Menciptakan Lingkungan Ramah Anak – Caritas Indonesia – KARINA

Menciptakan Lingkungan Ramah Anak

24/01/2017
(Foto: Dok. KARINA)

Sejak tahun 1990 Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Ratifikasi tersebut merupakan bentuk kongkret dari komitmen pemerintah untuk memberikan jaminan atas pemenuhan hak dan perlindungan terhadap anak-anak di seluruh Indonesia. Pasca Reformasi, KHA ini kemudian semakin lengkap dengan adanya UU No.23 Tahun 2002, yaitu tentang Hak dan Kewajiban Anak serta Prinsip-prinsip Perlindungan Anak.

Hak-hak anak yang dimaksud dalam undang-undang adalah hak atas kelangsungan hidup, hak untuk bertumbuh kembang, hak mendapatkan perlindungan dan hak untuk berpartisipasi. Secara lebih rinci, hak-hak tersebut meliputi hak sipil dan kebebasan, hak perawatan, pengasuhan dan pemanfaatan waktu luang, hak kesehatan dan kesejahteraan, dan hak pendidikan dan kebudayaan. Yayasan KARINA sendiri sejak bulan Januari 2016 sudah memberlakukan Kebijakan Perlindungan Anak (KPA) kepada para pengurus dan karyawan yang bekerja atau berada di dalam lingkup kegiatan dan program KARINA.

Romo Adrianus Suyadi, SJ membuka kegiatan lokakarya (Foto: Dok. KARINA).
Romo Adrianus Suyadi, SJ membuka kegiatan lokakarya (Foto: Dok. KARINA).

 

KPA yang dimiliki oleh Yayasan KARINA sudah disosialisasikan kepada para mitra Jaringan Caritas Keuskupan di Indonesia dan mitra-mitra yang lain sejak tahun lalu. Untuk lebih memperdalam konteks dan pemahaman atas kebijakan ini, Forum Caritas Regio Nusa Tenggara (Nusra) + Sintang dan Yayasan KARINA menyelenggarakan Lokakarya tentang Perlindungan Anak pada tanggal 10-11 Januari 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali. Narasumber lokakarya ini adalah Linsay Daines dari Caritas Australia.

Para peserta yang hadir untuk mengikuti lokakarya ini berjumlah 28 orang. Mereka hadir mewakili lembaga Caritas Keuskupan maupun Karya Pastoral Keuskupan dari Keuskupan Larantuka, Keuskupan Maumere, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Weetebula, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Denpasar, dan Keuskupan Sintang. Turut hadir pula Yayasan KARINA dan Caritas Australia sebagai fasilitator dari kegiatan ini. Metode dari kegiatan lokakarya ini adalah dengan memberikan banyak studi kasus untuk membantu para peserta memahami konsep dari isu perlindungan anak.

Lindsay Daines, fasilitator lokakarya dari Caritas Australia, memberikan penjelasan dalam diskusi kelompok (foto: Dok. KARINA).
Lindsay Daines, fasilitator lokakarya dari Caritas Australia, memberikan penjelasan dalam diskusi kelompok (foto: Dok. KARINA).

 

Kegiatan lokakarya ini juga menjadi awal dari seluruh kegiatan evaluasi semester II dari Program Umbrella Regio Nusra + Sintang untuk tahun II. Rangkaian acara dibuka oleh Romo Adrianus Suyadi, SJ, sebagai Direktur Eksekutif Yayasan KARINA. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan lebih memahami isu-isu perlindungan anak yang terjadi di wilayah kerjanya masing-masing berdasarkan konteks sosial dan budaya setempat. Para peserta paling tidak diharapkan untuk lebih peka pada persoalan: perlakukan yang tidak benar terhadap anak (child abuse), penelantaran (child neglect), dan eksploitasi anak (child exploitation).

Yang menjadi prinsip dasar dari keluarga Caritas untuk mendukung Kebijakan Perlindungan Anak ini adalah bahwa “manusia diciptakan menurut Citra Allah. Semua orang diciptakan sederajat dan semartabat, yang berarti bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama. KARINA menjunjung tinggi martabat manusia termasuk di dalamnya martabat anak. Anak tidak boleh didiskriminasi karena ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, kebangsaan, latar belakang sosial atau etnis atau kepentingan politik atau lainnya; karena kasta, harta atau status kelahiran; atau karena cacat fisik.” (Kebijakan Perlindangan Anak Yayasan KARINA tahun 2016, hal 2).

Proses kegiatan diskusi kelompok (Dok. KARINA).
Proses kegiatan diskusi kelompok (Dok. KARINA).

 

Sebagai akhir dari kegiatan lokakarya ini, para peserta diingatkan kembali tentang prinsip dari Caritas Internationalis yang berkaitan dengan perlindungan anak, yaitu

  • Caritas berupaya terus untuk berbagi misi kemanusiaan dari Gereja Katolik untuk melayani orang miskin dan untuk mempromosikan kedermawanan dan keadilan di seluruh dunia.
  • Caritas menjunjung tinggi semangat solidaritas dan penatalayanan atas nama orang-orang yang paling rentan di dunia.
  • Caritas mengakui martabat dan hak-hak pribadi dari anak-anak terhadap siapa ia memiliki tanggung jawab dan tugas perawatan dan penghormatan khusus.
  • Caritas, semua staf dan relawannya, berupaya untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dan orang-orang muda dan untuk mencegah perlakuan yang salah secara fisik, seksual atau emosional. Ω

 

Kontributor Tulisan: Th. Kushardini

Referensi:

http: //www.kpai.go.id/artikel/menguji-komitmen-negara-dalam-perlindungan-anak/

http: //wartakota.tribunnews.com/2015/12/15/peringatan-25-tahun-ratifikasi-konvensi-hak-anak-indonesia

Kebijakan Perlindungan Anak Yayasan KARINA, 13 Januari 2016.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta