Membangun Jaringan Relawan dari Jogja – Caritas Indonesia – KARINA

Membangun Jaringan Relawan dari Jogja

27/07/2018
37234974_10216274358749219_5748789063993786368_n-1

“Kami ini adalah relawan abadi, karena selamanya kami tinggal di sini bersama Merapi,” demikian kata KH Masrur Ahmad MZ, saat melakukan wawanhati bersama para peserta pelatihan dari Jaringan Caritas Keuskupan di Indonesia. KH Masrur menyampaikan pandangannya tentang manajemen relawan yang dibangun melalui pondok pesantren yang dipimpinnya bersama dengan para murid dan penduduk sekitar. Saat ini mereka berupaya untuk selalu memberikan pemahaman tentang kesiapsiagaan dalam menanggulangi bahaya erupsi Merapi melalui berbagai media dan bekerjasaman dengan banyak lembaga lintas iman. Pondok Pesantren Al-Qodir berada di Desa Wukirsari, Cangkringan, di lereng Gunung Merapi yang hanya berjarak kurang lebih 7 kilometer dari puncak gunung.

Sebelum naik ke Cangkringan, para peserta juga berbagi pengalaman dan pembelajaran tentang manajemen relawan dalam situasi kebencanaan bersama dengan Pastor Paroki dan para relawan tim Tanggap Darurat Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan, Yogyakarta. Di sini dikisahkan bagaimana Gereja berubah fungsi dan menjadi cepat tanggap ketika kondisi yang serba darurat dan genting itu terjadi pada saat erupsi Merapi 2010 lalu. Awalnya, pastor paroki waktu itu dan beberapa umat hanya bisa menampung sedikit pengungsi saja. Namun, karena kondisi semakin mengkhawatirkan dan jumlah pengungsi semakin banyak, maka kemudian paroki mencoba melayani lebih banyak pengungsi dan bekerjasama dengan banyak pihak, salah satunya adalah KARINAKAS, demi memberikan kebutuhan yang layak kepada para pengungsi sampai lewat masa darurat.

Suasana wawanhati di Pondok Pesantren Al Qodir, Cangkringan, Yogyakarta (Foto: KARINA).
Suasana wawanhati di Pondok Pesantren Al Qodir, Cangkringan, Yogyakarta (Foto: KARINA).

Kedua pengalaman di atas menjadi salah satu bagian dari kegiatan pelatihan “Volunteer Management” yang dilaksanakan oleh Yayasan KARINA KWI bersama dengan NASSA/Caritas Philippines. Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh EU Aid Volunteers, EAC-EA, Caritas Austria dan Caritas Asia. Pelatihan yang dilaksanakan di RPCB Syantikara, Yogyakarta, pada tanggal 17-19 Juli ini diikuti oleh sebanyak 31 peserta. Mereka datang dari 17 keuskupan di Indonesia, yaitu Caritas Tanjung Karang, Caritas Padang, Caritas Sintang, Caritas Ketapang, Komisi PSE Banjarmasin, Caritas Pontianak, KARINAKAS, Caritas Purwokerto, KARINA Surabaya, Caritas Ende, Caritas PSE Larantuka, Caritas Atambua, Komisi PSE Kupang, Caritas PSE Ruteng, Caritas PSE Manado, Komisi PSE Makassar, dan Komisi PSE Agats.

Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi tentang dasar-dasar mengelola relawan di dalam sebuah organisasi. Walaupun pelatihan menggunakan Bahasa Inggris, namun para peserta tetap antusias dalam mengikuti pelatihan dan menikmati semua kegiatan diskusi kelompok dan pengerjaan tugas-tugas. Pastor Joy Derry, Ketua Caritas PSE Manado, menyampaikan bahwa pelatihan ini sungguh baik. “Di sini saya diingatkan kembali tentang bagaimana menyiapkan lembaga untuk menerima relawan, menyeleksi dan merekrut. Lalu juga tentang bagaimana memberikan pengakuan dan motivasi kepada relawan,” kata Pastor Joy.

Pelatihan ini difasilitasi oleh Cecilio Guardian dari NASSA/Caritas Philippines (Foto: KARINA).
Pelatihan ini difasilitasi oleh Cecilio Guardian dari NASSA/Caritas Philippines (Foto: KARINA).

“Harapannya, saya bisa membagikan pengetahuan dalam pelatihan ini ke keuskupan saya. Minimal bisa merekrut relawan sesuai dengan spesifikasi (kebutuhan) dan dapat memberikan penghargaan kepada relawan,” tambah Romo Allparis Freeanggoro, Pr, Ketua PSE Keuskupan Banjarmasin. Pelatihan ini juga memberikan pengetahuan kepada para peserta tentang bagaimana relasi antara staf dan relawan di dalam sebuah organisasi. Keberadaan relawan adalah untuk membantu dan bukan untuk menggantikan peran dan tanggung jawab seorang staf. “Maka jika ada konflik dan masalah (antara relawan dengan staf atau antar relawan), saya harap bisa menanganinya,” kata Sr. Aloysia Uda Tena, OSU dari Keuskupan Agats.

Sudah kali kedua ini, KARINA menyelenggarakan pelatihan untuk para staf dan relawan Jaringan Caritas Keuskupan di Indonesia di Kota Yogyakarta. Kota ini terkenal dengan budaya dan keragamannya. Cap Kota Pendidikan cukup punya daya magis bagi siapa saja untuk datang dan menuntut ilmu di sini. Maka tidaklah mengherankan apabila upaya untuk “mengedukasi” kesiapsiagaan bencana bisa dilakukan bersama-sama secara lintas agama. Gempa Bantul 2006 dan Erupsi Merapi 2010 cukup menjadi latar belakang yang kuat bahwa dampak bencana itu bisa menimpa siapa saja. Sehingga, gerakan untuk bangkit, memulihkan diri dan membangun kesiapsiagaan itu menjadi tanggung jawab semua orang, terlepas dari apa latar belakang dan golongannya. Salam belarasa kita! ● YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta