Kembali ke Manggarai untuk Pertanian Organik – Caritas Indonesia – KARINA

Kembali ke Manggarai untuk Pertanian Organik

29/11/2016
imgp6928-1

Semua anggota Kelompok Tani Keba telah menanam sayur organik di kebun kelompok dan di masing-masing kebun milik anggotanya. Mereka juga terus menerus memproduksi pupuk organik padat dan cair, serta berbagai macam pestisida untuk dijual kepada orang lain maupun digunakan sendiri olah anggota kelompok. Demikianlah beberapa pembelajaran yang baik yang didapatkan selama kegiatan monitoring tigabulanan yang dilakukan oleh Yayasan KARINA di kelompok dampingan Caritas Keuskupan Ruteng pada tanggal 10-15 Oktober 2016 lalu.

Salah satu kelompok tani yang dikunjungi adalah kelompok dampingan di Kampung Keba, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai. Kelompok yang beranggotakan 26 orang (16 perempuan, 10 laki-laki) ini masuk di wilayah Paroki Todo. Ketua Kelompok Keba ini adalah Ibu Maria Suel, yang pernah mewakili para petani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng dan KARINA pada “Konferensi Para Petani” yang diselenggarakan oleh Caritas Asia di Kota Yogyakarta pada 19 – 22 April 2016.

Donatus Akur, Program Coordinator KARINA, pada saat melakukan kunjungan di Kampung Teba (Foto: KARINA).
Donatus Akur, Program Coordinator KARINA, pada saat melakukan kunjungan di Kampung Teba (Foto: KARINA).

Pada saat kegiatan monitoring berlangsung, Ibu Maria menjelaskan tentang kondisi terakhir Kelompok Keba kepada tim monitoring. “Sejak bulan Juli hingga Oktober 2016, kami telah melakukan dan terlibat dalam beberapa kegiatan, seperti mengikuti sosialisasi tentang spiritualitas kelompok yang solid, mandiri dan solider di tingkat Paroki Todo; membuat pupuk padat dan cair yang menghasilkan pupuk padat dan cair, serta pestisida; membangun gudang pupuk organik padat dan cair; dan memelihara kambing.

Selain kegiatan-kegiatan di atas, semua anggota kelompok telah aktif menanam sayur di lahannya masing-masing. Jika dihitung sejak bulan Juli 2015 hingga Oktober 2016, maka lama waktu pendampingan Caritas Keuskupan Ruteng kepada Kelompok Tani Keba adalah satu tahun empat bulan. Dalam rentang waktu tersebut, sudah banyak manfaat yang dirasakan oleh semua anggota kelompok. Manfaat-manfaat tersebut antara lain adalah hilangnya anggaran belanja rutin keluarga untuk pembelian sayur dan pupuk kimia. Saat ini kebutuhan sayur dapat dipenuhi sendiri oleh anggota kelompok. Bahkan, sebagian hasilnya dijual dan keuntungannya dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan dan kesehatan.

Ibu-ibu anggota Kelompok Tani Teba mencacah daun-daunan sebagai bahan dasar pupuk organik (Foto: KARINA).
Ibu-ibu anggota Kelompok Tani Teba mencacah daun-daunan sebagai bahan dasar pupuk organik (Foto: KARINA).

Sedangkan untuk kebutuhan pupuk, sekarang anggota kelompok tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli pupuk kimia. Dulu mereka sangat tergantung dengan pupuk kimia yang mahal itu. Kini, semua anggota kelompok sudah dapat memproduksi sendiri pupuk organik padat dan cair. Bahkan mereka juga dapat memproduksi pestisida alami. Pupuk ini menjadi kebutuhan utama bagi para petani dalam bercocok tanam. Jika tanaman tidak diberi pupuk, maka lahan yang digarap tidak akan memberikan hasil yang baik.

Manfaat lain yang sudah mereka nikmati adalah kemudahan mendapatkan pinjaman, walaupun itu masih dalam skala kecil. Melalui diskusi dan kesepakatan bersama dalam kelompok, mereka mendirikan Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Modal dasar UBSP bersumber dari hasil penjualan sayur-sayuran kelompok ditambah dengan iuran bulanan dari anggota sebanyak Rp. 5,000. Sampai saat ini, modal UBSP telah mencapai Rp. 3,000,000. Semua anggota kelompok bisa mengajukan pinjaman dengan bunga pinjaman sebesar 2% sesuai dengan mekanisme yang sudah disepakati bersama. Rata-rata anggota kelompok meminjam uang untuk kepentingan pendidikan anak-anak baik SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi. “Keberhasilan dan manfaat yang dirasakan kelompok ini menarik banyak orang di sekitar untuk belajar tentang pertanian organik,” ucap Ibu Maria Suel.

Melihat kisah sukses yang dialami Kelompok Keba, Pius Karu (46) dengan mantap memutuskan untuk tidak lagi pergi bekerja di Kalimantan. Bapak Pius bergabung dengan Kelompok Keba setelah sang istri, Maria Mamas (38) menintanya untuk kembali ke Manggarai – Todo. Ibu Mamas menjelaskan, “suami saya bekerja di Kalimantan selama 4 tahun. Di sana, dia mengirimkan uang yang hanya cukup untuk membeli makanan. Padahal tujuan awal pergi merantau adalah untuk mendapatkan uang yang lebih banyak supaya dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga. Karena itu, saya memintanya untuk kembali ke Manggarai. Lebih baik bekerja di Manggarai, supaya kita bisa sama-sama menghidupi keluarga dan anak-anak kita”.

imgp7020-1
Bapak Pius Karu pada saat kegiatan monitoring bersama Caritas Keuskupan Ruteng dan KARINA (Foto: KARINA)

Setelah Pak Pius tiba di Manggarai, Bu Mamas kemudian memperkenalkan kepada suaminya tentang keberadaan kelompok yang didampingi oleh Caritas ini, serta mengajaknya untuk bergabung. Setelah melihat bagaimana kelompok tani ini bekerja, kemudian Pak Pius bergabung di dalamnya. Sampai saat ini, dia merasa senang dan terlibat aktif dalam kegiatan kelompok. Dia akhirnya merasa mantab dan memutuskan untuk tidak pergi ke Kalimantan atau tempat lainnya.

“Benar yang disampaikan istri saya. Sebenarnya saya berencana pulang sebentar saja. Namun saya merasa tertarik dengan kelompok tani yang diikuti oleh istri saya,” kata Pak Pius. Ia merasa kelompok ini sangat membantu orang-orang yang mengalami kesulitan seperti dirinya.  Ibu-ibu di kelompok ini bisa mendapatkan uang dengan menanam sayuran organik. Selain itu, semua anggotanya aktif mengikuti kegiatan. Mereka kompak dan saling membantu, serta dapat bekerja sama dan akrab satu sama lain. Dengan kondisi seperti itu, Pak Pius memutuskan untuk bergabung menjadi anggota Kelompok Keba ini. “Sekarang ini, saya sudah bisa membuat MOL dan pupuk organik padat maupun cair,” demikian Pak Pius mengenang hari-hari awal masuk menjadi anggota kelompok dampingan di Keba.

Ibu Maria Suel, ketua Kelompok Tani Keba, memperlihatkan proses pembuatan pupuk organik (Foto: KARINA).
Ibu Maria Suel, ketua Kelompok Tani Keba, memperlihatkan proses pembuatan pupuk organik (Foto: KARINA).

Kini Kelompok Tani Keba telah menjadi tempat berbagi pengalaman dan pembelajaran tentang pertanian organik bagi masyarakat sekitar. Mereka juga menjadi kelompok yang memproduksi pupuk organik padat dan cair, MOL dan pestisida alami. Hingga akhirnya kelompok ini sekarang mempunyai persediaan 1 ton pupuk organik padat, 96 liter pupuk organik cair dan 8 liter pestisida di gudang penyimpanan milik kelompok. Banyak orang datang untuk membeli pupuk organik padat, cair dan pestisida. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan, sebab hasil dari penjualan pupuk dan pestisida ini dapat mendorong kemandirian finansial anggota kelompok ke arah yang lebih baik. ● Tulisan: DA, Foto: Dok. KARINA

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta