Uskup Agung : Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Vikaris Jendral : RP. Felix Astono Atmaja, SCJ

Sejarah Singkat

Sejarah Gereja Katolik di Sumatera Selatan sudah tercatat ketika pada tahun 1887 seorang misionaris, Pastor J. van. Meurs, S.J. mengunjungi sebuah dusun kecil bernama Tanjung Sakti, di wilayah Pasemah, Karesidenan Bengkulu. Pastor J. van. Meurs, SJ kemudian ditemani oleh Bruder Vester, SJ yang tiba pada bulan Maret 1891.

Pada Juni 1894, Pastor W.L. Jannisen, SJ dan Bruder Zinken, SJ tiba di Tanjung Sakti untuk melanjutkan karya kedua pendahulu tersebut dan pada tahun 1897 terjadi penerimaan Sakramen Penguatan untuk pertama kalinya oleh Mgr. Staal dari Batavia.

Pada tanggal 30 Juni 1911, Roma mengeluarkan dekrit tentang pemisahan Prefektur Apostolik Sumatera (yang berpusat di Padang) dari Vikariat Apostolik Batavia dengan Prefek Apostolik pertama adalah Mgr. Liberatus Cluts, OFM Cap.

Pada Agustus 1920, Pastor Mathias Brans, OFM Cap tiba di Tanjung Sakti menggantikan Pastor Sigebertus, OFM Cap yang telah bertugas di Tanjung Sakti sejak sekitar tahun 1914 dan kemudian dipindahtugaskan ke Padang.

Sesuai dengan ‘breve’ dari Roma bertanggal 27 Desember 1923, Sumatera Selatan dipisahkan dari Prefektur Apostolik Sumatera dan berubah statusnya menjadi Prefektur Apostolik Bengkulu dan karya kerasulan pun dipercayakan kepada Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ).

Bulan September 1924, para misionaris SCJ yang pertama, Pastor H.J.D. van Oort, SCJ; Pastor K. van Stekelenburg, SCJ dan Bruder Feliks van Langenberg, SCJ tiba di Tanjung Sakti dan melayani lima pos karya misi saat itu, yakni Tanjung Sakti, Palembang, Bengkulu, Tanjung Karang-Teluk Betung, dan Jambi. Tanggal 28 Mei 1926, Mgr. H.L. Smeets, SCJ diangkat menjadi Prefektur Apostolik Bengkulu.

Vikariat Apostolik Palembang kemudian ditetapkan pada 13 Juni 1939 sebagai pengembangan Prefektur Apostolik Bengkulu dengan Vikaris Apostolik Mgr. Henri Martin Mekkelholt, SCJ. Kemudian,  pada 19 Juni 1952, Tahta Suci menetapkan daerah misi Lampung sebagai Prefektur Apostolik yang terpisah dari Vikariat Apostolik Palembang.

Setelah hirarki Gereja Indonesia terbentuk, pada tanggal 3 Januari 1961 Vikariat Apostolik Palembang berubah statusnya menjadi Keuskupan Palembang dengan Uskupnya yang pertama Mgr. Henri Martin Mekkelholt, SCJ dan dilanjutkan oleh Mgr. J.H. Soudant, SCJ sampai dengan 20 Mei 1997. Setelah Mgr. Soudant memasuki masa purna jabatan, maka pada 20 Mei 1997, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ ditetapkan sebagai Uskup Palembang.

Pada tanggal 1 Juli 2003, status keuskupan ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung dan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ menjadi Uskup Agung untuk Keuskupan Agung Palembang.

Pada tanggal 03 Juli 2021, Paus Fransiskus mengumumkan pengangkatan Mgr. Yohanes Harun Yuwono untuk melanjutkan penggembalaan umat Keuskupan Agung Palembang menggantikan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ yang permohonan pengunduran dirinya sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Palembang telah diterima Paus.

Pada 10 Oktober 2021 umat Keuskupan Agung Palembang, secara daring dan luring, mengikuti perayaan Ekaristi instalasi Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono di Gereja St. Yoseph, Palembang.

Informasi

Keuskupan Agung Palembang

Jl. Tasik 18, Palembang 30135, Sumatera Selatan

Ikuti Kami

February 2023
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728