Buah Tangan dari Farmer’s Exchange di Filipina – Caritas Indonesia – KARINA

Buah Tangan dari Farmer’s Exchange di Filipina

20/10/2016

Siang itu saya menjemput dua orang petani dari Caritas Keuskupan Ruteng yang akan mengikuti kegiatan studi lapangan di Filipina. Kegiatan ini adalah bagian dari Climate Resilient Eco-friendly Agriculture Mainstreaming (CREAM) Program Caritas Asia yang melibatkan KARINA, Caritas Philippines-NASSA dan Caritas Cambodia. Para petani dari Ruteng adalah Bapak Hubertus Kaha yang berasal dari Ngancar, Desa Wae Renca, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai dan Ibu Fransiska Ceda yang berasal dari Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai.

Perjalanan ke luar negeri ini adalah pengalaman pertama bagi Ibu Siska, yang sebelumnya hanya pergi keluar desa sampai di Labuan Bajo. Perjalanan yang panjang dari rumah sampai ke Jakarta dan kemudian dilanjutkan ke Filipina tentu menguras tenaga. Sementara Pak Hubert masih bisa sedikit rileks karena sebelumnya pernah bekerja sebagai buruh migran di negeri Jiran. Dalam perjalanan ke Filipina ini, mereka ditemani oleh Romo Martinus Chen, Pr (Direktur Caritas Keuskupan Ruteng) dan saya yang mewakili Caritas Indonesia (KARINA).

Para petani dari Ruteng melakukan persiapan di Kantor Yayasan KARINA yang didampingi oleh Romo Martinus Chen, Pr dan staf KARINA (Foto: KARINA).
Para petani dari Ruteng melakukan persiapan di Kantor Yayasan KARINA yang didampingi oleh Romo Martinus Chen, Pr dan staf KARINA (Foto: KARINA).

 

Siang hari sebelum keberangkatan, kami melakukan persiapan di Kantor Yayasan KARINA. Pembekalan untuk para petani meliputi aspek materi kegiatan dan juga aspek logistiknya. Pada hari Rabu, tanggal 24 Agustus, pukul 00.50 WIB kami terbang menuju Bandara Internasional Ninoy Aquino. Setelah mendarat dan beristirahat beberapa jam, pada siang harinya perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan lokal ke Bacolod City di Negros Occidental Province. Peserta dari KARINA, Caritas Cambodia, Caritas Philippines dan tim dari Caritas Asia berangkat bersama-sama dari Manila menuju ke tempat pertemuan di May’s Organic Garden, Desa Pahanocoy, Bacolod City.

Selama kegiatan ini berlangsung, para peserta menginap di pondok tamu yang berada di wilayah perkebunan organik milik sepasang suami istri Raymond dan May Uiy, Jr. Perkebunan organik ini terintegrasi dengan wahana wisata, restoran dan pondok tamu, serta pabrik yang memproduksi makanan olahan dari bahan organik dan alat-alat pertaniannya. Wilayah ini cukup luas dan asri. Semua orang tidak diperbolehkan untuk merokok selama berada di wilayah perkebunan ini.

Para peserta mendapatkan penjelasan tentang cara pengembang-biakan cacing "African Night Crawler" (Foto: KARINA).
Para peserta mendapatkan penjelasan tentang cara pengembang-biakan cacing “African Night Crawler” (Foto: KARINA).

 

Kegiatan pada hari pertama dibuka dengan perayaan ekaristi. Kemudian para peserta diajak untuk mendengarkan paparan materi tentang bagaimana May’s Organic Garden juga membantu memasarkan hasil pertanian organik dari para petani. Bahkan mereka sanggup memberi pupuk dan benih tanaman organik secara cuma-cuma apabila para petani bersedia mengganti semua tanaman di lahannya dengan tanaman organik. Setelah mendengarkan paparan dan melakukan tanya-jawab hingga jeda makan siang, pada sore harinya para peserta diajak untuk melihat-lihat kompleks perkebunan.

Selama di kompleks perkebunan para peserta dapat melihat beberapa hal yang menarik seperti: pengembang-biakan cacing “African Night Crawler” yang dipelihara dan dibudidayakan sebagai pupuk kompos; peternakan babi dengan sistem kandang yang bersih dan tidak bau; mesin pencacah sampah tanaman, kayu, kaca dan batu yang dibuat di pabrik mesin pertanian yang dimiliki May’s Organic Garden; pompa tenaga air (ram pump) yang dapat mengangkat air hingga setinggi 100 meter; pengolahan pupuk dan pestisida organik dari berbagai macam jenis buah-buahan dan daun-daunan; dan pengolahan hasil pertanian organik dalam bentuk bahan pangan seperti: kue, gula, sirup dan kopi, serta bentuk-bentuk lain seperti sabun dan spray pengusir serangga.

imgp0114-1
Ibu Fransiska di depan kandang babi yang bersih dan tidak bau (Foto: KARINA)

 

Pada hari kedua dan ketiga, para petani diajak untuk melakukan kunjungan lapangan di perkebunan tebu milik Koperasi Macarben, di HMC site dan perkebunan sayuran organik “Fresh Start” di Barangay Rizal. Koperasi Macarben berdiri tahun 1989 dan sejak tahun 2007 mereka diberi kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola 200Ha lahan milik Hacienda Malaca Cuinca (HMC) untuk ditanami tebu. Pada tahun 2013 mereka mulai meninggalkan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik. Sampai saat ini baru 89Ha lahan tebu yang sudah beralih ke sistem organik. Ada 195 orang petani yang menjadi anggota koperasi ini.

Perkebunan “Fresh Start” dikelola oleh 8 orang pekerja. Tempat ini khusus untuk menanam dan memproduksi bibit sayuran, selada (lettuce), dan tanaman obat-obatan seperti kunir dan asam Jawa. Mereka juga menggunakan kotoran dari cacing “African Night Crawler” sebagai bahan komposnya. Lahan perkebunan organik ini lebih kecil daripada di perkebunan May’s Organic Garden maupun milik Koperasi Macarben. Namun demikian, tempat ini memiliki fasilitas yang lengkap seperti ruang pembibitan khusus, pengolahan pupuk dan mesin-mesin pertanian yang canggih.

Petani dari Ruteng berdiskusi tengang bibit tanaman dengan pekerja di perkebunan (Foto: KARINA).
Petani dari Ruteng berdiskusi tengang bibit tanaman dengan pekerja di perkebunan (Foto: KARINA).

 

Para peserta "Farmer's Exchange Caritas Asia" berfoto bersama di depan kantin Koperasi Macarben (Foto: KARINA).
Para peserta “Farmer’s Exchange Caritas Asia” berfoto bersama di depan kantin Koperasi Macarben (Foto: KARINA).

 

Kegiatan pada hari terakhir ditutup dengan sharing antar peserta atas pengalaman yang sudah didapatkan selama di Bacolod City. Para peserta berharap pada kesempatan “Farmer’s Exchange” berikutnya mereka bisa bertemu dan berdiskusi dengan sesama petani biasa dan bukan dengan para pekerja perkebunan saja. Sebab jika dengan pekerja perkebunan yang dibicarakan hanya masalah jumlah dan profit, namun jika dengan petani yang dibicarakan adalah persoalan pertanian dan aspek kedaulatan pangannya.

Teknologi pertanian yang dipamerkan di kompleks May’s Organic Garden cukup bagus. Para petani dari Ruteng sangat tertarik dan merasa perlu memikirkan teknologi yang dapat dibuat dan disesuaikan dengan konteks di Indonesia. Misalnya alat penyaring kompos cacing dan pencacah sampah tanaman yang dapat dibuat lebih sederhana menggunakan bahan dasar bambu atau kayu. Sehingga pengalaman selama di Bacolod City dapat menjadi input untuk diterapkan di Ruteng. ▪YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta