Anugerah Terindah : “Punya Rumah dan Bertemu dengan Anak-Anak” – Caritas Indonesia – KARINA

Anugerah Terindah : “Punya Rumah dan Bertemu dengan Anak-Anak”

23/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaPertengahan Maret 2010 lalu saya bertemu dengan Ibu Yusni Guci (40 tahun). Waktu itu ia sedang menyiapkan makan siang untuk warga dan tim rekonstrusi yang membangun basecamp di Korong Paguh Dalam, di Padang Pariaman. ‘Saya hanya butuh rumah, rumah sudah habis semua,’ tutur Ibu Yusni sembari menunjukkan tempat tinggal sementara yang terbuat dari kombinasi seng dan terpal. Itupun sudah mulai robek di beberapa bagian.

Ia bertutur bahwa jika malam tiba ia tak bisa tidur dengan nyenyak, rasa tidak aman dan was-was ia rasakan benar. Tempat tinggalnya mudah dimasuki orang pun takut jika gempa datang kembali.

Ketika menceritakan peristiwa gempa bumi, Ia menunduk dan menangis. Pelan-pelan Ia menuturkan kejadian yang dia ingat ketika gempa terjadi. Waktu itu ia sedang berada di rumah tetangga. Tiba-tiba saja gempa datang, ia tak kuasa berdiri. Lalu ia pun segera mencari Arif Putra (4 tahun), anak bungsunya. Setelah bertemu, ia langsung lari kea rah rumahnya. Namun, rumah itu sudah ambruk tak bersisa. Mulai malam itu ia menumpang di rumah tetangga.

Gempa memaksanya berpisah dengan anak-anak kecuali si bungsu. Alasannya selain tidak ada tempat untuk tinggal juga masalah himpitan ekonomi. ‘Dua anak saya diambil (diasuh-red) orang. Saya tak ada biaya apalagi rumah juga tidak ada. Mau berteduh dimana?’

Janda dengan lima orang anak ini sehari-hari hanya menjadi buruh serabutan. Kadang kala ia membikin sapu lidi untuk dijual ke pengepul, hasilnya tak menentu. Semenjak suaminya meninggal empat tahun lalu, praktis ia berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya. Dua diantaranya menjadi buruh di pasar di perantauan sedangkan tiga yang lain tinggal bersamanya. Namun semenjak gempa 30 September 2009 lalu, ia harus berpisah dengan kedua anaknya.

Karina KWI dan Komisi PSE-Caritas Keuskupan Padang merespon Gempa Bumi Sumatera Barat dengan memberikan bantuan sebesar 906,572 Euro (12,7 milyar Rupiah). Program Bantuan untuk Padang meliputi Program Rekonstruksi yang difokuskan pada pembangunan sekolah serta pembangunan 182 rumah inti (core house) di Korong Paguh Dalam. Sedangkan untuk Program Rehabilitasi adalah melakukan perbaikan berupa penguatan struktur hingga 300 rumah korban bencana di tiga wilayah Paroki di Kabupaten Padang (Katedral, Tirtonadi dan Padang Baru). Program Bantuan juga akan membantu upaya pemulihan mata pencaharian masyarakat serta mendukung upaya pengurangan resiko bencana.

8 Mei 2010, saya kembali ke Paguh Dalam. Begitu tiba saya langsung dipeluk oleh Ibu Yusni, diantara isak tangisnya , lirih terdengar, ‘Ya Allah…saya bersyukur, saya senang betul. Saya sudah punya rumah. Saya sujud pada-Nya.’

Rumah Ibu Yusni, merupakan bagian dari Program Rekonstruksi. Rumah tersebut menjadi rumah pertama yang selesai dibangun secara gotong rotong oleh masyarakat di Korong Paguh Dalam bersama dengan Tim Komisi PSE-Caritas Keuskupan Padang. Pembangunan rumah inti berukuran 6m x 5m ini menggunakan bahan baku batu bata gajah dan diperkuat dengan besi bertulang vertikal dan horizontal, dimana akan memberikan waktu untuk menyelamatkan diri bagi penghuni rumah.

Dalam pembuatan rumah contoh, masyarakat Paguh Dalam terutama mereka yang akan dibantu bersemangat mengikuti tahapan pembangunan rumah Ibu Yusni. Selama 16 hari mereka belajar bagaimana membuat pondasi, menata dan membangun dinding menggunakan Batu Bata Gajah serta mengkombinasikan dengan besi sebagai perkuatan. ‘Awalnya memang sulit, tapi setalah satu dua kali coba, mengerti juga akhirnya,’ jelas Pak Pen (52 tahun)

Pak Pen tidak sendirian, beberapa warga yang saya temui mengatakan hal yang sama. Bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaannya. ‘Saya ingin tahu. Selama ikut goro (gotong royong) saya tidak bekerja, tapi saya senang sekarang saya tahu cara bikin rumah yang baik,’ kata Masrizal (30 tahun)

Kini Ibu Yusni mulai bisa tersenyum. Harapannya untuk berkumpul bersama kedua anaknya muncul kembali. Ibu Yusni sempat bercerita, anaknya mau diajak pulang karena rumah kini sudah ada. Menurutnya, rumah ini menjadi anugerah terindah bagi dirinya. Tidak hanya itu, penghidupannya kini juga jauh lebih baik. Sudah lebih dari sebulan ia turut bekerja di Program rekonstruksi sebagai juru masak. Jika dahulu ia hanya menggantungkan nasib dari hasil menjual sapu lidi dan menunggu para tetangga memberinya pekerjaan, sekarang ia mulai bisa menabung barang sedikit.

‘Tuhanlah yang membalas seluruh kebaikan dari seluruh dunia’, kata Ibu Yusni.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta