ERICA, Mengasah Kemampuan Tanggap Darurat – Caritas Indonesia – KARINA

ERICA, Mengasah Kemampuan Tanggap Darurat

24/06/2016
Para peserta memainkan flying stick dalam “Kegiatan Pembelajaran Proyek ERICA di Bogor. (Foto: Danica Coloay)

Setelah dua tahun berjalan, CRS Indonesia dan KARINA melakukan “Kegiatan Pembelajaran Proyek ERICA (Emergency Response Institutional Capacity Accompaniment)”. Kegiatan pembelajaran ini dilaksana-kan pada tanggal 31 Mei hingga 2 Juni 2016 di Kampung Awan, Bogor. Jumlah keseluruhan peserta yang mengi-kuti kegiatan ini adalah 31 orang terdiri dari perwakilan enam Caritas Keuskupan yang terlibat proyek ERICA, yaitu Caritas Keuskupan Bandung, Caritas Keuskupan Sibolga, Caritas Keuskupan Purwokerto, Caritas Keus-kupan Sintang, Caritas Keuskupan Tanjung Karang dan Caritas Keuskupan Agung Palembang, serta dari manajemen dan staf CRS Indonesia, KARINA dan KARINA Jogja.

Tujuan dari kegiatan pembelajaran ini adalah untuk mengukur sejauh mana capaian dari Proyek ERICA selama 2 tahun dengan melihat hambatan dan tantangan yang ada. Selain itu, para peserta juga diajak untuk melihat dampak dari proyek ini, baik di tingkat lembaga Caritas Keuskupan maupun di tingkat komunitas, berdasarkan praktik baik dari proyek yang dijalankan. Pertemuan dilakukan di dalam dan di luar ruang dengan berbagai macam kegiatan seperti simulasi, diskusi, kerja kelompok dan jalinan keakraban. Pada setiap akhir kegia-tan, para peserta diajak untuk merefleksikan nilai dari masing-masing kegiatan tersebut.

Para peserta melakukan diskusi dan kerja kelompok. (Foto: Danica Coloay)
Para peserta melakukan diskusi dan kerja kelompok.
(Foto: Danica Coloay)

 

Proses pembelajaran bersama dibuka dengan kegiatan simulasi Standard Operational Procedure Emergency Response (SOP ER) KARINA. Tujuan dari simulasi ini adalah untuk melihat efektifitas pelaksanaan SOP, khususnya ketika merespon bencana, bersama Caritas Keuskupan. Metode yang dilakukan untuk menguji SOP ER ini adalah dengan melakukan gladi posko, yakni setiap peserta menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Skenario yang digunakan pada kegiatan ini adalah kejadian bencana di wilayah Jawa Barat yang berskala nasional sehingga memungkinkan semua Caritas Keus-kupan untuk terlibat membantu keuskupan yang terdampak.

Dari simulasi ini para peserta dapat melihat bahwa Caritas Keuskupan di wilayah terdampak maupun Caritas Keuskupan lain yang memberikan bantuan mampu menentukan kebijakan untuk merespon sesuai dengan kapasitas tanggap darurat yang mereka miliki. Sementara itu, KARINA sebagai animator, fasilitator dan koordinator, memberikan dukungan kepada Caritas Keuskupan terdampak dengan menjunjung tinggi prinsip subsidiaritas. Di sisi lain, KARINA juga mengkomunikasikan dan memfasilitasi kebutuhan dari para donatur yang akan membantu dengan Caritas Keuskupan terdampak, tanpa menciderai kebijakan Caritas Keuskupan yang hendak melakukan respon tanggap bencana secara mandiri.

Proses pembelajaran bersama ini dilanjutkan dengan kegiatan outbond pada hari berikutnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih kekompakan dan membentuk keakraban antar peserta. Permainan yang digunakan dalam outbond ini ada empat jenis, yaitu: flying carpet untuk melatih komunikasi antar peserta dengan memecahkan masalah yang ada; tali gurita untuk memecahkan berbagai permasalahan dengan perencanaan yang matang dan koordinasi yang melibatkan semua anggota kelompok; bola empati untuk melatih pola komunikasi dan menyampaikan informasi antar peserta; dan magic stick untuk melatih mencapai tujuan bersama dengan saling “merendahkan” kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar.

Para peserta melakukan kegiatan outbond. (Foto: Danica Coloay)
Para peserta melakukan kegiatan outbond. (Foto: Danica Coloay)

 

Kegiatan pada hari terakhir diawali dengan paparan capaian Proyek ERICA selama dua tahun oleh Maria Josephine dari CRS Indonesia. Setelah itu, para peserta diajak untuk menilai kegiatan mereka dengan panduan pertanyaan reflektif. Pada sesi ini, para peserta menyampaikan pandangannya terkait dengan peningkatan kapasitas lembaga dalam respon tanggap darurat, baik sebelum dan sesudah mengikuti Proyek ERICA ini. Sebagian besar peserta merasa bahwa kapasitas mereka dalam respon tanggap darurat meningkat setelah adanya kegiatan pendampingan dalam proyek ini.

Kegiatan pembelajaran bersama ini ditutup dengan update rencana kerja ke depan dan evaluasi bersama. Dalam evaluasi, para peserta diminta untuk menuliskan refleksi tentang perubahan yang dirasakan selama proyek ini berjalan. Selain itu para peserta juga menuliskan kisah sukses dan tantangan dalam menjalankan proyek ini. Tantangan-tantangan tersebut kemudian didiskusikan bersama untuk mendapatkan jalan keluar. Adapun beberapa topik kisah “The Most Significant Change” akan disajikan pada halaman lain dari buletin ini. (Baca: Belajar dari Praktik Baik ERICA)

Sebagai kata-kata penutup, Romo Adrianus Suyadi, SJ, Direktur Eksekutif Yayasan KARINA, memberikan beberapa rekomendasi dan apresiasi. Yang pertama adalah bahwa capaian Proyek ERICA yang dilaksanakan oleh enam Caritas Keuskupan sangat baik. Maka dari itu, perlu dikembangkan, disebarluaskan dan dilanjutkan untuk keuskupan yang lain. Selain itu, proyek ini perlu bersinergi dengan program lain di KARINA dan Caritas Keuskupan, misalnya dengan Program Resiliensi-Umbrella yang sedang berjalan, agar dampak perubahan lebih bisa dirasakan oleh keuskupan lain. Romo Suyadi juga mengajak Caritas Keuskupan untuk turut menyumbangkan kisah-kisah sukses supaya dapat dipublikasikan oleh KARINA, memfasilitasi keuskupan lain dalam pelatihan-pelatihan, mengirimkan relawan pada saat respon tanggap darurat, dan lain-lain, agar supaya jejaring Caritas di Indonesia semakin kuat dan karya sosial kemanusiaan dari Keuskupan dan KARINA bisa dikenal dan diketahui secara luas. ▪

 

Belajar dari Praktik Baik ERICA

Semua peserta “Kegiatan Pembelajaran Proyek ERICA” menyadari bahwa respon tanggap darurat adalah pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan perhatian. Niat baik untuk menolong warga terdampak tidak dapat dilakukan secara asal-asalan. Bantuan harus diberikan secara baik dan tepat sasaran. Pelatihan-pelatihan pada Proyek ERICA memperkenalkan prinsip dan kode etik kebenca-naan yang menjadi kontrol dalam melakukan kegiatan kemanusiaan. Seluruh kegiatan pelayanan kemanusiaan harus ilakukan secara bermartabat. Sebagai pekerja kemanusiaan, kita harus membantu para penyintas untuk percaya bahwa mereka sendiri, walaupun sedang dalam kondisi yang menderita, mampu dan bisa mempertahankan hidupnya.

Pelatihan-pelatihan yang diberikan juga membantu para peserta untuk dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam kegiatan tanggap darurat. Hal ini tidak lepas dari beberapa ketrampilan yang secara khusus dida-patkan dari Proyek ERICA, misalnya seperti cara melakukan kajian, koordinasi dengan para pemangku kepentingan, pengaturan distribusi bantuan, dan lain-lain. Selain itu para peserta juga mendapat pengetahuan dan pemahaman tentang Piagam Kemanusiaan dan Standar-standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan (Sphere).

Maria Josephine (CRS Indonesia) memaparkan capaian Proyek ERICA. (Foto: Danica Coloay)
Maria Josephine (CRS Indonesia) memaparkan capaian Proyek ERICA.
(Foto: Danica Coloay)

 

Dalam proses pendampingan proyek ini, lembaga-lembaga Caritas Keuskupan juga mengembangkan dokumen SOP ER yang mereka miliki. Fungsi dari SOP ER ini, salah satunya, adalah untuk mempercepat kegiatan respon bencana dengan dukungan para pemangku kepentingan melalui berbagai media komunikasi dan informasi. Dokumen SOP ER ini juga menjadi pedoman dalam menjalankan langkah-langkah respon tanggap darurat secara cepat, tepat dan teratur, tanpa meninggalkan nilai-nilai dalam Ajaran Sosial Gereja.

Secara keseluruhan, tahapan-tahapan dalam pelatihan dirasakan sangat penting dan berguna oleh para peserta, utamanya dalam melakukan respon tanggap darurat. Mereka dapat melakukan dengan baik setiap tahapan, mulai dari kajian, koordinasi antar pemangku kepentingan, rencana distribusi, distribusi, hingga ke tahap monitoring dan evaluasi. Selain  itu, para pelaksana di lapangan menjadi lebih percaya diri, dapat bekerja sistematis, mampu membuat skala prioritas dan bekerjasama dengan banyak pihak. Harapannya, bantuan yang diberikan dapat lebih efektif, sesuai kebutuhan dan tepat sasaran. ▪

Kontributor Tulisan: F. Sundoko, Aryo Saptoaji, Naomi K. Aprilani

Foto: Danica Coloay

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta