Iklim Berubah, Penyakit Kakao Menyebar – Caritas Indonesia – KARINA

Iklim Berubah, Penyakit Kakao Menyebar

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas Indonesia‘Kami kenal kakao sekitar tahun 1971 ketika Pater Bollen suruh kami tanam di sini. Waktu itu saya baru tamat SPG (Sekolah Pendidikan Guru),’ kenang bapak Leopoldus Maring, guru SD dan fasiliator CMDRR paroki Kloangpopot. Coklat (theobroma cacao, L) atau di Flores lebih dikenal dengan nama kakao merupakan salah tanaman perkebunan rakyat. Tanaman ini berbuah sepanjang tahun, karenanya menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan petani. Tanaman ini dikembangkan hampir di semua wilayah kecamatan di kabupaten Sikka pada daerah ketinggian 500-1000 m dari permukaan laut. Pastor Heinrich Bollen SVD, pastor Paroki Watublapi saat itu, mengajarkan umatnya menanam kakao.

‘Waktu itu umat masih ragu-ragu karena tidak ada manfaat langsung untuk kehidupan harian seperti kelapa. Tetapi kami beberapa orang tetap mengikuti nasehat pater Bollen. Baru sesudah ada hasilnya dan laku dijual dengan harga lebih tinggi dari kelapa, orang ramai-ramai menanamnya,’ lanjutnya.

Yosef Nong Files , petani kakao di Kloangpopot, menjelaskan ketika panenan kakao melimpah, para petani bisa membangun rumah permanen, membiayai pendidikan anak-anaknya sampai perguruan tinggi serta membeli fasilitas lainnya seperti televisi, vcd bahkan ada yang sampai membeli mobil. Dan mereka memberi nama mobil itu ‘coklat indah’.

Lain Dulu, Lain Sekarang
Sejak 5 tahun terakhir, tanaman coklat di kabupaten Sikka sering diserang hama. Lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) pertanian propinsi NTT di Maumere mengatakan bahwa jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao di NTT antara lain: hama penggerek buah kakao (conopomorpha cramerella), kepik penghisap buah kakao (helopeltis spp), dan penyakit busuk buah (phytophthora palmivora).

‘Waktu saya tamat SMA (tahun 2002), harga kakao bisa mencapai Rp 20.000/kg karena kualitasnya bagus. Tetapi sekarang tinggal Rp 8.000/kg karena biji kakao yang dihasilkan berwarna coklat kehitam-hitaman’, keluh Nong Files.

Ditambahkannya, saat ini seorang petani kakao dengan luas lahan 1 ha hanya dapat memanen 2-4 ton/tahun. Itu berarti penghasilan keluarganya cuma 16 juta–24 juta pertahun. Apabila dikurangi dengan biaya produksi maka penghasilan keluarga rata-rata cuma 10–18 juta pertahun. Ini hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, kebutuhan lainnya tak dapat dipenuhi.

Ben de Rosary, ahli pertanian menyebut bahwa penyakit itu disebabkan oleh banyak faktor yang berakar pada budidaya kakao selama ini. ‘Dengan kondisi budidaya kakao yang seadanya, ibarat manusia yang makan tidak bergizi, hidup seadanya, ditambah umur yang sudah tua, perubahan cuaca sedikitpun sudah mulai menggigil, batuk dan pilek,’ jelasnya.

Tanaman kakao hanya bisa hidup pada suhu stabil antara 30-32 derajat celcius dan pada tingkat kelembaban udara sekitar 1100 ml/tahun. Ketika suhu udara tidak stabil, curah hujan tidak teratur yang tentu berpengaruh pada kelembaban udara, dan penyinaran yang tidak mencukupi, maka akan mempengaruhi proses fisiologi pada tanaman kakao. Curah hujan yang tinggi antara 3 – 6 hari saja akan menyebabkan kelembaban udara yang tinggi dan memungkinkan tumbuhnya cendawan phytopthora palmivora yang menyebabkan penyakit busuk buah. Tanda buah kakao yang terserang, ada bercak coklat kehitaman yang biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah

‘Apabila musim hujan dan kemarau menjadi tidak jelas seperti ini, tentu akan menimbulkan pelbagai penyakit tanaman. Yang paling banyak menyerang tanaman kakao di Sikka adalah penyakit busuk buah’, tambah Thomas Toda , staf Litbang Pertanian di Maumere pekan lalu.

Jadi, masalah penyakit kakao itu menjadi lebih serius dengan perubahan iklim yang anomali seperti sekarang ini. Ringkas kata, iklim berubah, penyakit kakao menyebar.

Bisa dikatakan, beberapa tahun terakhir, petani kakao di Sikka mengalami situasi perubahan cukup signifikan sehingga penyakit menyerang hampir semua tanaman kakao dan menyebabkan kehancuran sumber pendapatan keluarga mereka.

Menurut Nong Files, dampak dari penyakit ini sangat dirasakan oleh para petani yang hanya mengandalkan sumber penghidupan keluarganya dari tanaman kakao. Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah. Karena tidak ada lahan untuk tanaman pangan. ‘Kami jual kakao yang sedikit-sedikit ini hanya untuk beli beras, minyak goreng dan gula pasir’.

Bersama Kita Bisa
Ketika ditanya tentang apa yang sudah dilakukan oleh petani untuk mengatasinya, Nong Files menjawab: ‘Untuk sementara petani memangkas buah yang terkena penyakit dengan harapan tidak menular ke buah yang lain. Buah-buah busuk itu kemudian ditanam dalam tanah sedalam 30 cm’. Ini yang disebut dengan sanitasi kebun. Selain itu, petani menggunakan kultur teknis yaitu pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman agar kelembaban dalam kebun akan turun.

Dijelaskan pula bahwa sejak tahun 2009, Caritas Keuskupan Maumere telah mengadakan kegiatan penyadaran kepada para petani bahwa hal ini merupakan ancaman bencana. Para petani sebagai anggota komunitas dilibatkan dalam kajian resiko bencana partisipatif yang terdiri dari kajian ancaman, kajian kerentanan dan kajian kapasitas. Kemudian dirumuskan rekomendasi dan penyusunan rencana aksi. Rekomendasi utamanya adalah peremajaan kakao dengan varietas yang lebih tahan penyakit. Di kabupaten Sikka, varietas unggul itu baru dikembangkan di litbang pertanian dan klinik agrobisnis milik bapak Wilhelmus Mimi di Gere – Desa Koting A – Kecamatan Koting.

Menurut Bapak Leopoldus Maring, awalnya agak sulit meyakinkan petani untuk mengadakan peremajaan kakao. Bagi mereka, kakao yang sudah tumbuh bertahun-tahun, sayang kalau ditebang. Dalam kebiasaan setempat, seremoni adat tertentu dibuat terlebih dahulu kalau ingin menebang agar tidak menimbulkan amarah dari roh-roh nenek moyang.

Pastor Paroki Kloangpopot, Rm. John Dae, Pr juga secara terus-menerus memberikan penjelasan dan peneguhan kepada umatnya, maka petani perlahan-lahan mau menebang kakaonya yang terkena penyakit.

‘Ka’e, (kakak – demikian beliau biasa menyapaku) saya juga berasal dari keluarga petani sehingga saya tahu betul kesulitan mereka apabila terjadi seperti ini’, ujar Romo John usai Perayaan Ekaristi pemberkatan bibit kakao beberapa waktu yang lalu.

Hingga saat ini di paroki Kloangpopot sekitar 40 ha lahan kakao yang sudah diremajakan dengan pola sambung pucuk. Bibit kakao lokal disemaikan kurang lebih 3-4 bulan baru ditanam. Sebulan kemudian, pucuknya disambung dengan entries unggul yang dibeli dari klinik agrobisnis milik bapak Wilhelmus. Dibeberapa paroki lain seperti Watublapi, Kloangpopot, dan Halehebing dikembangkan juga pola sambung samping. Dahan kakao dilukai kemudian disambungkan dengan entries unggul lalu dibungkus dengan plastik agar udara tidak masuk dan tidak terserang penyakit.

Menurut bapak Leo, upaya yang dirintis oleh Caritas ini, haruslah dapat dikembangkan oleh seluruh petani di kabupaten Sikka. Karena itu, butuh kerja sama dan keterlibatan semua pihak.

‘Saya bukan ahli pertanian; tetapi berdasarkan pengalaman, pada satu hamparan kalau tidak dilakukan penanganan secara menyeluruh, maka tidak akan berhasil karena sumber penyakitnya masih bercokol di pohon-pohon kakao lainnya,’ katanya.

Bak gayung bersambut, pemerintah Kabupaten Sikka kemudian membentuk tim pertanian terpadu untuk penanganan bencana kakao di Sikka yang diketuai oleh pastor Klaus Naumann, SVD – direktur Caritas Maumere. Tim ini bertugas untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat dan mengadakan proyek percontohan di lokasi dekat proyek percontohan milik Caritas Maumere. Kita semua berharap agar kerja sama semua pihak dapat membantu para petani kakao di Sikka keluar dari kesulitan hidup mereka.

******

*Program CMDRR (Community Managed Disaster Risk Reduction) merupakan program unggulan Caritas Keuskupan Maumere (CKM) yang mulai dikembangkan sejak tahun 2008.Oleh: Kanis Kasih (Koordinator Program CMDRR CKM)*

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta