Catatan 23 Hari Tanggap Bencana Wasior – Caritas Indonesia – KARINA

Catatan 23 Hari Tanggap Bencana Wasior

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaHari Senin, 4 Oktober 2010, menjadi hari yang bersejarah bagi warga di Wasior. Banjir bandang menerjang sebagian besar wilayah di kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tercatat 169 orang tewas, 118 orang dilaporkan hilang, 108 luka berat, dan lebih dari 3000 orang luka ringan. 9.016 orang tercatat mengungsi di berbagi wilayah yang tersebar di kabupaten Manokwari, kabupaten Nabire, kabupaten Teluk Wondama, dan wilayah-wilayah lain.

Pada 7 Oktober 2010, Karina mengirimkan Vincentia dan Dian Lestari ke Manokwari untuk berkoordinasi dengan Paroki St Agustinus, Keuskupan Sorong-Manokwari untuk merespon bencana Banjir Wasior. Respon Ditanggapi oleh Romo Harsono Pr, Romo Paroki, dengan sigap. Beliau mengumpulkan perwakilan Dewan Paroki, Wanita Katolik dan Mudika untuk bersama-sama menyusun perencanaan tanggap darurat.

‘Kami mau belajar dan berusaha melakukan penanganan bencana. Karena itu saya mencoba melibatkan berbagai pihak,’ jelas Romo Harsono.

Meski respon tanggap darurat ini adalah kali pertama Paroki St Agustinus namun detail mengenai mekanisme posko, gudang, distribusi, kajian dan pencatatan keuangan betul-betul dijalankan oleh segenap elemen paroki. Tentu saja perencanaan respon ini dilaporkan kepada Uskup, Mgr H Datus Lega serta dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah setempat.

‘Kita tetap harus berkoordinasi dengan Pemerintah, karena Wasior adalah daerah bencana, dimana kita tidak tahu situasi. Dan tanggung jawab utama penanganan bencana ada pada pemerintah,’ jelas Pak Herman Winarto, Koordinator Tanggap Darurat Posko Manokwari.

Dalam penanganan bencana Wasior, Karina dan Tim Pastoral Wilayah (TPW) Manokwari bekerjasama dengan Komunitas Peduli Bencana Papua Barat (KPBPB) serta lembaga dalam jaringan Humanitarioan Forum Indonesia.

‘Setiap bantuan dan data kami koordinasikan di Posko Caritas di Wasior. Supaya tidak tumpang tindih,’ tutur Bata, relawan KPBPB .

Dalam prakteknya Karina dan TPW Manokwari dipercaya oleh rekan-rekan lembaga lain untuk menjadi koordinator lapangan respon bencana. Koordinasi dengan pemerintah juga berjalan harmonis, Posko Caritas (begitu biasa posko Wasior disebut) berbagi peran dengan Posko Pemerintah. Harmonisasi itu tercermin ketika dalam upaya pembersihan Puskesmas Wondiboi, Posko Pemerintah menyiapkan tenaga sedangkan peralatan, seperti sekop disediakan oleh Posko Caritas.

Posko Caritas memberikan layanannya di Gereja Katolik Stasi, St Lourentius. Posko ini melayani 4.112 jiwa pengungsi. Aitumiri, Ramar, Manggurai Kampung, Maimari, Gereja Rado, Kali Kuras, dan Moro adalah wilayah-wilayah jangkauan bantuan Posko Caritas. Namun Rado menjadi wilayah bencana dengan dampak paling parah.

Ada beberapa aktivitas utama yang dilakukan Posko Caritas, antara lain: distribusi, pendataan, monitoring, dan pembaharuan data. Selain itu posko juga disibukkan dengan aktivitas packing bantuan, distribusi, stock opname, rekapitulasi data, hingga survei dan kajian.

Kajian di Wasior dilakukan oleh umat yang masih terus bertahan. Nona Silubun, Bernard Setiawan, Yulianus Pasambo, Linus, Lius, Veronika Kurubuy, Otto Mandua, Yemima Samberi, serta masih ada yang lain. Mereka tetap bertahan dalam segala keterbatasan untuk membantu dan membangun kembali Wasior.

‘Aku cinta Wasior, ‘ teriak Nona sore itu. Ia berkeliling Kota Wasior hingga ke Kampung Rado untuk melakukan kajian kebutuhan dan verifikasi data. Menunggang motor, melewati sungai yang masih meluap, terjatuh dua kali adalah bumbu kerja keras.

Diluar aktivitas distribusi bantuan, intervensi psikososial untuk anak-anak juga menjadi aktivitas tambahan di Posko Caritas. Tidak hanya anak-anak yang terbantu dengan adanya aktivitas tersebut. Para orang tua pun turut terhibur ketika melihat anak-anak mereka tertawa bahagia.

Di sela-sela padatnya aktivitas Posko, Karina mendapat undangan untuk menyambut Gubernur Papua Barat, Abraham O Ataruri di bandara (28/10). Pada kunjungannya ke Wasior, Ataturi menyampaikan rencana pemerintah kabupaten Teluk Wondama dalam membangun 93 unit barak di 7 titik yang dinilai aman.

Menjelang akhir kegiatan Tanggap Darurat, Karina mengadakan Capacity Building untuk teman-teman relawan. Kegiatan ini diadakan di sore hari dengan tujuan untuk menjaga semangat tim. Berbagai macam kegiatan dilakukan, diantaranya aktivitas olah raga dan rekreasi. Tim relawan mengakhiri aktivitasnya di Posko Caritas, Wasior pada 1 November 2010. Kemudian meninggalkan Wasior keesokan harinya. Kebersamaan dalam tanggap darurat ini telah berakhir namun pemulihan Wasior masih menjadi pekerjaan rumah semua pihak.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta