Basakowe: Kampung Elok yang Terlupakan – Caritas Indonesia – KARINA

Basakowe: Kampung Elok yang Terlupakan

02/10/2014
Basakowe-Desa2

Basakowe-Desa2Kampung Basakowe adalah sebuah dusun yang masuk dalam wilayah Desa Liakutu, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Nama Basakowe diambil dari nama pemimpin orang-orang Sikka Krowe yang lari berlindung dimasa perang melawan Jepang, di tahun 1942. Banyak penduduk di pesisir utara kabupaten Sikka, yang kebanyakan orang-orang Sikka Krowe, yang berlindung di bukit dan hutan untuk menyelamatkan diri. Disana mereka mendirikan kampung-kampung, yaitu Bewa, Ratebola, Wolorea, dan Basakowe. Kata Kowe sendiri berasal dari penyebutan Krowe. Walaupun secara resmi tercatat sebagai Dusun Ndana, tapi warga tetap menyebutnya sebagai Basakowe untuk mengenang para pendirinya. 

Menjelang tahun 2000-an, kampung-kampung tersebut perlahan mulai hilang. Saat ini, hanya satu kampung saja yang masih berdiri, yaitu Basakowe. Kampung ini terletak di puncak bukit, tepat menghadap ke pesisir utara, ke desa-desa di Kecamatan Magepanda di bawahnya. Sebenarnya, Basakowe memiliki potensi yang besar. Kopi, dengan pohonnya yang ranum, buah kakao yang sehat dan besar-besar, padi gunung, cabai rawit, serta kemiri. Buah pisang yang manis, ubi dan padi ladangpun mudah didapatkan disana. Terdapat pula ternak-ternak yang sehat, sepertibabi, ayam, bebek, sedikit kambing dan sapi. Sungai Dagetanda, Dagedalli, dan Dage Mbetho di saat musim hujan akan berlimpah dengan ikan dan udang. Tidak kekurangan pangan, semestinya.

Penjaga Dagesime

Publikasi1-2Sungai Dagetanda yang mengalir di bawah kampung Basakowe merupakan hulu bagi salah satu kawasan DAS Dagesime, yang merupakan salah satu yang terbesar di Kabupaten Sikka, selain kawasan DAS Riawajo di Paga dan DAS Nangagete di Talibura. Sungai Dagetanda dan Dage Dalli di Basakowe, bersatu dengan beberapa aliran sungai kecil lainnya, mengalir melalui Desa Done, melintasi Desa Magepanda dan bermuara di pesisir utara Sikka. Hutan menghijau yang melingkupinya menjamin ketersediaan air sepanjang tahun, memberi nafas hidup bagi puluhan petani yang tinggal di Magepanda, dimana produksi padinya menjadi salah satu lumbung pangan bagi masyarakat Kabupaten Sikka.

Perbukitan dan padang rumput di sekitar kampung Basakowe banyak yang sudah mulai gundul akibat pembukaan ladang setiap musim tanam dimulai. Pepohonan yang dulunya rindang memagari pemukiman, sekarang sudah mulai jarang karena ditebangi penduduk dengan alasan pada musim angin khawatir akan tumbang dan menimpa rumah. Di bawah perbukitan itulah, Sungai Dagetanda di sebelah utara dan Sungai Dage Dalli mengalirkan airnya, membentuk kawasan DAS yang oleh warga kampung sebut Dagesime (dalam dokumen resmi BPDAS provinsi NTT, disebut DAS Dagesine).  Ada 4 mata air di kawasan sungai ini yaitu mata air Gomo Tekka, Aiara, Gomo Ndoko dan Ailabo. Keempatnya berada di selatan ke dan mengalirkan air ke utara. Keempat mata air ini masih mengalirkan air dengan deras yang digunakan oleh warga kampung Basakowe untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Menurut data dari Dinas Kehutanan Kabupaten Sikka, wilayah kampung Basakowe ini berbatasan dengan kawasan hutan Telo Rawa II. Dinas kehutanan sendiri sudah dua kali datang untuk memperbaiki tapal batas hutan, sekaligus membagi bibit pohon untuk penghijauan. Sayangnya, tidak pernah ada kunjungan pengawasan yang dilakukan.

 

Yang terlupakan

Sejak awal berdiri, ancaman bencana alam, penyakit dan bahkan kelaparan pernah menimpa kampung ini. Tahun 1977, 15 orang warga Basakowe meninggal akibat wabah muntaber. Empat tahun sebelumnya, kelaparan melanda, sehingga warga terpaksa memakan Ndondo yang tidak diolah dengan baik sehingga menyebabkan diare. Tahun 1991, tanah longsor menyebabkan 1 orang warga meninggal. Bencana yang sama terulang kembali pada tahun 2007, kali ini menelan korban 3 orang warga Basakowe, dua orang diantaranya perempuan. Angin keras mengancam setiap tahunnya , dan semakin parah dampaknya di pemukiman akibat semakin berkurangnya pepohonan yang melindungi kampung.

Dari pusat Desa Liakutu, letak kampung Basakowe cukup jauh, ditempuh dengan berjalan kaki atau ojek motor sejauh kurang lebih 5 Km. Jalan ke kampung Basakowe dibuka pada tahun 2009 dengan bantuan dana PNPM, namun belum dirabat, sehingga saat hujan turun sangat sulit dilalui oleh kendaraan bermotor. Sekolah terdekat adalah SD di kampung Detukopi yang berjarak 3,5 Km dengan jalanan berbukit yang biasa ditempuh oleh anak-anak Basakowe dengan berjalan kaki. Pusat kesehatan terdekat juga ada di kampung Detukopi, itupun tidak selalu ada petugasnya. Tidak ada kapel disini. Bangunan kapel yang lama sudah rusak diterjang angin. Pastor Paroki Magepanda telah mendorong warga untuk mengumpulkan kayu, pasir dan batu untuk membangun kapel baru. Biasanya ibadah hanya dilakukan jika pastor datang berkunjung. Seorang ibu yang tinggal disana pernah berkata, ‘Tolong jangan hanya beri kami bibit tanam, atau ternak kambing, bantu juga dengan buku doa dan nyanyian. Agar kami bisa ajar anak-anak muda bernyanyi dan berdoa’.

Basakowe-Desa

Setiap tahun, beberapa kepala keluarga beranjak pindah dan bermukim di desa-desa dengan akses yang lebih baik terhadap pelayanan umum. Mereka pindah ke Desa Done, Desa Magepanda atau Desa Reroroja. Tahun ini saja, tujuh kepala keluarga memutuskan pindah, hingga hanya menyisakan 22 kepala keluarga. Muncul kekhawatiran akan perambahan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab yang kapan saja bisa saja terjadi. Ladang-ladang gundul di perbukitan, yang sudah tidak tertata baik, bisa menyebabkan longsor dan erosi. Desa Liakutu akan kehilangan aset SDM-nya, dan orang-orang di hilir DAS Dagesime akan kehilangan para penjaga hutan dan sungai hulu sana.

Alangkah baiknya jika perhatian diberikan agar warga Basakowe dapat tinggal dengan aman, menjadi penjaga Dagesime, penjaga kehidupan warga pesisir utara, dan menjaga lumbung pangan Sikka.

Ditulis oleh Dame Manalu, Program Officer KARINA (Diambil dari data hasil kajian kampung Basakowe 27-29 Juni 2014)

 

 

 

 

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta