Catatan dari Sorong: Konsep PRB Kawasan dalam Menata Pembangunan – Caritas Indonesia – KARINA

Catatan dari Sorong: Konsep PRB Kawasan dalam Menata Pembangunan

25/10/2017
IMG_20171023_092843_HDR-1

Tulisan ini adalah catatan kedua selama mengikuti agenda Peringatan Bulan PRB 2017 di Kota Sorong yang merefleksikan tentang Bumi sebagai tempat tinggal (home) kita bersama. Meletakkan perspektif bahwa Bumi adalah rumah milik kita bersama telah menjadi tema yang diangkat oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik “Laudato Si” (For Our Common Home).

Kata home mempunyai arti yang lebih luas dari pada house. Home tidak hanya berbicara soal bangunan (building), namun juga menyentuh rasa aman dan nyaman bagi mereka yang tinggal di dalamnya. Semua yang hidup di Bumi diharapkan bisa merasakan sebuah tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk bersama. Tidak hanya manusia, tetapi juga semua makhluk yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, memandang Bumi sebagai home menuntut kita pada sebuah kesadaran untuk terus menjaga kesejahteraan Bumi sebagai tempat tinggal.

Membaca ulang Ensiklik “Laudato Si” dalam suasana Peringatan Bulan PRB 2017 ini seperti membuka kesadaran lama bahwa tanggung jawab untuk memastikan Bumi ini menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua makhluk adalah tanggung jawab kita bersama. Kepedulian untuk menjaga dan merawat Bumi menjadi tugas semua orang, termasuk di dalamnya adalah BNPB, Kementerian dan Lembaga Pemerintahan yang mempunyai bidang tugas dalam hal Pengurangan Risiko Bencana.

Pesan di atas tersampaikan dalam tema-tema yang diangkat pada sesi Knowledge Sharing dan standstand pameran yang ada. Dari sekian banyak stand pameran potensi dari BPBD di seluruh provinsi, kepolisian dan lembaga non pemerintah, pada umumnya mereka hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk selalu tangguh (resilient) dalam menghadapi bencana sekaligus mampu meminimalisir risiko dengan menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.  

Aimas Convention Center (ACC) Kota Sorong, tempat dilangsungkannya Peringatan Bulan PRB 2017 (Foto: KARINA).
Aimas Convention Center (ACC) Kota Sorong, tempat dilangsungkannya Peringatan Bulan PRB 2017 (Foto: KARINA).

Ada banyak produk teknologi yang dipamerkan di Alun-alun Kabupaten Sorong. Berbagai macam peralatan rescue bertengger gagah di dalam ruang pameran yang bertenda putih besar dan megah. Selain itu juga ada pameran produk teknologi yang mampu mengurai fenomena alam serta memberikan prediksi cuaca dan musim di masa depan. Semua produk yang ada hendak menunjukkan kepada para pengunjung bahwa bangsa ini terus menyiapkan diri supaya dapat meminimalisir risiko bencana yang mungkin terjadi kelak.

Lapangan Alun-alun Kota Baru Aimas itu dikelilingi oleh pagar yang membatasi antara tempat pameran dengan lingkungan sekitar. Saya sempat terpikir bahwa jangan sampai pengetahuan dan teknologi yang ada di dalam tenda ini pun ikut terpagari dari masyarakat. Sebab, masih banyak warga di Bumi Nusantara ini yang sejatinya masih berdiri di “luar pagar” dengan pengetahuan dan kesadaran yang minim tentang pengurangan risiko bencana.

Pemikiran saya itu kemudian menukik pada sebuah diskusi di kelas yang menyepakati tentang pentingnya pendekatan regional (kawasan) daripada pendekatan sektoral untuk upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Sebab, pendekatan sektoral hanya membuat kita melihat sebuah persoalan secara parsial saja. Akibatnya, banyak persoalan tentang kebencanaan yang tidak dapat diselesaikan secara tuntas karena solusi yang diupayakan masih sepotong-sepotong.

Hal ini terjadi karena banyak lembaga hanya mengerjakan apa yang sesuai dengan tugas dan susunan anggaran masing-masing. Kondisi ini tidak lepas dari sistem birokrasi yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila banyak perijinan dikeluarkan tanpa melihat konsep tata ruang yang ada. Hal tersebut bahkan diperparah dengan mengabaikan peta kerawanan dan kebijakan kawasan rawan bencana (KRB).

Para peserta dan masyarakat mengungjungi stand-stand pameran (Foto: KARINA).
Para peserta dan masyarakat mengungjungi stand-stand pameran (Foto: KARINA).

Ibaratnya pada saat hendak mengembangkan kawasan pariwisata di pegunungan dengan hawanya yang dingin dan pemandangan yang indah, kita perlu juga memperhatikan potensi tumbuhnya penginapan untuk para wisatawan. Kita tidak bisa mengorbankan semua lahan hijau yang subur semata-mata untuk menggantinya dengan penginapan-penginapan. Sebab lahan hijau itu adalah kantong-kantong air untuk keseimbangan alam. Ketika semua lahan hijau itu habis dibabat, maka potensi terjadinya banjir bandang akan sangat tinggi.

Percepatan pertumbuhan ekonomi adalah salah satu upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Namun, peningkatan derajat hidup manusia perlu untuk terus dikembangkan dalam konsep pembangunan yang selaras dengan alam. Tak bisa dihindari bahwa cara pandang kawasan sebagai upaya untuk pengurangan risiko bencana adalah hal yang cukup penting. Maka, membangun alam Indonesia sebagai rumah tinggal bersama memerlukan adanya kebijakan regional yang melibatkan berbagai pihak.

Sebagai penutup, semoga peringatan Bulan PRB yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2013 tidak berhenti pada tataran seremonial saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan supaya kesadaran tentang pengurangan resiko bencana ini mendarat sampai ke akar rumput. Jangan sampai mereka yang berdiri di luar pagar menganggap bahwa pengetahuan dan teknologi PRB tersebut hanyalah tontonan. ● Antonius Banu, Pr.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta