Kuncup-Kuncup Bunga Pemberi Harapan – Caritas Indonesia – KARINA

Kuncup-Kuncup Bunga Pemberi Harapan

29/01/2018
tapangmada1-1

“Cepat sekali kacang kebun ini bertumbuh dan berbunga,” begitu kata seorang bapak dari Tapangmada yang pada 12 Desember 2017 pagi mengantar kami ke kebun sayur milik keluarga Bapak Kudang, dalam rangka monitoring 6 bulanan program. Di kebun mulai terlihat julur-julur kacang panjang yang bermunculan usai bunga melayu.

Mengolah dan bertanam di kebun adalah kegiatan yang baru pertama kali dilakukan oleh warga Tapangmada. Sebelumnya warga biasa bertanam dengan pola berladang gilir balik. Secara teknis penggunaan istilah “gilir balik” untuk menggambarkan suatu sistem penggunaan lahan yang melibatkan ‘fase tanam atau fase produksi’ dan ‘masa bera’, yaitu masa dimana vegetasi dibiarkan bertumbuh secara alami. Ladang atau huma didefinisikan sebagai lahan berhutan yang dibersihkan untuk produksi tanaman pangan.

Pada masa bera dalam sistem berhuma atau berladang, tanaman perintis berkayu dibiarkan tumbuh secara alami hingga berupa hutan. Proses penumpukkan serasah daun terjadi secara terus menerus. Tumbuhan lapisan bawah semakin jarang tumbuh. Selain itu, pada masa bera terjadi penumpukan unsur hara pada tumpukan tanaman berkayu yang telah ditebas. Unsur hara ini dilepaskan kembali bilamana pembersihan lahan atau ‘tebas dan bakar’ dilakukan.

Panen perdana mentimun kebun di ladang Pak Kudang (Foto: Chredo).
Panen perdana mentimun kebun di ladang Pak Kudang (Foto: Chredo).

Kegiatan berkebun sayur di Tapangmada merupakan bagian dari proyek ”Strengthening Community Resiliency in Sintang“. Dengan sistem berkebun ini diharapkan ada sistem ladang menetap yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanah karena akan meminimalisir ‘masa bera’. Untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini, maka pada bulan September diadakan Pelatihan Cara Berkebun Sayur Organik. Materi pelatihan yang disampaikan mulai dari pemilihan bibit, pemupukan dan membuat pupuk organik bukan mol dan kompos, pemeliharaan dan panen/pasca panen.

Walau hal ini adalah awal mula mengenal sistem mengelola kebun, namun warga Tapangmada sangat antusias untuk mengikuti pelatihan. Dalam pelatihan tersebut, telah diproduksi – pupuk kompos 50 Kg dan mol 100 Lt. Setelah pelatihan tersebut, 6 orang bapak berinisiatif membuat mol dan kompos secara mandiri. Di sana terdapat 66 lahan ladang yang disiapkan untuk kebun. Tantangan awal dari kegiatan ini adalah beberapa bibit yang didistribusikan oleh Caritas Sintang tidak tumbuh. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi semangat mereka.

“Walau kami belum mampu jual hasil kebun, namun kami bisa mengkonsumsi hasilnya. Ini tentu saja dapat mengurangi pengeluaran belanja kami,” kata seorang ibu. Dari kegiatan ini sudah ada 21 keluarga yang menikmati hasilnya. Bahkan sudah ada seorang ibu yang sudah dua kali memasarkan hasil kebunnya dan mendapatkan uang yang cukup banyak. “Kegiatan ini selain meningkatkan nilai ekonomis, juga membuat kami produktif. Tidak ada lagi waktu untuk duduk gobrol yang tidak penting,” ungkap beberapa warga pada waktu pelaksanaan monitoring.

Memang dengan bertanam sistem kebun ini dibutuhkan waktu untuk merawat kebun, sedangkan dengan sistem berladang begitu selesai tanam lalu ditinggalkan. Kemudian lading baru ditenggok kembali pada saat akan dipanen. Namun semua lelah terobati ketika mulai muncul kuncup-kuncup bunga pada tanaman yang menandakan proses terjadinya pembuahan. Kesimpulannya, sistem bertanam dengan pola berkebun memerlukan proses yang relatif cepat dibandingkan dengan sistim berladang serta memberikan manfaat yang lebih besar untuk anggota komunitas. ● Dini

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta