Jangkang: Membuka Pintu Keberlanjutan – Caritas Indonesia – KARINA

Jangkang: Membuka Pintu Keberlanjutan

22/11/2014
SAM_5341_BW

Jangkang adalah sebuah desa terisolasi di tengah hutan yang baru tersentuh akses transportasi pada 3-4 tahun yang lalu. Sebelumnya sungai menjadi akses jalan bagi penduduk untuk pergi dan masuk ke desa. Jarak tempuh dengan kendaraan roda dua dari Jangkang ke Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu – Putussibau selama 50 menit. Setengah dari jarak tempuh tersebut kondisi jalan belum beraspal. Namun demikian, hal ini sudah jauh lebih baik daripada warga harus menyusuri sungai.

Walaupun akses transportasi sudah masuk, masyarakat Jangkang masih terisolasi dari segi komunikasi dan informasi. Mereka harus berjalan jauh ke tempat yang mempunyai jaringan telekomunikasi jika ingin berkomunikasi dengan sanak keluarganya di tempat lain.

Sedangkan pada bidang pendidikan dasar, kegiatan belajar mengajar di sana berjalan sangat hidup dengan adanya tenaga pengajar dari program ‘Indonesia Mengajar’. Kehadiran guru-guru dari program tersebut  memacu dan mendorong para guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara aktif dan disiplin. Gaya mengajar dan ketelandanan yang ditunjukan para guru ‘Indonesia Mengajar’, membuat para murid semangat untuk datang ke sekolah. Demikian pun para orang tua menjadi paham tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.

Akses  transportasi sudah megalami perubahan dan akses informasi tidak terlalu lama lagi akan terbuka dengan kondisi pendidikan yang telah berjalan cukup baik.  Kondisi yang belum berubah sama sekali adalah kondisi ekonomi masyarakat. Dari dulu sampai sekarang, pemenuhan seluruh kebutuhan hidup masyarakat sangat  bergantung pada tanaman karet. Jika produktivitas getah karet tinggi dan harga pasaran tinggi maka kondisi perekonomian masyarakat membaik. Akan tetapi jika terjadi sebaliknya, maka masyarakat kesulitan dalam memenuhi seluruh kebu-tuhan hidupnya.

Mengubah kondisi per-ekonomian masyarakat bukanlah perkara mudah. Hal itu disadari oleh Caritas Sintang yang selama 7 bulan terakhir ini telah menjalankan pendampingan di komu-nitas Jangkang di bidang budidaya karet unggul.  Namun, Caritas Sintang juga sadar bahwa  peru-bahan pada masyarakat tidak akan terjadi, tanpa adanya tindakan konkrit. Pendampingan di bidang budidaya karet unggul, bagi Caritas Sintang merupakan langkah awal menuju perubahan itu. Persoalan ekonomi merupakan persoalan yang sangat kompleks, yang selalu berkaitan dengan tiga hal: produksi, pasca produksi dan pemasaran. Di antara kompleksitas persoalan itu, Caritas Sintang memilih menyoroti untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam hal budidaya karet. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas getah karet di masa mendatang.

Namun demikian, persoalan yang paling mendasar adalah bagaimana mempertahankan hak masyarakat atas tanah miliknya yang saat ini terancam oleh agresivitas perusahan-perusahan perkebunan sawit. Masyarakat harus dibuat paham tentang pentingnya hak milik atas tanahnya. ‘Bagaimana mereka bisa mem-budidaya karet atau tanaman lainnya, jika tanah mereka diserobot oleh atau dijual kepada perusahaan sawit?’, kata Direktur Caritas Sintang, Rm. Ewaldus, disela-sela kegiatan evaluasi pelaksanaan Program Deocesan Accompaniment (DA)-Initiative Basket Fund.

Pendampingan Caritas Sintang untuk Desa Jangkang dimulai bulan April 2014. Tahapan kegiatan yang sudah dijalankan bersama penerima manfaat dalam kurun 7 bulan ini diantaranya adalah pem-bentukan kelompok, per-siapan lahan, pelatihan MOL (Mikro Organisma Lokal), penyemaian dan perawatan bibit karet dan studi banding bidang budidaya karet unggul.

Indra Gunawan (44)  dan Aliyanto (27) adalah dua dari 20 orang peserta kegiatan studi banding. Sekembalinya dari studi banding mereka melakukan uji coba pengembangan bibit karet dengan teknik okulasi yang dipelajari selama studi banding. ‘Saya tidur malam tidak nyaman pa, dalam kepala itu selalu saja muncul bayangan bagaimana caranya okulasi karet. Saya benar-benar terdorong dengan sangat kuat oleh pikiran saya untuk mulai mencoba mem-praktekan apa yang sudah saya dapatkan selama studi banding. Awalnya saya lakukan dengan diam-diam karena takut gagal dan bisa membuat saya malu. Saya berani memulai dengan mengikuti setiap proses yang saya lihat dan pelajari selama studi banding, bagaimana memotong dan menempel. Percobaan pertama hanya sedikit saja yang jadi. Saya pelajari, mengapa ada yang jadi dan mengapa ada yang tidak jadi. Ternyata, yang tidak jadi itu disebabkan karena pada saat memotong dan mengangkat mata entress, mata entressnya tertinggal di batang induk, sehingga memang tidak akan tumbuh. Dengan pengalaman ini, saya membuat percobaan lebih banyak lagi, dan ternyata perbandingannya menjadi lain, yang tidak jadi sedikit dan yang jadi menjadi lebih banyak. Sejak saat itu, saya menjadi yakin dan percaya diri bahwa saya bisa. Dan sekarang semua orang di sini sudah tahu kalau saya sudah praktek hasil studi banding dan berhasil. Saya senang mengikuti kegiatan ini karena di desa kami ini tidak ada orang yang mampu dalam budidaya karet secara baik. Di sini kami masih menanam karet secara tradisional ‘tanam tinggal’ dan hanya itu pengetahuan dan keterampilan yang kami punya turun temurun. Tidak ada yang tahu tentang karet unggul. Itu yang mendorong saya untuk semangat belajar dan melakukan praktek. Saya senang Caritas melakukan ini untuk kami. Dan saya tidak mau sia-siakan ini. Saya banyak mendapatkan manfaat dari pendampingan Caritas Sintang diantaranya; pengetahuan dan keterampilan dalam hal pengembangan karet dengan okulasi, tanah milik saya terlindungi dari gangguan perusahan sawit, sebab selalu saya bersihkan dan rawat. Ini semua demi akan-anak saya ke depannya. Namun, saya mohon kepada Caritas Sintang untuk juga memperhatikan dan mendampingi tetangga desa kami yang nasibnya juga sama seperti kami. Sebab semakin banyak yang terlibat dalam kegiatan seperti ini, semakin banyak tanah yang dipertahankan. Saya sendiri bersedia membantu orang lain yang ingin budidaya karet unggul,‘ kata Indra Gunawan.

Sebagaimana Indra, Aliyanto pun mengisahkan perasaan dan manfaat yang dia dapatkan sebagai penerima manfaat dari pendampingan Caritas Sintang. ‘Saya terlibat dalam kegiatan ini karena ada niat. Niat saya adalah ingin menambah pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan karet. Saya benar-benar ingin belajar bagaimana membudidaya karet secara benar. Selama ini saya tanam karet alam hanya sekedar tanam. Tidak ada aturannya. Menanam karet sama dengan menanam pohon. Tanam trus ditinggal. Tidak ada perawatan sama sekali. Sekarang ini saya banyak belajar bagaimana membudidaya karet secara baik. Dari proses persiapan lahan, pembersihan lahan, penentuan jarak tanam, ukuran lobang, proses mengisi tanah ke dalam polybag, penyemaian dan perawatan bibit serta bagaimana menghasilkan pupuk alami dengan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Sungguh bermanfaat bagi saya dapat mengikuti studi banding budidaya karet unggul ke desa Bauk Lembang dan Desa Mentawit. Di sana kami dijelaskan proses-proses awal budidaya karet unggul; mulai dari proses memasukan tanah ke dalam polybag, posisi bibit karet dalam polybag, pemeliharaan dan perawatan. Dan yang paling menarik adalah bagaimana proses pengembangan bibit karet unggul dengan cara okulasi. Pada waktu itu, saya benar-benar memperhatikan dan mendengarkan secara serius penjelasan yang disampaikan oleh fasilitator. Kembali dari sana, diam-diam saya coba mempraktekan apa yang saya dapatkan itu. Memang awalnya saya tidak yakin akan berhasil, tetapi setelah saya coba dengan mengikuti semuan prosesnya ternyata berhasil. Saya tidak percaya diri karena sekolah saya tidak tinggi. Saya tidak tamat SD. Saya sekolah hanya sampai kelas 4. Namun, percobaan okulasi karet yang berhasil, membuat saya jadi yakin dan percaya diri bahwa saya bisa. Dan ini yang mendorong saya untuk semakin semangat belajar,’ kisah Aliyanto.

Indra dan Aliyanto merupakan gambaran sekelompok kecil penerima manfaat yang benar-benar memanfaatkan pendampingan dari Caritas Sintang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya. Memiliki orang-orang seperti Indra dan Aliyanto dalam sebuah komunitas dampingan mampu menjamin keberlanjutan manfaat dari sebuah pendampingan. Di masa depan, mereka akan menjadi guru bagi sesamanya dan tidak tertutup kemungkinan, mereka akan menjadi ahli di bidang budidaya karet unggul. Semoga… ▄

*Penulis: Donatus Akur – KARINA, Editor: Tim NAC KARINA

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta