Kisah Bucan Mengajar di Tanah Sumba – Caritas Indonesia – KARINA

Kisah Bucan Mengajar di Tanah Sumba

05/06/2017
DCIM100MEDIA
DCIM100MEDIA

Saya nggak mau pulang…!

Saya tidak tahu sudah berapa kali ucapan itu saya sampaikan kepada setiap orang yang bertanya kepada saya tentang kota kecil ini. Memang benar yang saya ucapkan. Saya tidak mau pulang karena di kota ini saya menemukan pagi hari yang sejuk, sinar mentari yang hangat, dan senandung burung-burung kecil yang mempesona. Belum lagi senyuman yang ramah dan kebaikan orang-orang yang setiap hari saya temui. Lebih dari itu, saya menemukan situasi jalanan yang tenang dan “anti macet”.

Tidak bisa saya bayangkan ketika kembali ke Jakarta saya pasti disambut kemacetan yang begitu lama. Setiap kali saya lawere (“jalan-jalan” dalam Bahasa Sumba kekinian), saya selalu teringat dengan situasi jalanan di Kota Jakarta. Ya, setiap kali saya pergi ke kampus Bina Nusantara (Binus), setiap kali itu juga saya harus bersabar di tengah-tengah kemacetan. Sama halnya ketika saya harus bersabar dipertemukan dengan jodoh saya. Lama. Jarak dari kampus Anggrek ke salah satu gerai makan cepat saji di Binus membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Sedangkan di sini, waktu selama itu bisa digunakan untuk menempuh perjalanan di tiga pantai yang berbeda. Namun demikian, tugas skripsi yang ada di depan mata ini harus diselesaikan. Dan itu artinya saya harus pulang ke Jakarta.

Sumba Barat, khususnya Waikabubak yang saya tinggali selama kurang lebih lima bulan ini terasa cukup hommy. Saya mengenal banyak sekali orang baru dalam tugas saya sebagai guru magang di SMA Katolik Sint Pieter Waikabubak. Saya tidak hanya mengenal para guru di sekolah, namun juga teman-teman dari para guru dan bahkan sampai saudara-saudara mereka. Bagi mereka, saya adalah orang baru yang gampang dikenali. Setiap kali saya berkenalan dengan seseorang, hampir semuanya mengatakan hal yang sama, “Ooohh… ini (guru magang) yang datang dari Jakarta itu?” Seolah-olah mereka sudah tahu tentang saya terlebih dahulu. Bahkan, kabar kehadiran saya ke kota ini sudah diketahui oleh sekolah-sekolah lainnya.

Rani bersama anak-anak di Sumba (Foto: Istimewa/RKA).
Rani bersama anak-anak di Sumba (Foto: Istimewa/RKA).

Indri, salah satu anak perempuan dari orang tua asuh saya yang sudah saya anggap seperti adik, sering bercerita bahwa banyak orang yang bertanya tentang saya.

“Indri, itu engko pung kakak ko? Gaga eee…” (Indri, itu kakakmu? Cantik ya..)

“Indri, kasih kenal dulu itu bucan dengan kita to. Titip salam dulu sama nona Jawa…” (Indri, kenalkan dulu “bucan: ibu cantik” kepada kita. Titip salam untuknya…)

Aih Indri, itu nona Jawa cantik tenar memang di sam pung sekolah. Dong semua tau dia.” (Astaga Indri, nona dari Jawa yang cantik itu memang terkenal di sekolah saya, semuanya mengenal dia.)

Ucapan-ucapan di atas adalah beberapa contoh bagaimana orang-orang di sini menerima kehadiran saya. Jangankan saya, Indri saja setiap kali mendapat pertanyaan seperti itu selalu bingung sendiri. Jika ada teman-teman dari Jakarta datang ke Sumba dan melakukan hal yang sama seperti saya, pasti juga akan cepat dikenal oleh penduduk setempat. Saya sempat menjadi pusat perhatian dan membuat saya menjadi canggung karena hal itu. Hampir semua orang, terlebih laki-laki dan anak anak, selalu ingin menyapa dan berbicara kepada saya. Setiap pujian yang diberikan kepada saya hanya bisa saya balas dengan senyuman dan ucapan terimakasih berkali-kali.

SMA Katolik Sint Pieter Waikabubak, tempat saya magang, mempunyai 21 guru (9 orang perempuan dan 12 laki-laki). Rata-rata guru-guru di sini masih terbilang muda. Sehingga saya tidak merasa ada jarak terlalu jauh dengan mereka. Guru-guru di sini berasal dari berbagai macam daerah dan keturunan seperti Sabu, Rote, Nagekeo, Manggarai, Anakalang, Kodi, Loli, Wejewa, Maumere, dan Wanokaka. Karena rentang usia yang tidak jauh, kami bisa saling bertukar cerita, pengalaman, dan candaan dengan luwes. Tidak ada hari tanpa ‘main gila’ (bercanda). Pokoknya kalau sudah di kantin, kita bisa ngobrol panjang lebar sampai hampir lupa waktu.

Sejujurnya, salah satu alasan mengapa saya mau menjadi guru magang di Sumba adalah karena saya ingin belajar hal baru dan melihat tempat-tempat baru. Inilah yang menjadi bonus tersendiri bagi saya selama di Sumba. Dalam beberapa bulan di sini, saya sudah mengunjungi semua wilayah di Sumba. Mulai dari Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, sampai yang paling jauh yaitu Sumba Timur. Sudah cukup banyak tempat wisata yang saya kunjungi di sini. Bahkan tempat-tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi oleh penduduk setempat. Kalau boleh saya katakan,Sumba is a Paradise!” Semua tempatnya indah!

Rani di depan Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat, NTT (Foto: Istimewa/RKA).
Rani di depan Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat, NTT (Foto: Istimewa/RKA).

Dalam waktu lima bulan, setidaknya saya sudah mengunjungi 15 tempat wisata: Taman Mamuli, Kampung Adat Prai Ijing, Kampung Adat Tarung, Tana Darro, Bukit Werinding, Bendungan Kambaniru, Pantai Watubela, Weekelo Sawa, Pantai Marosi, Pantai Kerewei, Air Terjun Lapopu, Pantai Kita Menanga Aba, Pantai Weekuri, Pantai Watukaka, dan Padang Sabana Bodusula. Yang paling menyenangkan adalah ketika ibu dan kakak saya menyempatkan diri untuk menengok saya dan berlibur beberapa hari di Sumba. Mereka juga terkesan dengan keindahan panorama di Sumba, keramahan orang-orangnya dan kelezatan makanannya.

Selain mengajar Bahasa Mandarin dan menikmati alam di Sumba, saya juga menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan sosialisasi pembuatan pupuk organik di Kecamatan Lambanapu, Kota Waingapu, Sumba Timur. Di sini, kami melakukan kegiatan sosialisasi selama 2 hari. Bersama Bapak Lorens Juang, saya diajak untuk berdialog dengan masyarakat setempat. Pak Lorens ini adalah salah satu pembimbing saya yang mewakili pihak Keuskupan Weetebula. Kebetulan program magang saya ini dapat terwujud berkat kerjasama antara Keuskupan Weetebula, Yayasan KARINA dan Binus University.

Selama di Sumba, saya tinggal bersama keluarga orang tua asuh saya yang sederhana. Mereka sudah menganggap saya seperti anak mereka sendiri. Keluarga Bapak Benyamin Ndapa dan Mama mempunyai 6 orang anak, yaitu Frid (si sulung yang kuliah di Jakarta), Geni (anak kedua dan kuliah di Yogyakarta), Nus (anak ketiga dan kuliah di Kupang), Indry (anak keempat dan kelas 2 SMA), Udis dan Eci (keduanya masih SD). Dari mereka, saya menerima banyak sekali pelajaran yang berharga tentang kehidupan. Saya belajar banyak tentang kesederhanaan yang membuat saya menjadi malu bila harus mengingat segala keluhan saya saat berada di Jakarta.

Rani dan Pak Laurens (tengah) pada saat kegiatan sosialisasi pupuk organik di Kota Waingapu (Foto: Istimewa/RKA).
Rani dan Pak Laurens (tengah) pada saat kegiatan sosialisasi pupuk organik di Kota Waingapu (Foto: Istimewa/RKA).

“Aduh, supirnya lama banget sih?!”

Ah, acara tivi nya payah semua…”

“Air panasnya gak ada, males banget mau mandi…”

Udahlah order makan aja, ribet mau masak.”

Yaelah, gak ada wifi banget nih di sini?!” dan masih banyak lagi.

Saya merasa malu saat melihat keluarga ini tetap bisa bahagia di atas segala kekurangan yang mereka miliki. Selama lima bulan terakhir saya tidak melihat acara di tivi. Bukan karena tidak ada tivi di tempat tinggal saya, namun karena tivinya sedang rusak dan Bapak belum ada biaya untuk memperbaikinya. Uang yang ada masih akan digunakan untuk membiayai anak-anak sekolah. Pun demikian ketika tiba-tiba dinamo untuk mesin air rusak. Kami semua harus menimba air dari sumur setiap kali mau mandi. Setiap hari saya harus menimba minimal 2 kali untuk memenuhi bak air pada pagi dan sore hari.

Tidak pernah terbayangkan bagi saya untuk mencari ember, menimba air dan mengisi bak air terlebih dahulu hanya untuk membersihkan badan ini. Biasanya setiap kali mau mandi, saya tinggal menyalakan shower. Selama 2 bulan lamanya, saya harus bersusah payah dahulu supaya bisa mandi. Maka tidak mengherankan apabila orang-orang di sini cukup kuat fisiknya. Sebab, sejak kecil mereka sudah diajarkan untuk bekerja keras. Mereka diajak untuk membantu orang tuanya bekerja di sawah, di ladang, menggembala hewan ternak atau sekadar membantu memasak di dapur.

Saya sungguh bersyukur bisa sampai ke tempat ini. Sungguh sebuah kesempatan yang jarang saya dapatkan. Saya tidak hanya dapat mengajar namun juga belajar banyak hal tentang kehidupan di tempat ini. Keputusan saya untuk melakukan magang ke luar Pulau Jawa dalam program Community Development 3+1 Binus University yang bekerjasama dengan Yayasan KARINA adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat selama hidup saya. Dan saya bahagia ketika banyak mahasiswa-mahasiswi yang tertarik untuk mengikuti jejak saya membagikan pengetahuan di daerah-daerah yang terpencil.

Bersama ibu-ibu setempat yang hadir dalam sosialisasi pupuk organik (Foto: Istimewa/RKA).
Bersama ibu-ibu setempat yang hadir dalam sosialisasi pupuk organik (Foto: Istimewa/RKA).

Melalui artikel ini saya hendak mengatakan kepada teman-teman saya, “Don’t be afraid to start a new thing. Teruslah yakin pada dirimu sendiri bahwa kalian bisa ditempatkan di manapun dan mengambil pelajaran yang baik dari setiap kesempatan yang diberikan. Semuaya akan kembali kepada kita dan bagaimana kita menjalani keputusan yang telah diambil. Program magang ini benar-benar telah mengubah hidup saya dan cara pandang saya.”

“Belajarlah untuk terbuka dengan hal-hal baru. Beranilah untuk mengambil kesempatan yang jarang diambil oleh orang lain. Keluarlah dari zona nyaman kalian. Dan satu hal yang pasti, create a life you love!” ● Rahani K. Arbianti/YB

Penulis adalah Rahani Kusuma Arbianti (Rani), mahasiswi magang semester VII dari Fakultas Sastra China Bina Nusantara University Jakarta, yang mengajar Bahasa Mandarin di SMA Katolik Sint Pieter, Waikabubak. Program magang ini berlangsung atas kerjasama Bina Nusantara University Jakarta dengan Yayasan KARINA dan Keuskupan Weetebula.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta