Memfasilitasi Mahasiswa akan Prasangka & Konflik – Caritas Indonesia – KARINA

Memfasilitasi Mahasiswa akan Prasangka & Konflik

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaBerbicara mengenai Prasangka & Konflik di Indonesia, sangat berhubungan dengan sejarah yang membentuk bangsa ini. Dapat dilacak dari berbagai sumber informasi mengenai Sejarah Indonesia, baik melalui buku – buku, jurnal ataupun makalah seminar, maka kita akan melihat tahun demi tahun yang tidak terlepas dari kekerasan. Ini menandakan bangsa Indonesia yang sudah ‘akrab’ dengan kekerasan.

Bahkan mungkin pengalaman hidup tiap warga negara Indonesia sendiri bisa menguatkan tulisan para pemakalah atau penulis tentang Indonesia. Saya Sasaki Shiraishi dalam bukunya Pahlawan – pahlawan Belia, mencoba untuk mengamati kehidupan bangsa Indonesia dari hal – hal yang terkecil dalam keluarga Indonesia. Hal – hal yang terkecil disini artinya bukan dengan mengamati kebijakan – kebijakan yang termaktub dalam sejumlah peraturan ataupun perundang-undangan, tetapi dengan mengamati dan merasakan langsung apa itu ‘kehidupan keluarga Indonesia’.

Masih dalam bukunya, Saya Sasaki Shiraishi menuliskan demikian …’Kita tahu keragaman budaya Indonesia merupakan sorga antropologis. Hildred Geertz mengatakan, Indonesia terdiri lebih dari 300 kelompok etnik, dan hubungan kekerabatan serta sistem keluarganya beragam dari pola patrilineal, matrilineal hingga bilateral. Di Indonesia terdapat banyak sistem keluarga, bukan Cuma satu, nmun Indonesia masih juga disebuat ‘keluarga’ dan dibayangkan seperti itu. Keluarga macam apakah kiranya yang menjadi wakil satu-satunya bangsa multi-etnik ini sebagai sebuah keluarga ?…

Membaca uraian diatas, maka kegiatan memfasilitasi isu ‘Prasangka & Konflik’ di Indonesia menjadi sangat relevan. KARINA KWI dengan segala keterbatasannya mencoba untuk melangkah melampaui kebiasaannya. Selama ini, memfasilitasi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) kepada siswa sekolah, Keuskupan – keuskupan ataupun masyarakat yang langsung didampingi oleh Keuskupan sudah menjadi bagian dari pekerjaan sehari – hari staf KARINA KWI. Namun, memfasilitasi mahasiswa semester II mengenai Prasangka dan Konflik, baru kali ini. Sebelumnya memang sudah pernah memfasilitasi mahasiswa tetapi topik yang dibawakan adalah yang sudah ‘biasanya’ disampaikan yaitu Pengurangan Resiko Bencana.

Tertantang untuk memfasilitasi sesuatu ‘diluar yang biasanya’, maka staf program KARINA KWI bersepakat untuk saling memperlengkapi, baik dalam hal keahlian memfasilitasi (topik ini) maupun dalam hal penyempurnaan modul. Robert Soelistyo, staf PRB yang juga berkecimpung dalam Komisi Justice and Peace KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), menawarkan diri untuk membuat modul. Selanjutnya modul ini dibawa ke forum diskusi sesama staf Program untuk dibahas. Yang menarik, saat pembahasan modul berlangsung, dimana Robert mempresentasikan modulnya, seluruh staf program lain yang tidak terlalu paham terhadap isu ini, mencoba untuk menuangkan pengalaman mereka selama ini menjadi warga negara Indonesia.

Bahkan dari diskusi kecil antar staf Program KARINA KWI, dapat ditemukan persoalan Prasangka antar warga negara yang multi etnik. Tentu saja, hal ini semakin menyadarkan para staf yang nantinya diminta menjadi fasilitator, untuk merefleksikan dahulu pengalaman hidupnya barulah kemudian dapat membicarakan atau membahasnya dengan orang lain, dalam hal ini mahasiswa semester II Universitas Bina Nusantara (Binus). Akhirnya persoalan – persoalan riil tersebut semakin memperkaya modul karya Robert tadi.

Dari sekian pengalaman riil para staf tadi, yang paling banyak terungkap adalah persoalan Prasangka. Beberapa pengalaman prasangka memang mengalami ‘konfirmasi’ dalam perjalanan kehidupan para staf yang berdiskusi ini, akan tetapi jarang sekali menjadi konflik terbuka. Umumnya hanya menjadi konflik didalam diri pihak yang merasakannya dan yang tadinya hanya prasangka, kemudian menjadi stereotip terhadap kelompok masyarakat tertentu. Namun, setelah membahas modul Prasangka dan Konflik, tiap individu diharapkan dapat mempunyai pandangan yang berbeda mengenai prasangka.

Tiba saatnya, modul yang sudah mengalami pengayaan ini dibawa ke Universitas Binus untuk dipakai sebagai alat fasilitasi. Dalam ruang yang dingin dan berbentuk seperti teater kecil (dan memang terkadang dipakai sebagai tempat untuk menonton film), sekitar 30 sampai 40 mahasiswa difasilitasi. Pada awalnya, cukup sulit untuk mengajak mereka menyampaikan pendapatnya atau berdiskusi. Namun, ketika sudah masuk kedalam sessi pembahasan hasil diskusi kelompok di kelas besar, suasana diskusi pun lebih cair.

Hal yang sifatnya fisik pun ternyata turut dibahas karena dianggap oleh para mahasiswa yang duduk di semester II ini sebagai bagian dari Prasangka. ‘Tidak semua tubuh yang berbulu lebat itu orang India. Buktinya ada juga orang Indonesia yang bulunya lebat’, bantah salah satu siswa perempuan keturunan India. Pernyataan ini disetujui oleh teman – temannya yang lain, antara lain dengan menyebutkan prasangka – prasangka lainnya yang sifatnya lebih fisik.

Setelah pemahaman mengenai apa itu prasangka dan apa itu konflik serta perbedaan diantara keduanya dimengerti, fasilitator mengajak untuk menonton film mengenai Konflik di Poso. Film tersebut kemudian dibahas dengan meminta partisipan untuk memisahkan tiap aktor dalam kategori Pelaku dan Korban plus menuliskan alasan apa yang membuat seseorang menjadi Pelaku dan apa yang akan mereka lakukan jika mereka di posisi Korban. Dalam kategori Pelaku, salah seorang partisipan menuliskan ‘karena ingin melakukan hal tersebut (they just want to do that)’ sebagai alasan seseorang melakukan tindakan kekerasan. Ada juga yang menuliskan ‘because it’s fun’ (karena hal tersebut menyenangkan). Tim fasilitator yang terdiri dari staf program KARINA sejak awal memang diminta untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Tahap refleksi ditempatkan sebagai penutup diskusi. Di titik ini, peserta diminta untuk menyampaikan pengetahuan apa yang mereka dapat dari proses selama kurang lebih 2 jam ini dan menuliskan kedua pertanyaan antara lain : Bagaimana kamu bersikap atas prasangka yang ada di hidupmu sehari-hari dan bagaimana kamu menghadapi konflik ? Sama seperti yang dirasakan oleh para staf program ketika berdiskusi dan merefleksikan persoalan prasangka yang pernah mereka alami selama ini, baik sebagai Pelaku ataupun Korban, diharapkan partisipan diskusi mahasiswa semester II Universitas Bina Nusantara juga dapat melihat prasangka dengan kaca mata yang berbeda setelah meninggalkan ruang teater kecil yang dingin.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta