Diskusi Kota Tangguh Seri 2 – Caritas Indonesia – KARINA

Diskusi Kota Tangguh Seri 2

01/08/2018

Inisiasi untuk membangun Kota Tangguh terhadap bencana dan perubahan iklim di Indonesia sudah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan penilaian indeks ketahanan daerah terhadap banyak kabupaten/kota. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah melaksanakan program kampung iklim. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melaksanakan Kota Hijau dan juga Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di beberapa daerah. Sedangkan dari pihak non-pemerintah, program ACCCRN dari Mercy Corps Indonesia telah mengujicoba banyak indikator untuk menilai Kota Tangguh. Program Jakarta Berketahanan juga menerapkan banyak indikator untuk menilai ketahanan Kota Jakarta.

Inisiasi tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Republik Indonesia yang telah mengadopsi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2017 tentang “Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”. Dalam Lampiran Perpres 59/2017, khususnya pada Tujuan 11 “Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan”, salah satu sasaran nasional yang harus dicapai adalah “Meningkatnya kapasitas masyarakat dan kelembagaan dalam membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana (urban resilience)”.

Johan Rachmat Santosa (berdiri) dari Yayasan KARINA yang mewakili Partners for Resilience menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan tersebut (Foto: Arfiana Khairunnisa).
Johan Rachmat Santosa (berdiri) dari Yayasan KARINA yang mewakili Partners for Resilience menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan tersebut (Foto: Arfiana Khairunnisa).

Untuk mengetahui berbagai inisiatif dan indikator yang digunakan oleh berbagai pihak dalam penilaian dan pengembangan Kota Tangguh, Yayasan KARINA bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyelenggarakan Diskusi Kota Tangguh Seri 2 di Jakarta pada 30 Juli 2018. Diskusi ini dilaksanakan untuk mendapatkan informasi indikator Kota Tangguh bencana dan perubahan iklim yang bisa digunakan untuk mengukur capaian SDGs dan New Urban Agenda (NUA).

Diskusi ini dibagi menjadi dua sesi pemaparan. Pada sesi pertama mengundang narasumber dari lembaga pemerintah, yaitu Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D (Bappenas), Tri Rizky Septian (BNPB), dan Sri Tantri Arundhati (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Pada sesi ini, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah (1) Membuat kerangka logis untuk indikator kota tangguh, umum dan khusus, termasuk mempertimbangkan indikator yang berinklusi sosial, (2) Terkait pendekatan di masyarakat, kewilayahan, kapasitas pemerintah daerah, dan kerjasama, (3) Rujukan dalam perumusan indikator, (4) Informasi indikator kota tangguh yang terbuka agar siapapun dapat memahami dan melaksanakannya.

Pada sesi kedua mengundang narasumber dari organisasi non-pemerintah, yaitu Johan Rachmat Santosa dari Yayasan KARINA yang mewakili Partners for Resilience, Ratri Sutarto dari Yayasan Mercy Corps Indonesia, dan Tri Mulyani S dari Jakarta Berketahanan.

Pada sesi kedua ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu (1) Indikator kota tangguh harus dapat diharmonisasikan satu sama lain, tidak menggunakan sistem yang berbeda-beda, (2) Kota tangguh harus memperhatikan aspek ancaman dan kerentanan, (3) Indikatornya mengadopsi konteks regional, tidak hanya di wilayah administratif kota, (4) Indikator global, dalam hal ini dikaitkan dengan tujuan dari SDGs, dan (5) Indikator lokal yang disesuaikan dengan nilai-nilai dan kerarifan lokal. ●

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta