Laudato Si’ Menginspirasi Dunia – Caritas Indonesia – KARINA

Laudato Si’ Menginspirasi Dunia

21/03/2017
Paus Fransiskus di Sidang Umum PBB. Foto:googlo.com
Paus Fransiskus di Sidang Umum PBB. Foto:googlo.com

 

Pengantar

Tanggal 21 Maret dini hari lalu kita dihentakkan oleh kabar duka. Patmi (48), salah satu peserta aksi meninggal dunia beberapa lama setelah melakukan aksi semen kaki.  Ia adalah salah satu dari rombongan petani Kendeng, yang melakukan aksi penolakan terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah.

Kasus serupa, sejak Kamis, (16/3) kemarin, 220 petani dan 60 anak-anak warga eks Waroe Laden, Karawang menggelar aksi di depan Istana Presiden. Mereka menuntut karena sejak empat bulan terakhir ini tempat tinggalnya digusur lantaran mau digunakan industri Karawang.

Kesepakatan internasional tentang 17 Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (the New 17 Sustainable Development Goals/17 SDGs) oleh negara-negara anggota Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tidak ada gaungnya bagi warga masyarakat seperti mereka. 17 SDGs adalah prioritas pembangunan global yang berkelanjutan. Pada bulan September 2015, para pemimpin negara-negara anggota PBB sepakat mengadopsi 17 SDGs. Kesepakatan global ini mulai diberlakukan secara efektif mulai Januari 2016.

Krisis Lingkungan Global

Ikan mati karena pencemaran lingkungan. Photo@google.com
Ikan mati karena pencemaran lingkungan. Photo@google.com

Empat bulan sebelum 17 SDGs disepakati, Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia, mengeluarkan Ensiklik (Ajaran Gereja Katolik) Laudato Si (Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama).  Ensiklik ini memaparkan tantangan krisis global yang perlu ditanggapi secara serius oleh seluruh warga dunia dan berbagai pemangku kepentingan. Paus mengajak semua orang untuk berdialog dengan “rumah kita bersama” (planet bumi). Dia mengajak semua warga dunia mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan. Dia melihat bahwa masalah lingkungan terkait erat dengan kemanusiaan, maka tak seorang pun boleh acuh tak acuh terhadapnya.

Ensiklik Laudato Si’ dan 17 SDGs serupa tetapi tidak sama. Ada beberapa hal yang senafas antara keduanya. Namun ada pula beberapa catatan kritis Laudato Si’ atas 17 SDGs tersebut (CAFOD Policy Team Group, The Sustainable Development Goals and Laudato Si’). Beberapa spirit yang senafas dari keduanya antara lain:

Laudato Si' & 17 SDGs. Foto: google.com
Laudato Si’ & 17 SDGs. Foto: google.com

Pertama, 17 SDGs disusun lewat proses yang inklusif-partisipatif dan disepakati secara konsensus sehingga memberi legitimasi keterlibatan global. 17 SDGs mencerminkan keseimbangan kekuatan yang lebih adil antara bangsa-bangsa, sebagaimana diamanatkan juga dalam Ensiklik Laudato Si’.

Kedua, 17 SDGs berlaku bagi semua negara, baik negara berkembang maupun maju. Paradigma lama bahwa negara-negara miskin harus menanggung beban lebih besar daripada negara-negara maju untuk pembangunan dunia, runtuh. Semangat ini sejalan dengan visi Ensiklik Laudato Si’, yang menegaskan pentingnya berbagi dan bertanggungjawab bersama atas perubahan yang akan dicapai.

Ketiga, 17 SDGs saling terkait satu sama lain. Paus Fransiskus dalam Ensiklik ini mengatakan senada.  Ada jalinan misterius antara berbagai hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 17 SDGs menggunakan pendekatan integratif, di mana masalah lingkungan, ekonomi dan masyarakat harus dilihat dan dipecahkan secara simultan dan saling terkait satu sama lain. Hal ini dapat mencegah bahaya bahwa pembangunan yang hanya mementingkan kepentingan ekonomi (profit) semata tanpa memperhatikan masyarakat dan kelestarian alam dan lingkungannya (Laudato Si’ No. 138-142).

Keempat, 17 SDGs mengakui pentingnya martabat manusia sebagai pribadi, dan ajakan untuk pembangunan ekonomi yang berpusat pada manusia. Ini sejalan pesan-pesan yang disampaikan dalam Ensiklik (No. 156-158).

Kelima, 17 SDGs mengakomodasi pastisipasi masyarakat sebagai agenda dari, oleh dan untuk warga masyarakat. Bangsa-banga berkomitmen untuk tidak meninggalkan seorangpun menjadi penonton dalam upaya mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan semangat Ensiklik yang mengajak kita semua untuk mendengarkan teriakan orang miskin, sebagai sikap dasar dalam memromosikan pembangunan manusia yang nyata (No. 48-50).

Kritik atas 17 SDGs

pilar yang perlu diperhatikan. Photo@google.co.id
pilar yang perlu diperhatikan. Photo@google.co.id

Isu-isu kritis dalam Laudato Si’ kurang diekplorasi dalam 17 SGDs.  Pertama, dalam bidang pembangunan ekonomi, 17 SDGs hanya mengandalkan laju pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan apakah pertumbuhan itu menghasilkan pengurangan kemiskin, memperkuat martabat manusia dan memperhatikan aspek berkelanjutan lingkungan. Ensiklik mengritik konsep pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas, yang mengandaikan adanya suplai barang-barang produksi tanpa batas. Konsep ini akan mendorong eksploitasi sumber daya alam di planet bumi kita. Paradigma “teknologis” di mana pembangunan ekonomi hanya mementingkan aspek profit dari kemajuan teknologi dapat menimbulkan kerusakan alam dan potensi meninggalkan masyarakat miskin. Mitos model ekonomi yang bercorak utilitarian (individualism, kemajuan tanpa batas, kompetisi, konsumerisme, pasar bebas) patut dipertanyakan (No. 60).  17 SDGs gagal memahami model pertumbuhan global saat ini, di mana banyak menyebabkan adanya degradasi lingkungan dan ketimpangan sosial.

Kedua, dalam pembangunan bidang politik, Ensiklik mengritik para penguasa yang telah gagal menciptakan perubahan yang berpihak kepada mereka yang paling miskin dan rentan. Paus mengingatkan bahaya perselingkuhan dalam pengambilan keputusan antara kepentingan bisnis dan kepentingan politik, yang akhirnya berkompromi untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek.

Implementasi Lemah

demi kesejahteraan umat manusia. Photo@google.co.id
demi kesejahteraan umat manusia. Photo@google.co.id

Banyak kesepakatan multilateral hanya berhenti tataran konsep dan elit namun lemah dalam implementasinya. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang Bumi di Rio de Janeiro, misalnya. Kesepakatan dan konsep yang dihasilkan menunjukkan kemajuan satu langkah ke depan dan profetis pada jamannya. Namun implementasinya lemah. Ini terjadi karena kurangnya mekanisme yang tepat untuk pengawasan, evaluasi periodik, dan sanksi yang tegas bagi yang melanggar kesepakatan.  Dokumen yang bagus itu akhirnya tidak efektif (No. 53-54).

17 SDGs juga lemah dalam komitmen untuk mengimplementasikannya. Paus Fransiskus mengritik negara-negara yang menghambat proses untuk maju. Negosiasi internasional tidak dapat berjalan maju karena negara-negara masih menempatkan kepentingan nasional mereka di atas kepentingan kesejahteraan umum global”.  Untuk pembangunan yang berkelanjutan, diperlukan komitmen semua pihak untuk memromosikan budaya solidaritas global.

Walaupun ada beberapa catatan kritis, 17 SDGs dapat menjadi peluang untuk perubahan. Mereka meletakkan beberapa langkah penting untuk maju guna memperjuangkan dunia yang lebih berkelanjutan, inklusif dan adil. Kita tidak ingin dokumen kesepakatan internasional seperti itu hanya menjadi jargon-jargon yang indah di tataran elit di tingkat global, namun di lapangan tetap banyak warga masyarakat menjadi ” Patmi-Patmi” yang lain. *** (Adrianus Suyadi)

 

 

[1] Séverine Deneulin dan Augusto Zampini-Davies, The London School of Economic and Political Science, How the Sustainable Development Goals (SDGs) can engage with religion.

[2] Ensiklik Laudato Si’ diterbitkan pada tanggal 18 Juni 2015.

[3] CAFOD Policy Team Group, The Sustainable Development Goals and Laudato Si’ https://cafodpolicy.wordpress.com/2015/09/17/the-sustainable-development-goals-and-laudato-si/

[4] Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, No. 138-142.

http://jpicofmindonesia.com/wp-content/uploads/2015/09/Ensiklik-LAODATO-SI_Indonesia.pdf

[5] Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, No. 156-158.

[6] Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, No. 48-50.

[7] Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, No. 60.

[8] Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, No. 53-54.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta