Perdagangan Manusia, Perdagangan Nurani – Caritas Indonesia – KARINA

Perdagangan Manusia, Perdagangan Nurani

08/10/2019

 

 

Perdagangan manusia atau populer disebut dengan human trafficking memiliki sejarah yang panjang dalam sejarah peradaban manusia. Setiap tahun, ribuan pria, wanita, dan anak-anak jatuh ke tangan orang-orang yang tak bertanggungjawab, baik di negara mereka sendiri maupun di luar. Perdagangan manusia yang teroganisir seperti ini tidak terjadi dalam satu negara saja melainkan juga sudah melintasi batas antar negara (trans-nasional).[1]

 

Di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, 75% dari kasus perdagangan manusia, mengarah pada perbudakan atau kerja paksa. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa sekitar 43 persen dari 12,3 juta korban perdagangan manusia terperangkap dalam eksploitasi seksual komersial, dan di tiap 5 kasus kerja paksa, ada empat kasus yang melibatkan agen-agen perekrutan tenaga kerja.[2]

 

Sepanjang tahun 2012 – 2014, ditemukan 7800 korban perdagangan manusia di wilayah-wilayah Kamboja, Cina, Myanmar dan Vietnam. Dari jumlah itu 60% terindikasi sebagai korban eksploitasi seksual. Mereka adalah perempuan dan anak-anak miskin dari daerah-daerah terpencil.[3]

 

Tim Caritas Asia turun ke jalan untuk bersama-sama melakukan pawai mendukung kampanye Anti Human Trafficking. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Isu perdagangan manusia pun tak luput dari perhatian Caritas Internationalis. Dalam Sidang Umum di Roma, pada 22 – 28 Mei 2019, Caritas Internationalis bahkan meletakkan isu perdagangan manusia dalam “Orientasi Strategis Caritas Internationalis 2019 – 2023”. Ini berarti, Gereja Katolik menegaskan kembali penghormatan pada martabat manusia yang luhur sebagaimana sebelumnya tertuang dalam pasal 27 Dokumen Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II.[4]

 

Sebagai wajah Gereja yang berbelarasa, Sidang Umum Caritas Internationalis menyatakan, bahwa Caritas berada untuk menjunjung tinggi martabat para korban bencana alam, para migran dan pengungsi. Caritas juga menanggulangi wabah penyakit, mengubah struktur yang tidak adil, mengadvokasi kesetaraan peluang bagi perempuan dan laki-laki, mendukung pekerjaan yang layak, memberantas perdagangan manusia dan mempromosikan perdamaian.[5]

 

Tim Caritas Asia berfoto bersama usai pelaksanaan kegiatan dialog antar agama dalam rangka 3rd National Interfaith Forum di Kamboja. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Untuk terus melawan perdagangan manusia dan sebagai bagian dari gerakan Caritas secara global, Caritas Asia dan Caritas Cambodia pada 14 – 16 Agustus 2019 yang lalu mengadakan kegiatan bersama untuk mengangkat isu perdagangan manusia dalam National Interfaith Forum yang ke-3 di Kota Phnom Penh, Kamboja. Mereka yang hadir dalam kegiatan ini adalah para tokoh agama di Kamboja, lembaga setingkat kementrian yang terkait dengan isu perdagangan manusia, perdana menteri dan para pimpinan lembaga swadaya masyarakat. Sementara dari jaringan Caritas Asia yang hadir adalah para anggota Caritas di Asia, yaitu Caritas Indonesia, Caritas India, Caritas Macau, Caritas Japan, Caritas Myanmar, Caritas Nepal, Caritas Pakistan, Caritas Sri Lanka, Caritas Thailand, Caritas Taiwan, dan Caritas Vietnam.

 

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh lembaga-lembaga Gereja yang bekerja dalam sektor anti perdagangan manusia seperti Global Sheperd Malaysia, Fountain of Life Organization Cambodia, Stella Maris International Service Center Taiwan, Episcopal Commision for Justice and Peace, dan Migration Workers’ Concern Desk Taiwan.

 

Puluhan Biksu ikut serta dalam pawai kampanye Anti Perdagangan Manusia. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Gerakan melawan perbudakan atau perdagangan manusia memang harus dilakukan secara bersama-sama, bukan hanya di dalam ruangan melainkan juga di luar ruangan dengan cara yang damai dan berkelanjutan. Caritas Indonesia bersama dengan Caritas/Komisi terkait di Keuskupan-keuskupan Indonesia pasti mampu melakukan banyak hal untuk melawan perbudakan atau perdagangan manusia. Perbudakan atau Perdagangan manusia sangat berlawanan dengan martabat manusia yang luhur. Perdagangan manusia, tak ubahnya perdagangan hati nurani.

 

—————————————————–

[1] United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC): Trafficking in Persons as the recruitment, transportation, transfer, harboring or receipt of persons, by means of the threat or use of force or other forms of coercion, of abduction, of fraud, of deception, of the abuse of power or of a position of vulnerability or of the giving or receiving of payments or benefits to achieve the consent of a person having control over another person, for the purpose of exploitation. Exploitation shall include, at a minimum, the exploitation of the prostitution of others or other forms of sexual exploitation, forced labor or services, slavery or practices similar to slavery, servitude or the removal of organs. https://www.unodc.org/unodc/en/human-trafficking/index.html

[2] ILO Background Paper “FIGHTING HUMAN TRAFFICKING: THE FORCED LABOUR DIMENSIONS”. https://www.ilo.org/global/docs/WCMS_090236/lang–en/index.htm

[3] Mely Caballero – Anthony, A Hidden Scourge: Southeast Asia’s refugees and displaced people are victimized by human traffickers, but the crime usually goes unreported. International Monetary Fund (IMF) https://www.imf.org/external/pubs/ft/fandd/2018/09/human-trafficking-in-southeast-asia-caballero.htm

[4] “…apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan, dan tidak diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang bebas dan bertanggung jawab: itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi, perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, dari pada mereka yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta.” http://www.katolisitas.org/konstitusi-gaudium-et-spes/

[5] Caritas Internationalis Strategic Framework 2019 – 2023, p. 5 and 17. “We are determined to be part of an outward looking Church, going to the peripheries. We will be there for the victims of disasters, tackling disease, changing unjust structures, upholding dignity, advocating for equal opportunities for women and men, supporting decent work, journeying with migrants and refugees, eradicating human trafficking promoting peace and caring for our common home.” “….Caritas works for policies and measures to uphold their rights, to challenge human trafficking and to foster social inclusion.”

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta