Institusi Bidang Resiko Pengurangan Bencana di Bandung – Caritas Indonesia – KARINA

Institusi Bidang Resiko Pengurangan Bencana di Bandung

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaKajian Mandiri Kinerja Institusi Bidang Resiko Pengurangan Bencana di Bandung | “Kita hidup di tengah ancaman, entah itu banjir, gunung berapi, kekeringan, tanah longsor dan lain lain. Ini melahirkan keprihatinan dan menjadi masalah kita bersama.” ungkap Rm. A Sudarman, Pr. pada saat membuka acara Kajian Mandiri Kinerja Institusi Bidang Pengurangan Resiko Bencana (KMKIBPRB) di Wisma Pondok Tempayan, Garut, 13 – 15 Februari 2009.

Penanganan bencana tidak terbatas pada darurat saja, tapi seringkali harus sampai pada taraf pemberdayaan masyarakat sehingga setelah bencana masyarakat dapat bangkit kembali.

“Bencana bukan hanya meletusnya suatu kejadian, masih banyak hal yang harus dikerjakan, salah satunya pengurangan resiko bencana. Kegiatan ini bisa diinisiasi sebelum bencana terjadi. Bentuknya adalah penyadaran, pemahaman tentang bencana atau ancaman di sekitarnya dan adanya pemberdayaan tentang prosedur atau mekanisme penanganan bencana itu,” lanjutnya.

Walaupun Caritas Bandung belum secara resmi terbentuk, kajian mandiri ini dilakukan dalam rangka memetakan sampai sejauh mana kinerja institusi mempertimbangkan elemen pengurangan resiko bencana dalam tiap kegiatannya.

Karina - Caritas IndonesiaPada kesempatan yang sama, Mgr. Johannes Pujasumarta yang sempat hadir memberikan dukungan adanya kegiatan ini, “Kita perlu mengikuti arus besar yang terjadi ini, arus yang baik, tanpa melewatkan kondisi setempat atau konteks Keuskupan Bandung ini sendiri. Dan bagaimana kita memadukan arus besar yang baik tanpa mengeliminasi gerakan-gerakan yang searah dengan arus itu, tetapi mencoba menyambung dan menjadikan gerakan yang lebih besar.”

Acara ini diikuti oleh 28 peserta yang berasal dari daerah Bandung Selatan; Majalaya, Dayeuh Kolot, Garut, Kopo dan Moh. Toha, dan mempunyai latar belakang yang beragam. Sebagian besar peserta selama ini aktif terlibat dalam penanganan bencana di daerah Bandung Selatan, dan lainnya berasal dari paroki-paroki setempat yang selama ini tidak secara langsung terjun dalam kegiatan kebencanaan.

Dalam tiga hari tersebut peserta bersama-sama memetakan dimana posisi Keuskupan Bandung selama ini dalam hal pengurangan resiko bencana. Latar belakang peserta yang berbeda-beda itu justru membuat semakin kayanya diskusi yang terjadi selama proses kajian. Hasil yang diperoleh dari pengkajian tersebut adalah adanya prioritas aksi. Aksi-aksi ini melingkupi berhubungan dengan kebijakan, strategi institusi dan pengelolaan siklus manajemen proyek.

Kajian mandiri ini dilakukan dengan metode pemetaan dengan mengukur tingkatan dari enam elemen kunci pengarus utamaan pengurangan resiko bencana, yaitu Kapasitas Institusi, Kebijakan, Strategi, Perencanaan Berdasar Wilayah, Hubungan Eksternal, dan Pengelolaan Siklus Manajemen Proyek. Setelah disepakati tingkatan dari elemen kunci selanjutnya dicari alternatif aksi dari tiap elemen untuk kemudian di-ranking untuk dijadikan prioritas aksi.

Seperti apa yang dikatakan oleh Mgr. Johannes Pujasumarta, bahwa hendaknya nilai-nilai Deus Caritas Est dapat menjadi inspirasi dalam tiap kegitan yang dilakukan nantinya.

Sekilas dari Garut
‘Jaringan ini merupakan jaringan hidup (living organism), jaringan yang mempersatukan segala macam gerakan. Living organism itu dasarnya pada komunitas basis yang sudah kita miliki…yang merupakan perwujudan dari gereja yang hidup, yaitu a dynamic communities … Dan bagaimana kita tetap disemangati, yang kita buat, selain kemanusiaan juga berlandaskan pada kesadaran iman. Karena Caritas juga didukung oleh ensiklik, Deus Caritas Est, yang salah satu artikelnya secara eksplisit menyebut bahwa Caritas sebagai perwujudan bagaimana gereja sebagai komunitas pelayanan, komunitas cinta kasih, menghadirkan kasih Tuhan…(Mgr. Johannes Pujasumarta, Uskup Bandung)

‘Pelayanan apapun tidak akan tumpang tindih sejauh karakteristiknya sudah jelas. Sinergi akan terjadi apabila karakteristik itu jelas. Karina bisa mengisi peluang gerakan kemanusiaan ini bersama-sama dengan pihak lain lewat koordinasi yang tertata.'(Rukhiyat, Sekretaris DKP Keuskupan Bandung)

‘Kaum perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan dalam bencana karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Kalau mereka sudah memiliki pengetahuan sendiri, maka mereka akan siap dalam menghadapi bencana. Jawa Barat merupakan wilayah yang rentan, maka perlu ada sistem koordinasi yang baik dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu persamaan visi juga perlu dilakukan lewat diskusi-diskusi semacam ini.'(Agnes Dwi, SD St. Ursula Bandung)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta