Ketika Atap Tak Lagi Bocor – Caritas Indonesia – KARINA

Ketika Atap Tak Lagi Bocor

17/04/2017
Anak-anak tersenyum ceria dan berpose dengan boneka beruang (Foto: KARINA).
Anak-anak tersenyum ceria dan berpose dengan boneka beruang (Foto: KARINA).

Pada artikel sebelumnya, KARINA pernah menuliskan kisah tentang program “Sekolah Sawah” yang dikelola oleh SD Kanisius Prontakan bekerjasama dengan Tim Sekolah Sawah di Dusun Braman, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Artikel sebelumnya dapat dibaca di sini: http://karina.or.id/menumbuhkan-minat-belajar-bertani/. Perlu diketahui, sekolah ini terletak di lereng sebelah Barat Gunung Merapi, yaitu sebuah gunung berapi teraktif di Pulau Jawa. Dilihat dari posisi dan jaraknya, Desa Ngargomulyo masuk ke dalam wilayah Ring I (zona merah).

SD Kanisius Prontakan didirikan pada tahun 1930 dan memperoleh status sekolah “bersubsidi” sejak 1 Agustus 1952. Namun, pada tahun 2003 pihak Yayasan Kanisius menghendaki untuk menggabungkan SD Kanisius Prontakan dan SD Kanisius Sumber karena terjadi kekurangan jumlah murid. Gagasan ini tidak sepenuhnya disetujui oleh para orang tua murid dengan alasan jarak sekolah yang semakin jauh dan tambahan biaya yang diperlukan si anak untuk transportasi dan uang saku. Maka setelah melalui rapat koordinasi, pihak sekolah dan wali murid mengusahakan agar sekolah ini tetap dipertahankan.

Salah satu ruang kelas yang sudah diperbaiki atapnya (Foto: KARINA).
Salah satu ruang kelas yang sudah diperbaiki atapnya (Foto: KARINA).

Akhirnya, pihak yayasan menyetujui permohonan dari pihak sekolah dan para wali murid agar SD Kanisius Prontakan tetap dapat menyelenggarakan proses belajar mengajar sendiri. Konsekuensinya, segala kebutuhan sekolah diatur sendiri tanpa mendapat subsidi dari Yayasan Kanisius. Sejak saat itu, SD Kanisius Prontakan menjadi sekolah mandiri. Biaya operasional sekolah didapatkan secara swadaya dari wali murid dan Iuran Kegiatan Murid (IKM). Sekolah ini tetap mendapatkan BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah yang dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan sekolah hingga saat ini walaupun belum maksimal.

Ditemui pada saat melakukan evaluasi, Sr. Maria Rosary, AK, menjelaskan bahwa SD Kanisius Prontakan memiliki enam guru kelas dan empat guru PNS yang menambah jam untuk menggenapi aturan pemerintah. Mereka terdiri dari satu orang guru Pendidikan Agama Katolik dan tiga orang guru Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan. Jumlah murid SD Kanisius Prontakan pada tahun pelajaran 2016/2017 ini sebanyak 63 siswa. Siswa kelas I sebanyak 12 siswa, Kelas II sebanyak 13 siswa, kelas III sebanyak 15 siswa, kelas IV sebanyak 6 siswa, Kelas V sebanyak 7 siswa, dan kelas VI sebanyak 10 siswa.

Suster Rosary berfoto bersama anak-anak SD Kanisius Prontakan dan Ibu Irene di Sekolah Sawah Foto: KARINA
Suster Rosary berfoto bersama anak-anak SD Kanisius Prontakan dan Ibu Yenny (belakang) di Sekolah Sawah (Foto: KARINA).

Sebagai media belajar untuk mengenalkan para siswa dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, mulai tahun 2013 SD Kanisius Prontakan menjalankan program “Sekolah Sawah”. Pihak sekolah dibantu oleh beberapa tenaga dari Tim Edukasi “Tuk Mancur”, yang semuanya adalah petani, melaksanakan program ini setiap hari Jumat. Sekolah Sawah tersebut diikuti siswa Kelas IV – VI pada tahun pertama dan siswa kelas III-VI pada tahun kedua. Memasuki semester II kelas VI tidak diaktifkan dalam kegiatan Sekolah Sawah karena harus melakukan persiapan untuk ujian.

Pada bulan Januari 2017, dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi dan juga karena usia bangunan yang sudah tua, maka beberapa bagian sekolah mengalami kerusakan. Atap-atap bangunan di beberapa kelas mengalami kebocoran. Sementara itu, terdapat juga satu ruang kelas yang atapnya hampir roboh. Tak pelak, kondisi ini sangat membahayakan bagi anak-anak dan guru di kelas tersebut. Sebagai kepala sekolah, Sr. Rosary sangat prihatin dengan keadaan tersebut. Biaya yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan itu tentunya tidak sedikit. Sedangkan dana IKM dan BOS hanya dapat digunakan untuk menutup sebagian biaya operasional bulanan saja.

Kondisi sebagian atap gedung sekolah yang rusak Foto: KARINA
Kondisi sebagian atap gedung sekolah yang rusak (Foto: KARINA).

Atas dasar hal itulah, Sr. Rosary memberanikan diri mengajukan proposal kepada Yayasan KARINA untuk perbaikan kelas-kelas tersebut. Kebutuhan ini kemudian dipenuhi oleh Yayasan KARINA dengan menyalurkan dana dari para donatur pribadi yang mereka kirimkan melalui rekening Yayasan KARINA dengan intensi “Pendidikan Anak Kurang Mampu”. Bantuan ini dimaksudkan untuk dapat membiayai perbaikan atap sekolah yang sudah mengganggu dan membahayakan proses belajar mengajar.

Atap gedung sekolah yang telah diperbaiki (foto: KARINA).
Atap gedung sekolah yang telah diperbaiki (foto: KARINA).

Bantuan tersebut sudah diterima dan digunakan dengan baik oleh SD Kanisius Prontakan. Kerusakan atap yang bocor dan hampir roboh sudah dapat teratasi dengan baik. Sehingga anak-anak dapat belajar kembali dengan aman dan nyaman. Yayasan KARINA mengucapkan banyak terima kasih kepada Sahabat-sahabat KARINA yang selalu setia mendukung karya-karya kami untuk memberikan pelayanan kemanusiaan. Secara khusus kami ucapkan terimakasih pula kepada Bpk. V. Eko Budihartono, Ibu Irene, Bpk. Linden Suryawan dan Ibu FA. Sutrisno, yang telah memberikan perhatiannya bagi pendidikan anak kurang mampu. Salam Bela Rasa Kita. ●

Penulis: Diana, Editor: YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta