Belajar Perlindungan Anak di Negeri Dua Mata Uang – Caritas Indonesia – KARINA

Belajar Perlindungan Anak di Negeri Dua Mata Uang

22/05/2017
20170426-IMGP0100

“Menjalankan kebijakan perlindungan anak tidak harus dengan menjalankan sebuah proyek khusus tentang anak. Semua kegiatan yang kita lakukan, baik dalam program development, climate change, maupun emergency response, bisa diintegrasikan dengan kebijakan perlindungan anak. Sebab, jika kita bekerja bersama masyarakat dampingan pasti di sana akan ada anak-anak. Mereka adalah bagian dari masyarakat.” Demikian yang disampaikan oleh Lindsay Daines, Fasilitator Child Protection (CP) Program Caritas Australia, pada saat membuka kegiatan workshop Child Protection Task Force Caritas Australia di Kamboja.

Kegiatan workshop di Kamboja ini adalah yang terakhir, setelah sebelumnya dilaksanakan di Vientiene, Laos (2016), Siem Reap, Kamboja (2015) dan Manila, Filipina (2014). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25-28 April 2017 dan dihadiri oleh 35 peserta yang mewakili 25 lembaga mitra Caritas Australia di Indonesia, Filipina, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Dalam workshop ini, Lindsay mengajak para peserta untuk melihat kembali kegiatan CP di wilayahnya masing-masing. Hal ini menjadi sarana belajar bagi para peserta dalam menghadapi tantangan dan masalah dalam pelaksanaan kegiatan CP. Selain berbagi pengalaman, para peserta diajak ke lokasi dampingan mitra Caritas Australia untuk melihat dan menganalisis isu CP secara langsung.

20170427-IMGP0187
Salah satu peserta workshop memaparkan hasil diskusi kelompoknya (Foto: KARINA).

Salah satu permasalahan yang paling menonjol di wilayah Kamboja adalah banyaknya anak-anak yang tidak diasuh oleh orangtuanya sendiri. Mereka tinggal bersama kakek-neneknya karena kedua orangtua mereka harus bekerja di Kota Phnom Penh. Kondisi ini membuat anak-anak rentan terhadap asupan gizi yang kurang baik dalam makanan. Lebih jauh lagi, sebagian besar dari mereka tinggal bersama orangtua asuh yang miskin. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka hanya mengandalkan kiriman dari orangtua mereka yang bekerja di Phnom Penh. Kondisi orangtua asuh yang sudah tua menyebabkan mereka tidak dapat setiap saat memperhatikan anak-anak yang dititipkan kepada mereka.

Pada kondisi semacam itu, ada beberapa lembaga di Kamboja yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Salah satunya adalah lembaga Youth for Peace (YfP) yang menampung anak-anak putus sekolah untuk kemudian diberikan pelatihan ketrampilan dan pendampingan psiko-sosial. Setelah satu tahun menerima pendampingan dan pelatihan, anak-anak ini (yang sudah memenuhi syarat dan usia) kemudian akan disalurkan ke perusahaan atau kantor yang dapat mempekerjakan mereka sesuai dengan bidangnya. Selain mendapat dukungan dari Caritas Australia, kegiatan-kegiatan dari YfP juga mendapat dukungan dari kementrian sosial.

Para peserta mendapat penjelasan dari Koordinator Program Youth for Peace (Foto: KARINA).
Para peserta mendapat penjelasan dari Koordinator Program Youth for Peace (Foto: KARINA).

Anak-anak yang dilatih di tempat ini berasal dari desa-desa setempat dan masih tinggal bersama keluarga mereka. Rata-rata mereka putus sekolah karena orangtua mereka tidak mampu membiayai sekolahnya. Tempat tinggal mereka di daerah-daerah yang kumuh dengan sistem drainase yang sangat buruk. “Anak yang kurang memiliki waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan dengan teman sebaya, maka tumbuh kembang psikologis dan sosialnya akan terganggu. Kondisi ini sama halnya dengan anak yang banyak menghabiskan waktu hanya dengan gadget-nya,” kata Dario Palicio Fernandes, salah satu aktivis anak dari Caritas Masbateh, Filipina. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa konteks masyarakat modern yang menjadikan anak lebih sering menggunakan gadget sama efeknya dengan anak-anak yang menghabiskan waktunya sebagai “pekerja anak”. Dua kondisi tersebut berbeda, namun memiliki efek yang sama yaitu terpisahnya anak-anak dari teman dan kelompok bermainnya. Mereka akan merasa nyaman karena ketergantungan dan tidak berkembang sebagai anak pada umumnya.

Melibatkan anak dalam kegiatan orang dewasa, bukan berarti harus merampas hak-hak mereka sebagai anak. Sebagai orangtua, kita harus dapat menempatkan anak-anak pada lingkungan yang membuat mereka nyaman. Kita tidak dapat memaksakan anak-anak untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa maupun memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkan oleh orang dewasa. Jika hal tersebut terjadi, maka anak-anak akan merasa terintimidasi, tidak nyaman dan melakukan hal-hal di luar kemampuan mereka.

Salah satu sudut pemukiman di wilayah dampingan YfP yang menunjukkan interaksi antara anak-anak dan orang dewasa (Foto: KARINA).

Pemahaman di atas cukup menarik untuk diterapkan pada kegiatan-kegiatan di Yayasan KARINA. Karena seringkali tanpa disadari dalam kegiatan tanggap darurat atau situasi kebencanaan ada banyak anak-anak terlibat di sana sebagai relawan. Mereka ditempatkan pada lingkungan yang tidak sesuai dengan usia, fisik dan tingkat emosionalnya, misalnya mengangkat barang-barang bantuan, melihat raut muka kesedihan para korban bencana, dll. Maka dari itu, dalam situasi-situasi kedaruratan bencana anak-anak seharusnya ditempatkan pada kondisi dan situasi yang aman, nyaman dan menyenangkan. Sebab ketiga hal tersebutlah yang akan membantu anak-anak memulihkan kondisi keterpurukan mereka secara psikologis.

Salah satu praktik baik yang sudah dilakukan oleh Yayasan KARINA adalah mengikutsertakan anak-anak SMA Kolese Kanisius Jakarta untuk mendampingi para penyintas anak dari Teluk Jambe. Selama di pengungsian, anak-anak Kanisius melakukan kegiatan belajar dan bermain bersama, secara peer to peer, untuk menghibur anak-anak di pengungsian. Para relawan muda ini ditempatkan pada situasi yang nyaman bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan usia dan kemampuan mereka. Dengan kegiatan ini mereka juga diajarkan untuk berbelarasa kepada mereka yang lemah dan membutuhkan uluran tangan kita. ● Aryo Saptoaji/YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta