Menebar Bibit Sphere di Ampah – Caritas Indonesia – KARINA

Menebar Bibit Sphere di Ampah

19/05/2017
FullSizeRender

Yayasan KARINA, Caritas Keuskupan Palangka Raya dan CRS Indonesia baru saja menyelesaikan rangkaian pelatihan “STANDAR SPHERE”. Pelatihan ini diselenggarakan di Ampah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, pada tanggal 25-28 April 2017. Sebanyak 25 orang peserta yang terdiri dari perwakilan paroki-paroki (23 orang) dan 2 orang  staf Yayasan KARINA mengikuti pelatihan ini. Tim yang menjadi narasumber dan fasilitator dalam pelatihan ini adalah staf dari Unit Tanggap Darurat Yayasan KARINA, CRS Indonesia dan JPIC Palangka Raya.

Pastor Garin, wakil dari Keuskupan Palangka Raya, membuka pelatihan ini dengan mengungkapkan keprihatinannya. Sebab, situasi menjelang pelatihan tidak menunjukan adanya antusiasme dari paroki-paroki untuk mengirimkan wakilnya ke pelatihan tersebut. Apalagi pada saat pelatihan dibuka secara resmi, peserta yang hadir hanya 12 orang. “Pelatihan ini tidak mendapat respon bukan berarti kurangnya kooordinasi dan komunikasi antar-pihak, tetapi lebih disebabkan oleh karena kami di wilayah ini belum terlalu peduli terhadap bencana. Selama ini, wilayah kami relatif aman dari bencana. Namun, belakangan ini sudah terjadi banjir di mana-mana. Ini disebabkan karena eksploitasi alam yang tidak dikendalikan. Saya berharap kepada yang hadir dalam pelatihan ini, untuk memanfaatkan sungguh-sungguh kesempatan belajar beberapa hari ini. Agar saat kembali, bisa menyebarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, maka semakin banyak orang yang peduli terhadap bencana. Untuk KARINA dan CRS, harap tidak putus asa terhadap kondisi ini. Kami harap tetap mendukung kami apapun kondisinya.” Demikian ungkapan Pastor Garin pada saat pembukaan pelatihan.

Bapak Helmi Hamid, wakil dari CRS Indonesia, menyatakan bahwa kehadiran CRS dan KARINA ke Ampah bukan semata-mata membawa hal baru, tetapi juga membagi pengetahuan yang sudah ada dari pengalaman-pengalaman nyata respon kemanusiaan di berbagai tempat. “Bapak dan ibu sudah melakukan banyak hal dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Oleh karena itu, bapak dan ibu juga sudah mempunyai pengalaman dalam hal-hal yang akan kita lakukan nanti. Namun, pengalaman juga perlu didukung dengan pengetahuan yang baik. Sehingga respon kita ke depan menjadi lebih tertata dan terkelola dengan baik,” kata Pak Helmi.

F. Sundoko, Unit ER Yayasan KARINA, menjelaskan kepada para peserta tentang istilah-istilah Kebencanaan (Foto: istimewa).
F. Sundoko (kanan), Unit ER Yayasan KARINA, menjelaskan kepada para peserta tentang istilah-istilah Kebencanaan (Foto: istimewa).

Selama pelatihan, para peserta diajak untuk memahami tentang istilah-istilah kebencananan, siklus proyek, piagam kemanusiaan, isu lintas sektoral, gender dan buku Sphere. Selain memberikan materi, fasilitator juga mengajak para peserta untuk melakukan simulasi. Oleh karena metode pelatihan ini partisipatif, maka para peserta didorong untuk tidak menjadi peserta yang pasif yang hanya siap menerima. Mereka juga diajak untuk menjadi peserta yang aktif berpikir, berdiskusi dan menemukan jawabannya bersama-sama. Pada saat pembahasan “Piagam Kemanusiaan”, Ibu Maria Josephine Wijiastuti (CRS Indonesia) mengajak para peserta untuk memahami instrumen hukum dari piagam tersebut. Instrumen hukum yang dimaksud adalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948, Konvensi Geneva 1949 tentang Kemanusiaan Internasional, Konvensi tentang status pengungsi internasional 1977 dan perjanjian-perjanjian mengenai kebencanaan dan bantuan kemanusiaan.

Pada sesi latihan evakuasi, para peserta diajak untuk melakukan simulasi bahaya kebakaran sebagai bagian dari kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) yang digagas BNPB pada 26 April 2017. Dengan persiapan yang minim, sumber daya yang terbatas, simulasi dapat berjalan lancar. Yang lebih penting lagi adalah bahwa himbauan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang HKBN diperhatikan dan dilaksanakan oleh banyak pihak termasuk para peserta pelatihan di Ampah.

Selain fasilitator dari Yayasan KARINA dan CRS Indonesia, pelatihan ini juga melibatkan para fasilitator dari keuskupan setempat. Mereka yang menjadi fasilitator adalah Ramiasi Novitas (Achi) dan Johanes Djahan Rampay (Jo). Mereka berdua dalah staf JPIC Keuskupan Palangka Raya dan telah mengikuti pelatihan Sphere sebelumnya bersama KARINA. Pada pelatihan ini Achi dipercaya untuk memfasilitasi isu lintas sektoral, sedangkan Jo memfasilitasi istilah-istilah kebencanaan. Berkat kemauannya untuk belajar, mereka sanggup memfasilitasi sesi tersebut dengan baik. Ukuran keberhasilannya adalah bahwa semua peserta paham dengan materi yang disampaikan. Melihat apa yang sudah dikerjakan selama pelatihan, mereka adalah calon fasilitator potensial untuk masa depan.

Para peserta melakukan diskusi kelompok (Foto: istimewa).
Para peserta melakukan diskusi kelompok (Foto: istimewa).

Pelatihan ini memberikan dampak yang luar biasa bagi para peserta, termasuk Bapak Donatus Akur, staf Yayasan KARINA, yang mengikuti pelatihan ini untuk ketiga kalinya. “Jujur, saat-saat  menjelang pelaksanaan pelatihan, terlintas dalam benak saya bahwa tidak ada yang baru dari pelatihan ini. Saya meyakini bahwa saya telah mengetahui dan memahami Sphere,” katanya. Namun, sebelum pelatihan Pak Doni mencoba membersihkan pikirannya dari apa yang diketahuinya tentang sphere. Ia berusaha menyiapkan diri mengikuti pelatihan ini dengan baik dan memperhatikan dengan sungguh setiap sesi yang berjalan.

Hasilnya, pada akhir pelatihan Pak Doni dapat merasakan pemahamannya tentang Sphere semakin dalam. Ia tidak hanya sekadar memahami, namun juga merasakan bahwa pelatihan ini mengajarkan bagaimana menggunakan buku Sphere pada saat melakukan kegiatan kemanusiaan pada masa darurat kebencanaan. Demikian halnya Pastor Daniel Rusen, MSF, yang menemui pengalaman pertamanya mengikuti pelatihan Standar Sphere ini. Pelatihan ini menjadi inspirasi bagi Pastor Daniel untuk merespon situasi-situasi kebencanaan di masa mendatang. Beliau menjadi sadar bahwa respon tanggap darurat kebencanaan perlu diberikan dengan memperhatikan tata aturan yang ada untuk melindungi para korban dari hal-hal yang buruk.

Para peserta pelatihan setelah melakukan simulasi evakuasi kebakaran (Foto: Istimewa).
Para peserta pelatihan setelah melakukan simulasi evakuasi kebakaran (Foto: Istimewa).

“Ini pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan Standar Sphere. Pelatihan ini tentu sangat inspiratif bagi saya sebagai seorang pelayan bagi para umat. Ini menjadi dasar bagi saya untuk menggerakkan umat dalam pelayanan sosial gereja. Salah satu hal penting yang saya dapatkan dari pelatihan ini adalah bagaimana Gereja berperan dalam memberikan pertolongan dan penyelamatan korban bencana pada masa darurat. Kalimantan adalah wilayah yang terkenal dengan kerawanan terhadap ancaman banjir, kebakaran hutan dan rumah. Pelatihan ini membekali kami dengan pengetahuan dan keterampilan untuk bisa membantu respon tanggap darurat bencana. Pelatihan ini membuka mara saya bahwa respon kemanusiaan pada masa darurat tidak bersifat spontan, akan tetapi diberikan secara tertata dengan segala macam pertimbangan. Hal ini penting, agar pelaksanaan respon kedaruratan itu dapat berjalan sebaik mungkin dan mengurangi kesalahan-kesalahan yang justru bertentangan dengan semangat kemanusiaan itu sendiri. Hal lain yang saya pahami dari pelatihan ini adalah bahwa respon kemanusiaan pada masa darurat perlu melibatkan banyak pihak. Jadi, koordinasi dan komunikasi sangat penting pada masa darurat.” Demikian, kesan dari Pastor Daniel terhadap pelatihan Standar Sphere yang diikutinya.

Sementara Bapak Thomas Daryanto, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengetahuan baru dan menjadi bekal untuk lebih aktif dalam kegiatan di paroki, terutama pada saat terjadi bencana. “Pelatihan ini sangat bagus menurut saya karena kami mendapatkan pengetahuan yang benar-benar baru. Memang sebagian sudah kami lakukan, namun banyak istilah dan kegiatan yang baru. Pelatihan ini bisa meningkatkan pelayanan kami di paroki, terutama jika terjadi bencana. Senada dengan Pak Thomas, Ibu Remiati mengungkapkan bahwa pelatihan Standar Sphere sangat bermanfaat bagi dirinya. “Ini pertama kalinya saya mengikuti pelatihan ini. Pelatihan ini membuka wawasan dan memberikan banyak pengetahuan kepada saya. Pelatihan ini memberikan saya pengetahuan tentang bagaimana bersikap jika terjadi bencana. Bagaimana saya berkoordinasi, berkomunikasi, kepada siapa, dan untuk apa.” Ibu Rufina Ribiana menambahkan bahwa, “pelatihan ini memberikan banyak manfaat bagi saya, terutama dalam hal pengetahuan. Hal lain yang saya dapatkan adalah bahwa betapa berharganya manusia itu. Atas dasar ini, saya menjadi termotivasi, jika suatu saat terjadi bencana, maka saya akan siap menjadi tim sukarelawan.” ● Donatus Akur

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta