Diawali dengan Niat Baik – Minahasa Tenggara – Caritas Indonesia – KARINA

Diawali dengan Niat Baik – Minahasa Tenggara

22/10/2012
Program Pengurangan Risiko Bencana di Desa Belang dan Watuliney Tengah, Minahasa Tenggara

Program Pengurangan Risiko Bencana  di Desa Belang dan Watuliney Tengah, Minahasa TenggaraProgram Pengurangan Risiko Bencana  di Desa Belang dan Watuliney Tengah, Minahasa Tenggara : ‘Diawali dengan Niat Baik’ – Dua orang staf Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Manado bersepeda motor mengunjungi  ke daerah pesisir pantai Kabupaten Minahasa Tenggara, tepatnya di pesisir Desa Belang. Sebelumnya, Belang-Watuliney-Molompar adalah nama yang sering disebut di koran-koran lokal sebagai desa yang pernah mengalami banjir. Maka itulah alasan dari dua orang staf PSE hadir saat itu, untuk melihat dari dekat kondisi masyarakat baik secara geografi, topografi dan keadaan sosial-ekonominya.

‘ Kami hadir disini untuk membantu masyarakat yang rawan dan rentan bencana ! agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapinya ‘

Jelas bahwa karakter daerah pesisir memang rentan dengan ancaman banjir, apalagi bila banyak aliran sungai dan berbukit ke arah daratan. Pilihan menjadi calon desa dampingan langsung terpikirkan saat itu. Tetapi ada satu alasan yang juga sedikit ke-khawatiran, ‘Apakah kami akan kembali mendampingi komunitas yang berbeda keyakinan seperti di Pinolosian?’

Kecemasan akan hal itu berganti menjadi sesuatu yang menantang dengan pemikiran sederhana. Dengan pengalaman 2 tahun di Pinolosian sekurang-kurangnya menjadi modal kami untuk berlatih bersama masyarakat walaupun berbeda latar belakang suku, agama dan kebiasaan. ‘Yang penting kami datang baik-baik, itu saja!’.

Kala mulai menjalankan program PRB bersama Karina KWI. Desa Belang masyarakatnya mayoritas Muslim dan Desa Watuliney Tengah yang sebagian pemeluk Kristen Protestan akhirnya menjadi pilihan kami. Mulailah kami mengadakan kunjungan dan pertemuan dengan perangkat Desa dan Kecamatan. Kami ingat persis saat itu ; belajar dari pengalaman di Pinolosian, untuk mempermudah aparat desa mengenali program dan lembaga  maka tidak lupa dibawa serta album foto kegiatan saat di Pinolosian.

Tetapi tetap juga kami harap-harap cemas. Lagi-lagi terepikirkan, ‘Apakah kami akan diterima ataukah ditolak?’ Pertanyaan dan perasaan ini wajar karena tentunya kami juga harus mengenalkan lembaga PSE dan Karina. Bagaimanapun dan dengan alasan apapun, isu agama akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang sensitif. Kadangkala programnya diterima baik tapi lembaganya dengan label agama yang mungkin menjadi bahan pertimbangan. Begitulah pemikiran kami saat itu.
‘Lagi-lagi, yang penting kami datang dengan maksud baik, itu saja!’

Bergantian kami menjelaskan dan berusaha meyakinkan bahwa program ini sudah pernah dibuat di komunitas yang beda agama. Kami tambahkan informasi bahwa mitra kami yang dulu, Chatolic Relief Service (CRS), stafnya juga banyak beragama Islam masih ditambah dengan cerita pengalaman lain. Intinya kami menekankan , bahwa PSE hadir disini untuk membantu masyarakat yang rawan dan rentan bencana. Meningkatkan kapasitas gar masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapinya.

Apakah kecemasan itu sudah berakhir?
Dengan penjelasan itu. Program PRB ini diterima baik oleh perangkat desa Belang dan Watuliney Tengah. Apakah kecemasan itu sudah berakhir? ternyata belum juga. Karena kami harus mengadakan sosialisasi kepada para tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan perwakilan masyarakat di desa setempat. Maka kami berusaha untuk membuat materi yang sederhana tentang maksud dan tujuan program, tahapan kegiatannya serta latar belakang lembaga dengan penjelasan fungsinya.

Sampailah pada saat sosialisasi program dan pengenalan lembaga di Desa Belang. Ternyata diluar perkiraan kami, yang hadir dua kali lipat jumlahnya dibandingkan dengan Desa Watuliney Tengah. Berjalan lancar tetapi suasananya sedikit tegang. Ini kami rasakan karena beberapa tokoh agama yang hadir lengkap dengan peci hitam sepertinya diam dan kurang respons.

Giliran tanya jawab dan diskusi, seorang Ibu menanyakan tentang pengalaman kerjasama dengan mitra lain. Nah, saat itulah situasi yang sedikit tegang berubah menjadi cair dan mengalir. Mau tahu jawabannya ? Ternyata saat kami menceritakan pengalaman tanggap darurat Gunung Soputan dan Gunung Lokon, bahwa kami juga bekerjasama dengan teman-teman dari Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) dan Dompet Dhuafa. Mereka sangat senang. Bahkan diantara mereka terjadi diskusi dan mengatakan, ‘ Ooh itu organisasi kami’.

Subhanalah, akhirnya para tokoh agama yang hadir saat itu memberikan tanggapan yang baik tentang program yang akan dibuat.  Pada akhirnya lewat Ketua umat stasi di Desa Belang terungkap  bahwa sebelum program dijalankan maka kebiasaan haruslah mengundang tokoh agama setempat  yang diwakili oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia,  Kab. Minahasa Tenggara untuk mendengar maksud dan tujuan pelaksanaan program.

Itulah awal pengalaman kami kala memulai program PRB awal tahun lalu. Dari pengalaman itu, kami dapat mengatakan bahwa kerukunan dan hidup berdampingan masyarakat di Desa Belang tidak membedakan latar belakang agama, suku dan lain sebagainya. Bahkan sampai saat ini, program PRB berjalan baik dan lancar. Alhamdulilah. (*)

Penulis adalah Team DRR PSE Manado

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta