dalam Semangat Belarasa”. Demikian tema yang diambil untuk kegiatan latihan spiritualitas Forum Caritas Keuskupan Regio Jawa yang dipandu oleh RD. Carolus Putranto Tri Hidayat. Pastor yang biasa dipanggil Romo Uut ini menjelaskan beberapa topik untuk membantu para peserta merefleksikan kerahiman Ilahi dalam pelayanan kemanusiaan di bidang kebencanaan yang dilakukan oleh para peserta. Topik-topik tersebut adalah Saksi, Komunitas Berkat, Aku yang Terpecah, Misteri Dosa dan Rahmat di Bawah Salib Tuhan, dan Hidup sebagai Pribadi yang Dikasihi.

Setiap topik diskusi diawali dengan sebuah permainan yang mengarahkan para peserta pelatihan untuk menangkap maksud dari pelatihan ini. Topik pertama membahas tentang upaya kita menjadi saksi Kristus. Saat ini, sulit bersaksi (berbicara) tentang Tuhan, belarasa, mati raga, dan pengorbanan dikarenakan manusia semakin dekat dengan materialisme dan egoisme. Umat Kristiani mewartakan kesaksian karena mempunyai relasi dengan Tuhan dan menyadari bahwa kita diperhatikan oleh-Nya (Yes. 49:16). Romo Uut mengutip pernyataan Mgr. Ignatius Suharyo  bahwa manusia menjadi gerakan dan persekutuan untuk jadi tandingan modernitas.

Para peserta pelatihan berfoto bersama Mgr. Antonius Subiyanto, OSC (Foto: KARINA).
Para peserta pelatihan berfoto bersama Mgr. Antonius Subiyanto, OSC (Foto: KARINA).

Untuk membantu peserta memahami makna hedonisme dan materialisme, Romo Uut mengajak peserta untuk melihat sejenak sejarah lahirnya paham ini pada zaman Yunani kuno yang diwakili oleh filsuf Aristippus (435 – 536 SM) yang terkenal dengan pernyataannya bahwa kebahagiaan adalah perwujudan seluruh dorongan kenikmatan jasmani. Beliau selanjutnya menguraikan bagaimana paham ini kemudian berkembang di Eropa pada abad ke-15 sampai abad ke-18 dan mempengaruhi sejarah Eropa dan dunia, salah satunya adalah penaklukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap tanah bangsa-bangsa lain, serta lahirnya kolonialisme dan revolusi industri.

Bertentangan dengan hedonisme dan materialisme yang mencari kebahagiaan pada hasrat dan kepuasan materi jasmaniah, Romo Uut memberikan penegasan bahwa di dalam Injil Matius 6:33 kita diajak untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Banyak pertentangan yang muncul ketika nikmat jasmani dan egoisme menjadi dasar tatanan sosial.  Saat ini kita hidup dalam dunia yang mudah dijangkau atau terkoneksi dalam media sosial. Banyak sekali orang menjalin pertemanan dan berkomunikasi melalui media sosial, akan tetapi mereka seringkali merasa kesepian. Dalam dunia modern ini, hidup kita tergantung dengan pasar (gaya hidup) supaya tidak dibilang ketinggalan zaman. Kondisi ini membuat kita lupa untuk hidup dalam komunitas yang sesungguhnya dan membagikan berkat kebahagiaan untuk orang lain.

Mgr. Antonius Subiyanto, OSC menyampaikan renungan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Foto: KARINA).
Mgr. Antonius Subiyanto, OSC menyampaikan renungan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Foto: KARINA).

Gaya hidup di atas hanya dapat kita nikmati seorang diri. Kita sepertinya punya teman banyak, namun kesepian. Kita sepertinya bahagia, namun sejatinya menderita. Bunda Theresia berkata, “penderitaan yang sebenarnya bukan kemiskinan, tetapi karena kita merasa ditolak”. Yang paling menyakitkan dari penderitaan yang kita rasakan di zaman modern ini adalah perpecahan. Wujud dari perpecahan itu adalah kita merasa ditolak, tidak dihargai, tidak berguna, tidak dimaafkan, serta terjadi perceraian, peperangan, dst. Apa yang terjadi di Syria dan negara-negara yang sedang mengalami konflik saat ini adalah salah satu contoh nyata tentang bagaimana orang harus pergi karena merasa ditolak dan terpecah-belah.

Perpecahan dalam dunia modern ini tidak hanya terkait dengan perpecahan raga (fisik), namun juga perpecahan budi yang disebabkan oleh sifat materialisme dan perpecahan hati yang disebab oleh dorongan bersekutu dengan yang jahat. Namun demikian, umat Kristiani memaknai perpecahan ini bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai berkat. Yesus adalah keterpecahan yang menjadi berkat dalam Perjamuan Malam terakhir (Mrk. 14:22-25). Kita dipecah untuk berbagi dengan sesama dan saling menguatkan. Kita dipilih dan diutus Tuhan untuk pergi ke semua tempat dengan memanggul salib yang melambangkan penderitaan, kematian, kebangkitan, kehinaan dan kemuliaan-Nya.

Sebagai pribadi yang dikasihi oleh Tuhan, kita selalu dihadapkan pada suka-duka dalam hidup kita. Kegagalan-keberhasilan tersebut adalah sarana bagi kita untuk menunjukkan kesetiaan pada Dia yang mengasihi kita. Saat Tuhan mengutus kita, maka kita harus mewartakan kasihNya kepada orang lain supaya mereka juga merasa dikasihi. Sebab keselamatan dari Allah adalah untuk semua orang (Yoh. 21: 15-19).

Dalam rangkaian pelatihan spiritualitas ini, Uskup Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subiyanto, OSC menguatkan para peserta untuk terus melakukan pelayanan dengan baik. Mgr. Anton mengambil renungan dari Injil Lukas 10: 25-37 tentang Orang Samaria yang Murah Hati. Inti dari renungan ini adalah belarasa demi martabat manusia, berjumpa dengan Tuhan yang berbelarasa dengan sesama, berjumpa dengan Tuhan yang membawa sukacita. Segala sesuatu yang dilakukan oleh staf dan relawan Caritas itu selayaknya membawa semangat belarasa dan sukacita. Pelayanan yang kita berikan, baik dalam situasi kebencaan maupun situasi normal haruslah didasari oleh semangat kasih.

Mgr. Anton juga mengajak para peserta untuk berkaca pada peristiwa Ananias dan Safira (Kis 5: 1-11) ketika terlibat dalam pelayanan kemanusiaan, khususnya kebencanaan. Para staf dan relawan Caritas perlu memiliki ketulusan dalam mengelola dana bencana yang dipercayakan umat kepada jaringan Caritas. Dana itu perlu dipastikan untuk digunakan sesuai dengan intensi para donatur yakni kepada para korban. Jika intensi ini dikhianati, maka perilaku itu sama seperti perilaku Ananias dan Safira yang mengambil sebagian hasil penjualan tanah yang sebelumnya telah dipersembahkannya untuk Tuhan melalui rasul Petrus.

Salah satu sudut Kampung Naga yang masih mempertahankan aspek hidup kearifan lokal. Foto: KARINA)
Salah satu sudut Kampung Naga yang masih mempertahankan kearifan lokal dalam hidup sehari-hari (Foto: KARINA).

Pada hari terakhir, para peserta diajak untuk mengunjungi Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di Garut dan berjumpa dengan Kyai Ibang. Dalam dialog dengan para peserta Kyai Ibang berkata, “Jika saya tersenyum, sesungguhnya saya sedang tersenyum kepada Sang Khaliq. Jika saya berbuat baik, sesungguhna saya sedang berbuat baik kepada Sang Khaliq. Jika saya berbuat jahat, sesungguhnya saya sedang berbuat jahat kepada Sang Khaliq. Jika saya berkhianat, sesungguhnya saya berkhianat kepada Sang Khaliq. Sesungguhnya saya menemukan Sang Khaliq dalam setiap makhluk yang saya temui, sesama manusia, saudari tanaman dan saudara hewan.”

Selain mengunjungi pesantren ekologi, para peserta juga mengunjungi Kampung Naga di Tasikmalaya untuk belajar tentang kearifan lokal yang mempertahankan hubungan baik dengan sesama manusia, hewan, dan alam semesta. Warga kampung Naga sangat menjaga keserasian hidup dan bersahabat dengan alam. Kampung ini berada ditengah-tengah hamparan pematang sawah dan hutan yang rimbun. Kegiatan pelatihan spiritualitas ini dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pastoral Pondok Tempayan, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 15-17 November 2016. Pelatihan ini diikuti oleh para peserta sebanyak 20 orang dari Forum Caritas Keuskupan Regio Jawa dan staf Yayasan KARINA. ● oleh Suzana H. Latumahina & Leonardus Depa Dey

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta