Gender tidak sama dengan perempuan! – Caritas Indonesia – KARINA

Gender tidak sama dengan perempuan!

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas Indonesia‘Apa yang terlintas jika kita mendengar kata gender atau pengalaman apa yang berkaitan dengan gender di dalam Pengurangan Risiko Bencana’ dua pertanyaan itu muncul dari diskusi antara staf Karina dengan salah satu pakar gender dan pemberdayaan perempuan, Dati Fatimah 24 Juni 2011 lalu. Ada tujuh orang yang sat itu bisa turut dalam diskusi ringan siang itu. Tanpa banyak membuang waktu kamu memulai diskusi ini diawali dengan berbagi pengalaman dari teman-teman Karina. Mereka bertutur mengenai pandangan juga pemikiran soal gender.

Setelah mendengar sharing kami, Mba Dati, begitu ia biasa dipanggil, menjelaskan bahwa di dalam issue gender itu terdapat empat aspek atau empat dimensi yaitu yang pertama akses, merupakan seberapa besar peluang atau kesempatan bagi laki-laki maupun perempuan dalam memasuki suatu komunitas atau kelompok tertentu. Kedua partisipasi, merupakan keterlibatan laki-laki maupun perempuan di dalam komunitas tersebut. Ketiga kontrol, seberapa besar peran laki-laki maupun perempuan dalam lingkup mengambil suatu keputusan. Dan yang terakhir manfaat, seberapa besar dampak yang terjadi terhadap perempuan atau laki-laki tersebut. Misalnya dalam hal pendidikan, laki-laki lebih didahulukan untuk mengenyam pendidikan karena dianggap akan lebih bermanfaat kelak dimana laki-laki akan menjadi kepala Rumah tangga dibandingkan dengan wanita ‘hanya’ sebagai ibu Rumah tangga. Jika dalam sebuah proyek, seberapa besar perempuan dan laki-laki memperoleh manfaat yang sama.

Dalam banyak kasus, biasanya komunitas hanya terfokus pada satu aspek saja yaitu aspek partisipasi, namun jika demikian, ini belum menyelesaikan suatu permasalahan di dalam gender. Faktor-faktor yang menyebabkan komunitas hanya terfokus pada satu aspek saja (terutama aspek partisipasi) diantaranya adalah Adanya suatu ‘keharusan’ memenuhi standard layaknya seorang laki-laki atau perempuan. Perempuan meskipun sudah memiliki kesempatan untuk masuk dalam komunitas dan ikut terlibat, kerapkali hanya diberi ruang gerak yang tidak jauh dari sifat pekerjaan yang feminim. Disisi lain, kaum laki-lakipun memiliki suatu kerentanan – yang mungkin jika melihat sekilas dapat dikatakan sebuah kapasitas. Diantaranya adanya pandangan bahwa laki-laki itu harus kuat, mendahulukan perempuan dan yang bertanggung jawab atas asset yang dimiliki.

Adapun suatu ‘hukum’ tak tertulis atau kebiasaan dimana perempuan hanya sebatas pendukung, namun ketika sudah masuk ke tingkat pembuatan keputusan maka para kaum prialah yang lebih ‘berhak atau berkewajiban’ untuk memegang peran ini (aspek kontrol)

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dapat melakukan beberapa metode, diantaranya:

  1. Melakukan ‘rekayasa’ di dalam melaksanakan peran di dalam suatu komunitas, biasa dikenal dengan istilah ‘Affirmative action’. Dimana metode ini mengarahkan kedalam diskriminasi yang positif supaya kesenjangan yang telah terjadi tidak terlalu jauh lagi.
  2. Kuota, mengkombinasikan jumlah perempuan dan laki-laki di dalam suatu komunitas
  3. Promosi peran, suatu posisi pekerjaan dapat ditawarkan baik laki-mapupun perempuan. Contoh: posisi sekretaris tidak hanya bisa diisi oleh perempuan namun laki-lakipun bisa.
  4. Skema atau forum terpisah

Walaupun waktu pertemuan ini sangat singkat karena Mba Dati yang memiliki spesialisasi Gender Budgeting ini harus menghadiri acara selanjutnya, namun saya pribadi memperoleh informasi yang cukup menarik, dimana saya keluar dari ruangan diskusi tersebut di otak saya tercatat GENDER TIDAK SAMA DENGAN PEREMPUAN.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta