YAYASAN KARINA (Caritas Indonesia)
Jl. H. Agus Salim No. 22 D-E,
Jakarta 10350, INDONESIA

Name of Bank:
HSBC (The Hongkong and Shanghai Banking Corp. Limited)
Bank Address:
World Trade Center Building, Jl. Jend. Sudirman Kav 29-31, Jakarta 12920, INDONESIA
Swiftcode: HSBCIDJA

Account Name:
Yayasan Karina

Account Numbers:
001-081199-001 (in IDR)
001-081199-007 (in US Dollar)
001-081199-008 (in EURO)

Syndicate

Syndicate content

"Saya Hanya Cemas, Tidak Takut"


Perjalanan untuk melakukan kajian cepat terhenti di sebuah rumah bertembok keramik warna coklat. “Kejadiannya berbeda ketika gempa 1 tahun yang lalu dek. Rumah kami tidak roboh, mungkin karena dulu goncangannya tidak kuat,” kata Ibu Rosmaini (46 tahun) membuka percakapan kami. Sama seperti sebagian besar korban gempa yang lain di wilayah Sampan, Puang Lading, Pariaman, Bu Rosmaini dan keluarga masih tinggal di rumah mereka yang hancur walaupun telah mendapat sertifikasi “tidak layak huni” dari Tim Teknis Evaluasi Bangunan Perguruan Tinggi Se-Sumatra Barat.

Menurutnya, tidak ada tanda-tanda alam atau apapun yang bisa dilihat dan dirasakan sebelum gempa 30 Oktober itu datang. Yang dia rasakan berbeda adalah situasi setelah gempa, yaitu saat akan masuk ke rumah yang dia bangun mulai dari nol hingga bisa ditinggali selama kurang lebih 26 tahun ini. “Dulu saya dan suami mengumpulkan bata sedikit demi sedikit. Menyisakan uang seribu dua ribu untuk itu. Sekarang kami memilih kembali ke rumah. Sebab, saya tidak kuat jika lama-lama tinggal di tenda,” ujarnya.

Berdasarkan amatan kami, hanya sedikit keluarga yang menempati hunian sementara (temporary shelter). Sebagian besar memilih kembali lagi ke rumah mereka atau tinggal bersama keluarga dan tetangga di kiri-kanan rumah. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya bila anak-anak tetap bermain di dalam rumah yang rusak berat itu. Sementara tembok-tembok yang hampir runtuh itu hanya disangga dengan sebatang bambu dan kayu. “Kami tak tahu kapan bisa membangun kembali rumah ini. Bagian-bagian rumah yang masih bagus coba kami kumpulkan,” papar Ibu Rosmaini.

Daerah Sampan, Punggung Lading, Pariaman Selatan ini memang pernah menerima bantuan beras dan mie instan. Namun, itu hanya diberikan sesaat setelah gempa. Sampai sekarang, belum ada lagi bantuan yang masuk. Sedikit sekali tenda-tenda atau hunian sementara yang berdiri di depan rumah-rumah yang roboh. Hanya satu tenda posko bantuan bencana yang tersisa, itupun sudah roboh karena hujan lebat yang mengguyur wilayah Padang dan Pariaman minggu-minggu terakhir ini.  

Bantuan lain berupa pendampingan psikologis untuk para korban gempa, khususnya anak-anak dan orang tua, dipandang perlu untuk mengatasi trauma mereka. Menghilangkan rasa takut saat menghadapi gempa susulan menjadi pekerjaan penting dalam proses trauma healing ini. Dalam pendampingan psiko-sosial ini kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka untuk kembali membangun kehidupan mereka. Sehingga bantuan yang diberikan tidak hanya beras dan mie instan, namun benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Itulah dek, kami masih mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah. Sampai sekarang saya masih takut jika ditinggal sendirian di rumah. Masih trauma jika merasakan gempa susulan,” kata Ibu Rosmaini menutup percakapan kita.

Ditulis oleh Yohanes Baskoro, Albert Deby, Victor Dimas B. Putra (relawan Karina KAS untuk Caritas Joint Response)