Kisah dari Nagari Balah Air – Caritas Indonesia – KARINA

Kisah dari Nagari Balah Air

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaKeluarga ibu Nurmi adalah sebuah keluarga biasa. Tidak ada yang begitu istimewa dibanding dengan keluarga lain yang juga tertimpa bencana gempa bumi besar 30 September 2009 yang lalu di Sumatera Barat. Ibu Nurmi beserta suami dan tujuh orang anaknya tinggal di Jorong Sei Koro, Korong Lubuk Puar, Nagari Balah Air, Kecamatan Tujuh Koto Sungai Sarik, Kabupaten Padang Pariaman.

Bagi kami yang bekerja sebagai relawan di Caritas Joint Response untuk gempa Padang, deretan nama tempat yang begitu panjang tadi tidak asing lagi. Jorong selaras dengan dusun, korong selaras dengan desa, nagari adalah satuan administratif setingkat di bawah kecamatan. Jorong-jorong di nagari Balah Air adalah sebagian kecil masyarakat yang kami layani dalam proses besar distribusi barang bantuan gempa di Sumatera Barat. Kurang lebih 7900 keluarga yang kami layani bukanlah jumlah yang sedikit, terutama jika kami menerawang kembali bagaimana kami mendatangi seluruh keluarga tersebut satu -per satu dari pintu ke pintu. Terkadang semuanya hanya terlihat sebagai angka-angka semata bagi kami, namun perjumpaan langsung dengan orang-orang yang kami bantu selalu membawa kebahagiaan dan rasa bangga tersendiri, dan itulah yang dapat menyemangati kami selama bekerja sebagai relawan.

Karina - Caritas IndonesiaSeperti pula ibu Nurmi dan suaminya Alimunur, serta Linda, Lina, Lita, Roza, Taris, Ebit dan Farel. Mereka adalah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah sudut desa damai, setidaknya bagi kami yang sudah begitu terbiasa dengan kehancuran akibat gempa dimana-mana. Setelah gempa Alimunur yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tidak dapat lagi menafkahi keluarganya karena mengalami cidera serius. Linda, anak kedua dalam keluarga itu yang berumur 16 tahun sudah lama tidak lagi bersekolah. ‘Yah, biar adik-adik bisa sekolah juga.’, katanya lirih. Nurmi, ibunya membenarkan dan memberi alasan bahwa Linda harus mengasuh adik-adiknya yang masih kecil sementara dia berusaha mencari nafkah dengan bekerja apapun yang dia bisa. ‘Yang kecil umur dua..’, kata ibu Nurmi dalam logat lokal yang kental.

24’Dulu sedang gempa itu nak ya, anak-anak sedang ada di dalam rumah semua. Hampir ditimpa itu.. mm… boton (batu bata, red.). Nah, anak-anak semuanya lari ke dapur. Ah, temboknya runtuh… Lari juga dia keluar. Kumpul semuanya di halaman. Unduh… unduh… semua.’, kisahnya sambil memperagakan bagaimana gempa mengguncang mereka. Bagi ibu Nurmi, yang paling menyedihkan dari gempa itu adalah bagaimana mereka harus menumpang di rumah tetangga, dan anak-anaknya selalu ketakutan setiap malam. Walaupun rumah mereka tidak runtuh seluruhnya, mereka tidak bisa kembali ke rumah karena mereka tidak punya apa-apa lagi di sana. ‘Dak ada, semuanya habis di sini ditimpa boton. Lemari dak ada, baju dak ada, beras dak ada, duitpun dak ada… Yang saya pikirkan… biaya sehari-hari… untuk sekolah anak…’, katanya sambil berkaca-kaca.

Apa yang terjadi dengan keluarga ibu Nurmi ini juga dialami oleh banyak sekali keluarga lain di kabupaten Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, kota Pariaman dan Kota Padang. Daerah yang terparah justru merupakan daerah pedesaan dengan kehidupannya yang sederhana. Caritas Joint Response yang merupakan operasi bersama antara banyak Caritas dari dalam dan luar negeri di bawah payung Emergency Appeal Caritas Internationalis berusaha membantu para korban dengan barang-barang non makanan berupa shelter kit (seperti tenda, terpal, tikar dan selimut), hygiene kit (ember, sabun, jerigen dan pembalut wanita), tool kit (gergaji, palu, paku, linggis, sekop dan gerobak sorong), serta kitchen kit (kompor, piring, teko, panci, wajan, pisau, dan sendok garpu). Barang-barang ini tentu sangat dihargai oleh orang-orang seperti ibu Nurmi dan keluarga.
 
Namun ternyata ada pula hal lain yang begitu mereka hargai, yaitu perhatian yang begitu intens karena kami mengunjungi rumah mereka satu per satu, tidak pernah memberi janji namun keesokan harinya mereka tiba-tiba menerima bantuan secara langsung. Pujian yang datang dari masyarakat ini tentu saja begitu membahagiakan bagi kami para relawan. Namun di sisi lain hal itu adalah prosedur yang selalu kami jaga dan lakukan sebagai standar kualitas layanan kami. Sangat melelahkan, namun juga membahagiakan dan menyemangati kami.

Bagi kami dapat melampaui target penyaluran bantuan dalam waktu satu bulan lebih pendek dari yang diharapkan tentulah sebuah keberhasilan yang memuaskan. Namun dibalik itu kebahagiaan yang lebih dalam kami rasakan saat orang seperti ibu Nurmi secara langsung dan tulus menyatakan terimakasihnya. Bukan hanya atas barang bantuan yang diterima, namun juga atas pelayanan baik yang telah kami berikan. Setidaknya kami dapat menjaga semangat melayani, persis seperti pada saat dibelahan dunia lain seseorang telah menyisihkan sejumlah uang dengan semangat karitatif yang sama, yang lalu uang tersebut diusahakan oleh banyak sekali orang agar dapat sampai di tangan ibu Nurmi dengan semangat yang tetap melekat padanya. Sampai saat ibu Nurmi dengan tulus mengucapkan, ‘Alhamdullillah… Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya.’

Jogja-Surabaya, Maret 2010.
Dian Susanto, adalah Koordinator Caritas Tanjungkarang.
Bekerja sebagai Field Operations Manager di Caritas Joint Response gempa Sumbar, Oktober-Desember 2009.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta