E-WASH: Pengelolaan Air Bersih untuk Tanggap Darurat – Caritas Indonesia – KARINA

E-WASH: Pengelolaan Air Bersih untuk Tanggap Darurat

24/10/2016

Masalah utama yang biasanya terjadi dalam situasi bencana adalah langkanya air bersih. Pada situasi yang kritis, bencana dapat mempengaruhi jumlah pasokan air hingga sama sekali sulit untuk didapatkan. Kelangkaan air ini tentu saja akan memperburuk kondisi masyarakat terdampak karena jaminan untuk menggunakan air bersih menjadi terganggu. Sebaliknya, penggunaan air yang tidak bersih berpotensi untuk mendatangkan penyakit yang dapat mengganggu kesehatan mereka.

Catholic Relief Service (CRS) Indonesia selama enam tahun terakhir telah mengadakan berbagai macam pelatihan melalui Program Capacity Building for Emergency Response (CB4ER) dan Proyek Emergency Response Institutional Capacity Accompaniment (ERICA) yang bekerjasama dengan Yayasan KARINA (Caritas Indonesia). Pelatihan itu dirasakan perlu untuk meningkatkan kapasitas tanggap darurat bagi Jaringan Caritas Indonesia di level nasional dan keuskupan.

Fasilitator dari PMI menjelaskan tentang Compartment Bag Test (CBT) kepada para peserta pelatihan (Foto: CRS Indonesia).
Fasilitator dari PMI menjelaskan tentang Compartment Bag Test (CBT) kepada para peserta pelatihan (Foto: CRS Indonesia).

 

Pada tanggal 19-23 September 2016, CRS Indonesia mengadakan pelatihan tentang Water, Sanitation and Higiene Promotion in Emergency (E-WASH). Kegiatan ini ditujukan untuk mitra kerja CRS Indonesia dan diselenggarakan di Pusat Air dan Kebersihan PMI di Jatinangor, Sumedang. Selain diikuti oleh Yayasan KARINA, kegiatan ini diikuti pula oleh 6 Caritas Keuskupan yang tergabung dalam Proyek ERICA (Caritas Keuskupan Bandung, Caritas Keuskupan Sibolga, Caritas Keuskupan Purwokerto, Caritas Keuskupan Sintang, Caritas Keuskupan Tanjung Kaarang dan Caritas Keuskupan Agung Palembang), Posko Kemanusiaan Peduli Umat (PKPU), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Komisi PSE Keuskupan Atambua. Pelatihan ini difasilitasi oleh Taufik Jeremias dari PMI Pusat, dan Susana Lardies dari WASH Technical Advisor – CRS.

Materi pelatihan selama lima hari ini dikemas dalam beberapa topik, yaitu:

  1. Pengelolaan air dan hubungannya dengan kesehatan masyarakat
  2. Sanitasi dan kebersihan
  3. Praktik pengelolaan air, pembangunan jamban dan promosi kebersihan
  4. Desain Proyek E-WASH
  5. Perencanaan desain proyek

Pada hari pertama, peserta diajak untuk memahami konsep WASH dalam kondisi darurat dan hubungannya dengan kesehatan masyarakat. Pada hari-hari pertama setelah terjadi bencana, untuk memenuhi kebutuhan air kita perlu memperhatikan sumber air yang akan digunakan. Apakah jumlah pasokan air mencukupi; apakah pasokan tersebut dapat dikelola dengan efektif dan efisien untuk menunjang kegiatan tanggap darurat; di mana air tersebut akan disimpan; berapa biaya untuk perawatan airnya (water treatment) dan bagaimana nanti proses pendistribusiannya?

Para peserta melakukan percobaan "jar test" (Foto: CRS Indonesia).
Para peserta melakukan percobaan “jar test” (Foto: CRS Indonesia).

 

Untuk lebih memahami tentang bagaimana kualitas sumber air yang ada, para peserta diajak untuk melakukan praktik pengetesan kandungan bakteri ecoli. Tes ini menjadi hal yang penting sebab pada situasi darurat seringkali kita mendapatkan sumber air yang sudah terkontaminasi oleh kotoran hewan/manusia, atau bangkai hewan maupun jasad korban. Alat yang dilakukan untuk melakukan pengetesan ini adalah Compartment Bag Test (CBT) dari Aquagenx.

Pada hari kedua, para peserta pelatihan belajar tentang praktik sanitasi dan kebersihan. Sesi ini dimulai dengan serangkaian tes untuk melihat kelayakan sumber air (air baku) dan menentukan metode perawatan air dari air yang sudah dites. Pengetesan air dengan menggunakan tubirdity tube bertujuan untuk melihat tingkat kekeruhan sumber air. Air baku yang terlalu keruh jika akan diproduksi untuk kegiatan respon darurat akan mempengaruhi pada biaya produksi dan media perawatannya. Air yang terlalu keruh dapat disaring terlebih dahulu secara tradisional dengan menggunakan pasir atau arang sebelum dijernihkan dengan menggunakan alat yang lebih modern.

Setelah tes tingkat kekeruhan, pengetesan selanjutnya adalah pengetesan air dengan toples (jar test). Jar Test dilakukan untuk menentukan perbandingan air yang akan diproduksi dengan bahan penjernih air (tawas atau alumunium sulfat). Semakin banyak tawas yang digunakan, air akan semakin jernih karena tawas dapat mengendapkan kotoran lebih banyak. Konsekuensinya, air ini akan berakibat buruk secara jangka panjang apabila dikonsumsi. Selain itu, endapan kotoran yang terlalu banyak membutuhkan tenaga ekstra ketika akan dibersihkan di media penampung. Jar test dimaksudkan agar komposisi campuran tawas dan air menjadi aman untuk di konsumsi serta cukup ekonomis untuk dibuat. Air yang sudah dites kemudian diolah menggunakan klorin untuk mematikan mikroorganisme supaya aman dikonsumsi.

Para peserta pelatihan mendapatkan penjelasan tentang cara membaca hasil CBT (Foto: CRS Indonesia).
Para peserta pelatihan mendapatkan penjelasan tentang cara membaca hasil CBT (Foto: CRS Indonesia).

 

Pada hari ketiga para peserta dibagi kedalam kelompok untuk mengerjakan studi kasus pembangunan jamban. Hal yang dipelajari dari sesi ini adalah bahwa dalam membangun sebuah jamban perlu memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan. Hal ini juga akan terkait dengan konteks sosial, budaya, geografis, sumber daya manusia, sumber daya alam, lama masa tanggap darurat, kapasitas lembaga, dan kapasitas masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks kerja kemanusiaan, membangun jamban bukan hanya mendirikan bangunan fisik semata, namun juga membangun aspek keberlanjutan dalam sektor WASH sehingga benar-benar bermanfaat bagi masyarakat terdampak.

Keesokan harinya, materi yang dipelajari adalah tentang higiene promotion. Para peserta diminta untuk memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan dari respon WASH. Sebab sebaik apapun bangunan dan fasilitas WASH yang dibangun, tidak akan berarti apabila tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Terlebih lagi apabila pembangunan tersebut tidak menyentuh kesadaran masyarakat untuk hidup bersih. Maka dari itu respon WASH haruslah terintegrasi, yakni antara penyediaan air, pembangunan sanitasi dan promosi kesehatan/kebersihan harus dilakukan bersama-sama.

Hari terakhir pelatihan ditutup dengan rangkuman semua kegiatan yang sudah dijalani melalui simulasi. Para peserta melakukan simulasi respon WASH berdasarkan skenario bencana yang dibagikan dalam tiga kelompok. Mereka diminta untuk merancang sebuah Proyek WASH secara detail dan terstruktur mulai dari kajian, analisis lapangan, pemilihan kegiatan, teknis pelaksanaan program, monitoring dan pencapaian, sumber daya yang dibutuhkan, pembiayaan dan rencana kerjanya.

Para peserta pelatihan E-WASH berfoto bersama (Foto: CRS Indonesia).
Para peserta pelatihan E-WASH berfoto bersama (Foto: CRS Indonesia).

 

Hasil simulasi yang dilakukan oleh kelompok akan dinilai memuaskan berdasarkan aspek-aspek seperti mandat dan kapasitas lembaga, analisa kesenjangan, kebutuhan warga, exit plan dan keberlanjutan program. Integrated WASH Response direfleksikan sebagai sebuah tantangan bagi lembaga yang memiliki sumber daya yang terbatas. Maka dari itu diperlukan koordinasi antara lembaga dengan mitranya untuk dapat saling mengisi kesenjangan dari respon WASH tersebut, terutama apabila terjadi situasi bencana. ▪ Aryo Saptoaji

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta