Menguatkan Komunitas & Membangun Resiliensi di Sintang – Caritas Indonesia – KARINA

Menguatkan Komunitas & Membangun Resiliensi di Sintang

07/11/2016

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 14-18 Oktober 2016, Yayasan KARINA dan Caritas Keuskupan Sintang melakukan kegiatan monitoring tiga bulanan untuk Proyek Strengthening Community Resiliency in Sintang” yang sudah berjalan pada tahun ke-2. Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kapasitas komunitas dampingan dalam melestarikan hutan dan mempertahankan hak milik atas tanah melalui manajemen ekowisata desa dan pemanfaatan lahan terlantar. Harapannya, Caritas Keuskupan Sintang dan komunitas dampingan dapat menekan laju deforestasi sebagai dampak dari masuknya perusahaan perkebunan dan pertambangan di wilayah komunitas-komunitas dampingan.

Dampak buruk dari pengalihan fungsi hutan perlu dikurangi dengan cara meningkatkan kemampuan komunitas dalam mengelola hutan sebagai habitat satwa dan menjaga ekosistemnya. Selain itu, perlu juga ditunjang dengan usaha-usaha lain untuk menopang pembangunan di wilayah hutan sehingga bernilai ekonomis. Salah satu yang direncanakan adalah mengembangkan desa wisata dan memberdayakan masyarakat setempat untuk mempromosikan potensi seni, budaya dan pangan lokal untuk menarik minat para turis domestik maupun mancanegara.

Dengan hal-hal tersebut di atas, masyarakat setempat akan mempunyai akses dan kontrol terhadap kepemilikan tanah dan upaya pengembangan aspek pariwisata yang ada di sana. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Caritas Sintang ini telah mendapatkan dukungan dari Yayasan KARINA yang bekerjasama dengan Caritas Australia dan Misereor.

Staf Caritas K. Sintang menjelaskan sistem tumpang sari di Komunitas Tapang Mada (Foto: Markun).
Staf Caritas K. Sintang menjelaskan sistem tumpang sari di Komunitas Tapang Mada (Foto: Markun).

Kegiatan monitoring ini dilakukan di lima komunitas dampingan, yaitu Komunitas Jangkang, Tapang Mada, Langsat Baru, Tembak, dan Sungai Putih. Metode dari kegiatan ini dilakukan dengan dua cara, yaitu melihat langsung kondisi di lapangan dan melakukan diskusi kelompok terpadu bersama komunitas penerima manfaat. Berdasarkan hasil monitoring diketahui bahwa Komunitas Tapang Mada, Jangkang dan Langsat Baru telah menyiapkan kebun mata entres karet unggul dengan kapasitas 166 batang yang siap diokulasi pada bulan ke-8. Kebun entres merupakan kebun penghasil mata tunas yang akan digunakan sebagai batang atas untuk memperbanyak tanaman karet melalu sistem okulasi.

Kegiatan yang dilakukan di tiga komunitas dampingan (Tapang Mada, Jangkang dan Langsat Baru) pada tahun ke-2 ini adalah mengupayakan terwujudnya kebun mata entres karet unggul dengan kapasitas 166 batang yang pada bulan ke-8 siap untuk diokulasi. Kebun entres merupakan kebun penghasil mata tunas yang akan digunakan sebagai batang atas untuk memperbanyak tanaman karet secara okulasi. Bibit-bibit unggulan diambil dari Balai Penelitian Karet Getas, Salatiga, Jawa Tengah untuk pembuatan kebun entres tersebut.

Selama tiga bulan ini, Komunitas Jangkang dan Tapang Mada sudah berhasil menanam 650 batang entres karet unggul yang ditanam di lima kebun kelompok. Kebun entres di Jangkang sudah dikunjungi oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat yang pada kesempatan itu juga memberikan penyuluhan tentang cara merawat kebun. Anggota komunitas telah merawat dengan baik kebun-kebun mereka dan membersihkannya dari gulma (tanaman penganggu). Mereka juga membuat sistem tumpangsari pada kebun entres ini dengan menanam jagung yang dianjurkan oleh PPL.

Mengecek kebun entres di Jangkang bersama komunitas dampingan (Foto: Chredo).
Mengecek kebun entres di Jangkang bersama komunitas dampingan (Foto: Chredo).

Sementara itu, PPL belum mengunjungi kebun entres di Tapang Mada. Maka pada kesempatan monitoring ini Caritas Keuskupan Sintang memberi contoh cara melakukan penyiangan gulma yang berada di sekitar tanaman entres dengan menggunakan cangkul. Penggunaan cangkul ini merupakan hal yang baru bagi komunitas dampingan karena mereka biasanya menggunakan tongkat dan parang dalam berkebun. Tim Caritas Keuskupan Sintang juga menyampaikan kepada komunitas untuk melakukan penyiangan secara rutin pada enam bulan pertama setelah entres ditanam. Entres/batang atas (budwood) yang ditanam di kedua komunitas tersebut tumbuh cukup subur. Rata-rata tunas semaian setinggi 50 Cm dan membentuk dua payung daun.

Berdasarkan hasil monitoring di Langsat Baru, penanaman bibit entres belum dapat dilaksanakan karena faktor cuaca. Selain itu, rencana yang mereka buat berbenturan dengan musim tanam sehingga warga sibuk di ladangnya masing-masing. Namun demikian, mereka sudah menyiapkan dan membuka lahan untuk kebun entres dengan membabat tanaman-tanaman liar. Lahan tersebut masih perlu dibersihkan agar tanah dapat diolah sebelum dipakai untuk menanami entres. Komunitas Langsat Baru masih menggunakan sistem tebas bakar untuk membuka lahan sehingga mereka sangat tergantung dengan cuaca dalam bekerja.

Beberapa tantangan yang muncul selama kegiatan membuat kebun entres, misalnya adalah terbatasnya tenaga PPL di wilayah Sintang, harga pasaran karet mentah yang kurang bagus, dan anggota komunitas belum pernah membuat kebun entres. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Tim Caritas Keuskupan Sintang berusaha menyediakan akses bagi anggota komunitas untuk mendapatkan pengetahuan tentang cara membuat dan merawat kebun entres. Tim ini juga memotivasi komunitas untuk menanggapi rendahnya harga karet dengan memberi alternatif tanaman jangka pendek yang bernilai ekonomis seperti tanaman jagung.

Selain ketiga komunitas di atas, kunjungan monitoring juga dilakukan di Komunitas Tembak. Selama tiga bulan ini fokus kegiatan mereka adalah pengembangan ekowisata yang dimulai dengan lokakarya pengelolaan ekowisata bagi semua pengurus organisasi. Lokakarya ini membuka mata anggota komunitas tentang pentingnya manajemen yang transparan dan profesional. Tindak lanjut dari lokakarya ini adalah dengan melakukan restrukturisasi kepengurusan dan manajemen, dari manajemen Rumah Bentang menjadi manajemen ekowisata yang strukturnya lebih lengkap.

Dampaknya, terjadi perubahan tentang pembagian hasil yang jauh lebih transparan dan adil. Maka ketika ada kunjungan turis pembagian pendapatan dilakukan secara terbuka dan adil untuk semua anggota. Dengan adanya AD/ART, anggota pengurus juga berkeinginan untuk membuat sistem keuangan yang transparan. Berkaitan dengan hal ini, Caritas Keuskupan Sintang bersedia memberikan pedampingan khusus di bidang keuangan untuk mengembangkan sistem keuangan yang sistematis dan akuntabel.

Mengcek bibit babi jantang yang diterima komunitas dampingan di Sungai Putih (Foto: Markun).
Mengcek bibit babi jantang yang diterima komunitas dampingan di Sungai Putih (Foto: Markun).

Pelaksanaan kegiatan selama tiga bulan di Komunitas Sungai Putih sudah mencakup beberapa hal. Selain mengembangkan sistem pertanian organik yang terintegrasi, komunitas ini juga sudah membagikan 21 anak babi kepada 21 kepada keluarga (KK) dan 7 pasang bebek kepada 7 KK. Satu ekor anakan babi kabur karena kandang yang kurang baik. Komunitas ini juga sudah membuat ladang sayur secara swadaya dan hasil panennya dapat dinikmati oleh para petani.

Berdasarkan hasil monitoring, nampak bahwa di Sekitar wilayah Sintang tidak banyak tenaga konsultan untuk bidang peternakan babi. Masalah lain yang dihadapi adalah pakan babi yang sulit didapatkan di Sungai Putih. Untuk menjawab tantangan ini, Caritas Keuskupan Sintang akan mencari tenaga konsultan atau praktisi peternakan babi dari mitra-mitra yang ada. Sedangkan untuk mengatasi minimnya ketersediaan pakan babi, koordinator kelompok akan melakukan negoisasi dengan pemilik pabrik tahu di Sungai Putih agar tidak menjual semua ampas tahu ke luar Sungai Putih. Saat ini, masyarakat setempat masih mengandalkan ampas tahu sebagai pakan babi. Maka dari itu diperlukan pelatihan pembuatan pakan babi alternatif pada kegiatan selanjutnya.

Pembelajaran yang dapat diambil selama kegiatan monitoring di lima komunitas tersebut adalah pentingnya partisipasi aktif anggota kelompok untuk saling berkoordinasi dan bergotong-royong, serta mau belajar dan terbuka terhadap hal baru. ● Th. Kushardini

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta