Membelah Hutan dan Hulu Sungai Kapuas – Caritas Indonesia – KARINA

Membelah Hutan dan Hulu Sungai Kapuas

30/05/2017
IMGP0122-1

Sebagai mitra kerja, menemani donatur untuk berkunjung ke lapangan adalah sebuah bentuk tanggung jawab atas kerjasama yang telah dijalankan. Tujuannya adalah supaya semua kegiatan di lapangan dapat secara transparan diketahui oleh mereka. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan, dan bahkan KARINA mengharapkan semua donatur dapat mengunjungi komunitas dampingan yang selama ini telah menjalankan berbagai kegiatan atas dukungan mereka.

Salah satu kegiatan kunjungan yang dilakukan pada bulan Februari 2017 adalah bersama Dr. Ulrich Dornberg, Country Officer for Indonesia, dari Misereor. Waktu itu timYayasan KARINA dan Caritas Keuskupan Sintang menemani Dr. Ulrich untuk mengunjungi komunitas dampingan kami di Tembak. Tepatnya di Kelompok Ekowisata Komunitas Temawang Sandung, Tembak, Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Menurut rencana, Dr. Ulrich akan mengunjungi 3 kelompok dampingan kami, namun karena kondisi yang tidak memungkinkan beliau harus kembali ke Jakarta setelah kunjungannya ke Tembak selesai.

Sampai di Sintang, tepat pada pukul 12.30 WIB, kami diantar dengan sebuah mobil menuju ke Dusun Tampar. Sekitar pukul 14.20 WIB kami tiba di Tampar dan bertemu dengan rombongan Pastor A. Adi Wiratma, Pr., yang biasa dipanggil Pastor Mamo, yang akan membawa kami ke Dusun Tembak dengan menggunakan sepeda motor. Pukul 15.05 WIB kami berangkat dari Tampar menuju Tembak dengan 5 sepeda motor. Jarak dari Dusun Tampar ke Tembak kurang lebih 10 Km dengan kondisi jalan yang sangat buruk. Jarak tempuh dengan menggunakan sepeda motor kurang lebih 2 jam.

Kondisi jalan yang buruk memaksa kami untuk turun dari motor dan berjalan kaki (Foto: KARINA).
Kondisi jalan yang buruk memaksa kami untuk turun dari motor dan berjalan kaki (Foto: KARINA).

Ada empat orang warga Dusun Tembak yang memboncengkan kami di sepeda motor mereka. Mereka berbadan kecil namun cukup gesit menerabas jalanan yang sempit, berlumpur, berkelok dan naik-turun. Sepuluh menit pertama kami masih menikmati mulusnya perjalanan. Namun, guncangan demi guncangan kami alami saat jalan mulai berliku dan berlumpur karena hujan semalam. Tidak banyak yang dapat kami percakapkan, selain fokus selama perjalanan dan menikmati kondisi jalan yang meminta tenaga ekstra untuk menahan guncangan dan bantingan. Sebagai “boncengers”, kami harus selalu sigap menjaga keseimbangan supaya motor tidak terjatuh ketika bermanuver.

Perjalanan selama dua jam ini tidaklah mulus, sebab di beberapa titik kami harus turun dan berjalan kaki. Kaki, pantat dan pinggang “orang-orang kota” ini menjadi sasaran beratnya medan perjalanan ini. Saya acungi jempol buat Dr. Ulrich yang begitu kuat menahan irama perjalanan yang cukup ekstrim ini. Dia selalu tersenyum pada saat saya mengarahkan kamera kepadanya. Tidak ada keluh-kesah keluar dari mulutnya, walaupun kaki dan celananya penuh lumpur. Dia betul-betul sudah menyiapkan fisik dan mental untuk mengikuti perjalanan ini. Selama perjalanan, kami hanya berhenti satu kali untuk mengecek kondisi ban dan rantai sepeda motor sambil beristirahat sejenak. Kurang lebih pukul 17.30 WIB akhirnya kami tiba di Tembak.

 

Tokoh adat meminta Dr. Ulrich untuk menebas tebu sebagai tanda masuknya rombongan dari Sintang ke Rumah Betang (Foto: KARINA).
Tokoh adat meminta Dr. Ulrich untuk menebas tebu sebagai tanda masuknya rombongan dari Sintang ke Rumah Betang (Foto: KARINA).

Kehadiran kami di Tembak disambut dengan upacara adat di depan Rumah Betang. Sebelum masuk ke gapura rumah tersebut, kami diminta menunggu prosesi adat yang dimulai dengan tari-tarian dari ibu-ibu setempat. Lalu kepala adat mempersilakan kami untuk berdiri di depan gapura dan membacakan doa-doa. Setelah itu, kami diminta untuk meminum tuak dan menebas tebu muda dengan mandau sebagai tanda bahwa kami diperbolehkan masuk ke wilayah tersebut. Pada prosesi akhir penerimaan tamu, kami dikalungi dengan selembar kain adat dan kemudian diminta untuk menginjak telur, tanah dan air sebelum masuk ke dalam rumah betang.

Selama di Tembak kami berdialog dengan para anggota Komunitas Temawang Sandung dan para pemimpin desa serta adat setempat. Mereka menceritakan banyak hal tentang kegiatan eko-wisata yang mereka rintis sejak beberapa tahun yang lalu. (Baca juga: http://karina.or.id/temawang-sandung-penjaga-tanah-adat/). Selain itu, kami juga mengunjungi sekolah orangutan di Klinik Pengobatan Orangutan Tembak. Tempat ini merehabilitasi orangutan yang selama ini dipelihara oleh perorangan sebelum mereka dikembalikan ke habitat aslinya. Dari lokasi itu kemudian kami berjalan kaki untuk melihat pusat pembangkit listrik tenaga air (micro-hydro) dan pabrik pembuatan minyak Tengkawang.

 

Mengunjungi tempat instalasi mesin pembangkit listrik tenaga air di Tembak (Foto: KARINA).
Mengunjungi tempat instalasi mesin pembangkit listrik tenaga air di Tembak (Foto: KARINA).

Pusat pembangkit listrik tenaga air (micro hydro) ini dibangun secara mandiri oleh sekelompok masyarakat Tembak. Jang Dasen, ketua kelompok, menjelaskan bahwa salah satu alasan adanya pembangkit listrik tenaga air ini karena melihat potensi alam, yaitu sungai yang ada di Tembak, yang bisa diubah untuk memenuhi kebutuhan sumber daya listrik. Saat ini beberapa rumah di Tembak sudah dapat menikmati listrik walaupun belum bisa setiap saat digunakan. Sebagian lagi dari masyarakat masih belum dapat menikmati listrik. Kiranya perlu perhatian dari pemerintah supaya ada pemerataan fasilitas listrik yang dapat dirasakan oleh semua penduduk. Setelah melihat pembangkit listrik tenaga air dan pabrik pembuatan minyak Tengkawang, rombongan Misereor, KARINA dan Caritas Keuskupan Sintang kemudian kembali ke Sintang.

Pada perjalanan berikutnya Dr. Ulrich tidak ikut serta karena sakit. Beliau harus kembali ke Jakarta lebih awal dari jadwalnya. Tim Caritas Keuskupan Sintang dan KARINA kemudian meneruskan perjalanan ke komunitas dampingan di Sungai Putih, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang. Di sana kami bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang mendapatkan bantuan dari Caritas Keuskupan Sintang untuk mengembangkan sayuran organik dan ternak babi. Selama di sana kami diajak untuk melihat kebun sayuran dan babi peliharaan mereka yang sudah cukup besar. Ibu-ibu di sana cukup senang dengan hasil kebun sayur yang mereka tanam dan rawat selama ini. Sebab dengan kebun itu mereka sekarang dapat mengkonsumsi sayur tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. (Baca juga: http://karina.or.id/untung-ada-sayur/).

Ibu Yuliana (kanan, berbaju coklat) menunjukkan salah satu kebun sayuran yang dikembangkan bersama Caritas Keuskupan Sintang (Foto: KARINA).
Ibu Yuliana (kanan, berbaju coklat) menunjukkan salah satu kebun sayuran yang dikembangkan bersama Caritas Keuskupan Sintang (Foto: KARINA).

Setelah itu, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Jangkang, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Di wilayah tersebut kami melihat hasil kebun karet unggul yang dikembangkan oleh masyarakat setempat bekerjasama dengan Caritas Keuskupan Sintang. Semuanya tumbuh dengan subur dan terawat baik. Kemudian, kami diantar untuk melihat kebun mata entres kelompok. Pohon karet mata entres tumbuh subur dan terawat baik. Di desa ini kami juga mengadakan pertemuan dengan semua anggota kelompok yang ada. Sebanyak 26 orang anggota kelompok masih berkomitmen untuk melakukan budidaya karet unggul. Mereka ini adalah para “champions” yang diharapkan dapat menularkan ilmunya kepada orang lain yang ingin mengembangkan karet unggul di lahannya. (Baca juga: http://karina.or.id/jangkang-membuka-pintu-keberlanjutan/).

Pak Petrus, Kepala Dusun dan Ketua Kelompok Jangkang, sedang menunjukkan pohon karet yang tumbuh subur dan baik (Foto KARINA).
Pak Petrus, Kepala Dusun dan Ketua Kelompok Jangkang, sedang menunjukkan pohon karet yang tumbuh subur dan baik (Foto KARINA).

Perjalanan kali ini sungguh menantang dan memberikan kesan tersendiri. Kondisi jalan yang buruk, jatuh terjerembab ke dalam lumpur, bahkan harus menderita sakit adalah pengalaman berharga yang harus kami lewati untuk dapat bertemu muka dan berdialog dengan orang-orang yang kami dampingi. Pun demikian, perjumpaan dengan Dr. Ulrich juga memberi warna lain dalam perjalanan ini. Kami belajar banyak hal darinya selama kunjungan ini. Beliau menyampaikan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah aspek penting dalam kegiatan ini. “Hasil kerja yang berkualitas adalah bentuk lain dari fundraising. Jika Anda menunjukkan hasil pekerjaan yang berkualitas, maka dana akan dengan sendirinya ada di sana.” Demikian pesan Dr. Ulrich yang masih teringat dalam kepala kami. ● Donatus Akur/YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta